Universitas Jember Sosialisasikan SNI Pertanian Organik

kades_karangrejo_UNEJ_2-768×512

Hingga saat ini hampir atau bahkan seluruh manusia di dunia ini bahan makannya dihasilkan oleh Petani atau bidang Pertanian. Oleh karena itu, pertanian juga harus bertujuan UAS (untung, aman dan sejahtera) sehingga berkelanjutan.

13/1/2019 Datang ke desa dengan interaksi langsung dengan masyarakat merupakan hal yang paling menyenangkan bagi peneliti, khususnya kelompok riset (keris) Soil Biodiversity and Fertility (SBF), hal tersebut tercermin saat peneliti UNEJ yang beranggotakan Dr. Ir. Sugeng Winarso, M.Si., Dr. Ir. Marga Manadala, MP.,, Ayu Puspita Arum, S.TP., M.Sc., dan Dr. Isa Ma’rufi, M.Kes melaksanakan Focus Group Disscusion (FGD) tentang Penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI 6729:2016) pada Wirausaha Pertanian Organik untuk Meningkatkan Pendapatan dan Mendukung Desa Wisata Ramah Lingkungan yang bertempat di balai Desa Karangrejo Kecamatan Gumuk Mas Jember.

“UNEJ sebuah lembaga yang besar yang memiliki hampir 2.000 dosen dari berbagai bidang dan keahlian serta lebih dari 30.000 mahasiswa yang berasal dari berbagai tempat, sehingga perlu mendesiminasikan hal-hal baik dari Dosen dan Mahasiswa tersebut untuk berbagai bidang dan lokasi”, hal tersebut dikatakan Sugeng Winarso dihadapan Pemerintah Desa dan Kelompok Petani Mulyo 06 Desa Karangrejo.

Sementara itu Kepala Desa Karangrejo M. Nurul Huda mengatakan” Atas nama Pemerintah Desa Karangrejo kami sangat menyambut baik kegiatan Pengabdian Masyarakat yang dilakukan oleh pihak UNIVERSITAS JEMBER, dengan terjalinnya sebuah kerjasama ini kami berharap percepatan pembangunan baik sumberdaya manusia maupun infrastruktur yang dibutuhkan masyarakat akan segera terwujud”.

“Kami yakin Perguruan Tinggi UNEJ memiliki sumber daya manusia yang intelektual, handal, kreatif dan inovatif, kami berharap pihak UNEJ bisa menularkan kepada Masyarakat kami, sehingga bisa mengelola potensi-potensi yang ada di Desa Karangrejo secara Mandiri”, pungkas kepala desa muda yang terus berinovasi pemberdayaan masyarakat didesanya.

Dalam pemaparan selanjutnya Sugeng Winarso mengatakan” sebagian besar lahan-lahan pertanian kita saat ini cenderung menurunkan kadar bahan organik hingga rendah bahkan sangat rendah karena proses alam tropika yang panas dan lembab, sehingga proses-proses penghancuran relative cepat. Dengan hal tersebut, bahan organik atau karbon (C) di dalam tanah yang mempunyai fungsi lengkap dan tidak tergantikan di tanah atau lingkungan pindah (emisi) ke udara. Dampaknya merugikan baik tanah/lahan yang ditinggalkan C dan atmosfer (udara) yang dituju. Fungsi-fungsi baik bahan organic sebagai sumber makanan organisme, membuat struktur tanah gembur yang disenangi organisme dan infiltrasi air cepat, sebagai Gudang nutrisi tanaman, dan mempu memfilter dan menyangga bahan-bahan asing yang merugikan; akan berkurang sehingga tanah menjadi kurang subur. Demikian juga di atmofer, bertambahnya C menjadikan suhu udara makin panas, atau sering disebut efek rumah kaca. Oleh karena itu mari kita bertani dengan menerapkan prinsip-prinsip pertanian organic”.

 “Langkah awal nantinya kita akan melakukan identifikasi lahan pertanian dan kita masukan dalam google maps, sehingga jika diketikan di pencarian internet dengan kata kunci “Karangrejo” maka akan muncul sawah-sawah organik di desa karangrejo, khususnya yang menerapkan sistem pertanian organik”, katanya.

Selain itu Marga Mandala menambahkan bahwa bertani secara organik apakah dapat membawa keuntungan? padahal bertani itu harus untung, aman dan sejahtera hal ini perlu kita diskusikan secara bersama.

“Tanah – tanah kita sudah biasa kita beri makan sehingga tanah kita menjadi tidak aktif padahal fungsi tanah itu seharusnya memasak yang mengasilkan makanan bagi tanaman, maka secara prinsip kita harus mulai beralih ke organik”, ungkapnya.

“Bertani secara organik juga ikut menjaga kelestarian lingkungan”, imbuhnya.

Acara selanjutnya pemaparan dari Ayu Puspita Arum terkait cara membuat mikro oraginasme local (MOL), Pembuatan Insektisida Organik yang sangat dicermati oleh para petani.