Universitas Jember Usul Pemkab Jember Bangun Pujasera dan Fasilitas Parkir Di Wilayah Kampus

PKL_UNEJ

Jember, 25 Agustus 2017

Agung Purwanto, Kepala Humas dan Protokol Universitas Jember, mengusulkan agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember membangun Pujasera (Pusat Jajanan Serba Ada) dan fasilitas parkir di wilayah kampus sebagai solusi masalah PKL (Pedagang Kaki Lima). Usulan ini disampaikan oleh Agung Purwanto saat menjadi pembicara dalam acara “OPSI, Opini dan Aspirasi” yang diadakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) Jember, Jumat (25/8).  Turut hadir pula dalam talkshow radio kali ini, M. Samsu Rizal, Kepala Bidang Penegakan Produk Hukum Daerah, Satuan Polisi Pamong Praja, Pemkab Jember.

Menurut Agung Purwanto, sebenarnya usulan membangun Pujasera dan fasilitas parkir sudah muncul sebagai salah satu solusi mengatasi PKL di kawasan kampus di masa pemerintahan bupati MZA. Djalal, namun belum sempat diwujudkan. Usulan ini menurut pria yang juga dosen di FISIP ini patut dipertimbangkan di saat wacana penataan PKL wilayah kampus mengemuka kembali. Seperti diketahui, Pemkab Jember melalui Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga, dan Sumber Daya Air berencana memperbaiki trotoar dan drainase di sepanjang jalan Kalimantan, Jawa dan Mastrip yang selama ini menjadi kampus dari beberapa perguruan tinggi di Jember. Perbaikan ini mengharuskan PKL di wilayah kampus berhenti beroperasi.

“Konsepnya membangun Pujasera yang bakal menampung PKL, sekaligus memiliki fasilitas parkir. Nantinya semua kendaraan yang akan parkir di seputaran jalan Jawa dan Kalimantan wajib parkir di sana, mirip aturan yang diterapkan di Malioboro, Yogyakarta yang menerapkan sistem ramah pejalan kaki.  Pemkab misalnya bisa menggunakan gedung yang ada di wilayah kampus seperti kantor Badan Pemberdayaan Masyarakat atau Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil sebagai Pujasera dan gedung parkir, sementara Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil pindah ke lokasi lain,” jelas Agung Purwanto.

Agung Purwanto berpendapat cara ini lebih tepat daripada merelokasi PKL ke lokasi lain yang besar kemungkinan bakal mendapatkan penolakan. Selain itu dengan adanya Pujasera dan fasilitas parkir, maka Pemkab Jember juga akan mendapatkan pemasukan dari sewa tempat dan parkir. Tak lupa Agung Purwanto menghimbau agar para pedagang PKL juga bersedia bekerjasama sebab selama ini mereka pada hakikatnya melanggar aturan daerah dengan berjualan di trotoar atau badan jalan. “Nantinya Pemkab bisa bekerjasama dengan pihak swasta untuk membangun Pujasera dan fasilitas parkir dengan perjanjian tertentu, setelah dibangun dan digunakan oleh pihak swasta,  lantas diserahkan kepada Pemkab Jember. Adanya Pujasera dan fasilitas parkir akan membuat wilayah kampus dan sekitarnya lebih tertib serta aman,” imbuhnya lagi.

Usulan Agung Purwanto disambut positif oleh M. Samsu Rizal. Dirinya berjanji bakal meneruskan usulan ini kepada pihak-pihak terkait di Pemkab Jember. Menurutnya Pemkab Jember bermaksud menata PKL di semua wilayah, tidak hanya di seputaran daerah kampus. “Usulan dari Universitas Jember akan kami pertimbangkan sebagai salah satu solusi menata PKL di wilayah kampus. Untuk menata memang PKL diperlukan komunikasi yang baik dan kerjasama dengan semua pihak,” kata M. Samsu Rizal. Sementara itu menurut Yanto Effendi dari RRI Jember, sebenarnya pihaknya telah berusaha mengundang perwakilan PKL di daerah kampus untuk turut hadir dalam talkshow ini, namun belum ada respon. “Kami berencana untuk mengundang semua pihak yang terkait dengan masalah PKL, termasuk Bupati Jember dan anggota DPRD Jember di kesempatan selanjutnya,” pungkasnya. (iim)