Yuli Lusiani Sari, Berbekal Belajar Dan Keyakinan Berhasil Menembus Fakultas Kedokteran

Jember, 4 Agustus 2014

Raut kebahagiaan terpancar jelas dari wajah Yuli Lusiani Sari saat ditemui di sela-sela kegiatan registrasi ulang mahasiswa baru Universitas Jember tahun 2014 di Gedung Soetardjo (23/7). Kebahagiaan Yuli sangat beralasan pasalnya impiannya untuk kuliah di Fakultas Kedokteran akhirnya tercapai. “Alhamdulillah, saya sangat bersyukur karena akhirnya diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Jember, apalagi dengan fasilitas Beasiswa Bidik Misi,” tutur gadis alumnus SMA Negeri 2 Kediri ini.

Yuli memang mahasiswa baru tahun 2014 Universitas Jember yang termasuk spesial, bersama tiga rekannya yang lain, Yuli diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Jember melalui Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dengan fasilitas Beasiswa Bidik Misi. Nantinya mahasiswa penerima Beasiswa Bidik Misi gratis kuliah selama 4 tahun dan berhak mendapatkan biaya hidup setiap bulannya.

Seperti yang diketahui, persaingan untuk masuk ke Fakultas Kedokteran termasuk sangat ketat, terlebih lagi yang mendaftar melalui fasilitas Beasiswa Bidik Misi. Dari data di Bagian Akademik Universitas Jember, pada tahun 2014 ini ada 34.947 pelamar jalur SBMPTN ke Kampus Tegalboto. Dari jumlah itu Yuli harus bersaing dengan 2.169 peserta yang mendaftar ke jurusan Pendidikan Dokter dan yang diterima hanya sebanyak 70 peserta.

Keberhasilan Yuli menembus Fakultas Kedokteran juga disyukuri oleh keluarganya. Orang tua Yuli yang tinggal di Desa Bangsongan Kecamatan Kajen Kidul, Kediri, termasuk dalam golongan keluarga yang tidak mampu. Ayah Yuli, Hientoro, bekerja serabutan, sementara yang lebih luar biasa adalah apa yang dikerjakan sang Ibu, Sri Sari, untuk menghidupi keluarga. “Ibu menjadi kondektur bus Harapan Jaya jurusan Surabaya-Tulungangung tetapi tidak tiap hari. Jika sedang tidak menjadi kondektur, Ibu berjualan pakaian dan seprei. Sebulan gabungan penghasilan Ibu dan Bapak yang bekerja serabutan berkisar satu juta setengah, tapi bisa juga kurang ,” kata gadis kelahiran 9 Juli 1996 ini.

Keterbatasan biaya ternyata tidak membuat Yuli dan orang tuanya menjadi putus asa dalam usaha mencapai cita-cita menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Mengetahui ada program Beasiswa Bidik Misi, Yuli aktif menanyakan mengenai bagaimana cara mendapatkan Beasiswa Bidik Misi melalui guru-guru di sekolahnya. “Ibu bahkan bertanya tentang seluk beluk Bidik Misi kepada tetangga yang kebetulan anaknya kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri dengan fasilitas Beasiswa Bidik Misi,” kata gadis berjilbab ini.

Perjuangan Yuli tidak berhenti di sini saja, anak kedua dari tiga bersaudara ini menyempatkan diri rutin belajar tiga jam setiap harinya. Semuan mata pelajaran dikaji mulai dari bab awal hingga akhir. “Saya juga beruntung dibiayai oleh paman untuk ikut bimbingan belajar,” kata Yuli. Sebenarnya, Yuli merasa surprise dapat diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Jember yang memang menjadi cita-citanya. Sebenarnya Yuli merasa prestasinya selama sekolah di SMAN 2 Kediri tidak terlalu mentereng. “Memang beberapa kali saya masuk dalam 10 besar di kelas, pernah juga masuk sebagai 10 peserta terbaik dalam lomba karya tulis ilmiah di Kediri, tapi menjadi yang terbaik belum pernah. Makanya kemarin tidak tembus di SNMPTN dan mendaftar di SBMPTN,” kata gadis yang bercita-cita menjadi dokter spesialis anak atau jantung.

Sebenarnya terbersit rasa ragu di hati Yuli saat memutuskan memilih Fakultas Kedokteran sebagai pilihan. Kedua orang tuanya pun sempat menyampaikan rasa khawatir terkait biaya yang nanti akan ditanggung. “Tapi saya sudah mantap masuk Fakultas Kedokteran, lagipula ada beasiswa Bidik Misi,” kata Yuli. Guru-gurunya di SMAN 2 Kediri juga mengingatkan Yuli agar tidak kecewa jika nanti gagal, mengingat persaingan masuk ke Fakultas Kedokteran sangat berat. Namun syukurlah kerja keras beserta doa kedua orangtunya berhasil mengantarkan Yuli kuliah di Kampus Tegalboto.

Keberhasilan Yuli dapat menjadi pelajaran bagi siswa-siswi yang lain yang bercita-cita untuk menimba ilmu di perguruan tinggi. Keterbatasan biaya ternyata bukan alasan meraih cita-cita asalkan mau belajar keras dan disertai keyakinan selalu akan ada jalan. Salah satunya dengan Beasiswa Bidik Misi. “Untuk kawan-kawan yang kebetulan senasib dengan saya, jangan putus asa karena jalan untuk meraih cita-cita tetap terbuka asal mau sungguh-sungguh belajar dan berdoa,” tutur Yuli. (Iim,Mj)

Leave us a Comment