Wisuda, Upacara Kelulusan dan Melepas Kerinduan

Jember, 11 Februari 2016

            Seperti biasa, upacara wisuda di Universitas Jember periode III tahun akademik 2015/2016 dipenuhi wajah-wajah gembira. Para wisudawan gembira karena sudah berhasil menyelesaikan studi di kampus Tegalboto. Ketekunan dan kerja keras mereka berbuah manis, pada hari Kamis, 11 Februari 2016 Rektor Universitas Jember, Moh. Hasan mewisuda 800 wisudawan di gedung Soetardjo. Sementara itu keluarga turut gembira karena orang-orang terkasihnya telah berhasil melampaui satu tahapan penting dalam hidupnya.

Namun ada juga orang-orang yang gembira bukan saja karena bersyukur orang-orang terkasihnya sukses, lebih dari itu mereka gembira karena setelah sekian terpisah, akhirnya mereka bisa bertemu kembali. Menuntut ilmu memang memerlukan pengorbanan, termasuk harus berkorban harus jauh dari keluarga. Moment wisuda lah yang kemudian menyatukan mereka kembali.

Seperti yang dirasakan oleh Beti. Ibu rumah tangga asal kota Dili, Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) ini akhirnya bertemu sang suami setelah dua tahun lamanya berpisah. Sang suami, Joao Mau Pelu, menuntut ilmu di kampus Tegalboto. Hambatan jarak dan biaya membuat Beti terpaksa memendam kerinduan untuk bertemu sang suami. “Saya sangat senang sekali bisa bertemu suami diacara wisuda hari ini, dua tahun lebih kami hanya berkomunikasi lewat saluran handphone tapi kami berdua saling bersabar karena saya tahu suami sedang belajar,” ujar ibu dari tiga anak ini.

 Sang suami Joao Mau Pelu adalah pegawai negeri yang bertugas di dinas pendidikan kota Dili. Jauh-jauh datang dari negara yang dulunya adalah provinsi Indonesia, Joao memilih kuliah di Program Pascasarjana Magister Linguistik Fakultas Sastra Universitas Jember. Walaupun dalam wisuda hanya didampingi sang istri tercinta, tanpa kehadiran ketiga buah hatinya, tidak mengurangi kegembiraan Joao dan Beti. Rona kegembiraan terpancar jelas dari raut muka keduanya.

Harus hidup terpisah jarak ribuan kilometer antara Dili dan Jember dirasakan oleh Joao sebagai tantangan, untungnya Joao bersyukur memiliki keluarga yang mendukung. Dukungan itu seperti yang diceritakan oleh sang istri, Beti. “Saya selalu berdoa kepada Tuhan agar melindungi kami semua, tak lupa memberikan dukungan agar suami selalu sukses. Saya ingin agar suami tahu bahwa dia tidak berjuang sendiri,” ujar Beti yang siang itu nampak cantik dengan baju putih dan rok hitam.

Dukungan Beti untuk kesuksesan sang suami tidak main-main. Perempuan berambut ikal ini berharap, suaminya tidak lantas berpuas diri setelah meraih gelar master. “Saya berharap suami bisa melanjutkan studi ke strata tiga, karena itu adalah suatu kebanggaan toh. Gelarnya nanti juga untuk keluarga,” pungkasnya sambil tertawa lepas tanda bahagia. (mun/iim).

Leave us a Comment