Universitas Jember Kukuhkan Tiga Profesor

Jember, 12 Oktober 2016

Universitas Jember mengukuhkan tiga orang profesornya. Mereka adalah dua orang profesor dari Fakultas Ilmu Budaya, yakni Prof. Drs. Nawiyanto, MA., Ph.D., sebagai profesor dalam bidang sejarah ekonomi dan ilmu lingkungan pada Jurusan Sejarah, dan Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., profesor dalam Ilmu Sastra Indonesia pada jurusan Sastra Indonesia. Serta Prof. Dr. Ir. Bambang Sujanarko, M.M., profesor dalam bidang Teknik Elektro pada Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Jember. Ketiganya dikukuhkan oleh Rektor, Drs. Moh. Hasan, M.Sc., PhD dalam rapat terbuka senat Universitas Jember di gedung Soetardjo (12/10).

 Dalam sambutannya, Rektor mengharapkan agar para profesor yang baru dikukuhkan dapat menjadi lentera bagi program studinya dan lingkungan sekitarnya. “Keberadaan seorang profesor harus mampu membawa dampak positif bagi pengembangan keilmuan, menjadi pembimbing bagi kolega dan guru bagi mahasiswanya,” urai Moh. Hasan. Rektor lantas menegaskan bahwa Universitas Jember terus mendorong dan memberikan fasilitas bagi para dosen agar mampu mencapai jabatan akademik tertinggi, yakni profesor. “Kami mengapresiasi para profesor yang hari ini dikukuhkan, karena jabatan profesor diraih dengan kerja keras dan penuh pengorbanan,” tambahnya lagi.

 Profesor Sejarah Ekonomi dan Lingkungan Pertama di Indonesia

                Profesor pertama yang dikukuhkan adalah Prof. Nawiyanto. Istimewanya, pria asal Klaten ini tercatat sebagai profesor bidang sejarah ekonomi dan lingkungan yang pertama di Indonesia. Dalam bincang-bincang dengan tim Bagian Humas dan Protokol yang dilakukan sehari sebelumnya, Nawiyanto menjelaskan jika pilihan menekuni sejarah ekonomi dan lingkungan tidak lepas dari posisi Kampus Tegalboto yang berada di Jember yang merupakan daerah pertanian dan perkebunan. “Saat menempuh kuliah master dan doktoral di Australian National University, setiap kandidat diminta untuk meneliti bidang yang memiliki kaitan langsung dengan kondisi di Indonesia. Karena saya bekerja di Universitas Jember, maka saya tertarik menekuni bidang sejarah ekonomi dan lingkungan,” ujar dosen yang desertasinya mengenai sejarah perkebunan dan pertanian di Besuki ini.

                 Ternyata pilihan menekuni bidang sejarah ekonomi dan lingkungan membawa Nawiyanto kepada jabatan akademik tertinggi di perguruan tinggi, sebagai profesor. Dalam pidato ilmiahnya berjudul “Historiografi Lingkungan : Konteks, Praktek Dan Prospeknya Di Indonesia”, Nawiyanto menjelaskan apa, bagaimana dan manfaat bidang studi sejarah ekonomi dan lingkungan. “Bidang ini memang baru berkembang di Indonesia pada era tahun 1990-an, namun memiliki signifikansi dengan kondisi Indonesia yang merupakan negara agraris dan rawan bencana,” ujar bapak satu putri ini.

                Nawiyanto lantas mencontohkan manfaat kajian sejarah ekonomi dan lingkungan, di bidang sejarah bencana alam yang kerap melanda Indonesia. Kajian mengenai sejarah bencana alam dapat menjadi lonceng peringatan yang diharapkan membangun kesadaran masyarakat, sekaligus menjadi reservoir kearifan sejarah. “Jika selama ini sejarah lekat dengan masa lalu, maka sejarah ekonomi dan lingkungan selalu terkait dengan masa kini dan membuka kolaborasi dengan disiplin ilmu lainnya,” tambahnya lagi.

 Prof. Novi Anoegrajekti : Gandrung Akan Kesenian Gandrung

                Profesor kedua yang dikukuhkan hari itu adalah Prof. Novi Anoegrajekti yang berasal dari Jurusan Sastra Indonesia FIB Universitas Jember. Guru besar yang akrab disapa Mbak Novi ini terkenal sebagai peneliti kesenian dan budaya Using. Tidak heran jika di upacara pengukuhannya, hadir para seniman dan budayawan dari Banyuwangi, salah satunya budayawan Using senior Hasnan Singodimayan. Boleh dikata Novi adalah profesor yang gandrung akan kesenian gandrung dari Banyuwangi. Prof. Novi membacakan pidato ilmiah berjudul “Optimalisasi Seni Pertunjukan, Kontestasi Negara, Pasar, Dan Agama”.

                 Profesor kelahiran Malang ini lantas memaparkan tulisan ilmiahnya mengenai hubungan antara negara, pasar dan agama dengan budaya Using. Ada lima kesenian Banyuwangi yang ditelitinya, yakni gandrung, kuntulan, janger, barong, dan mocoan. “Kelima seni pertunjukan tadi memiliki kualitas relasi dengan negara, pasar, dan agama secara beragam. Banyuwangi menempatkan kelima seni pertunjukan sebagai identitas wilayah untuk mendukung pariwisata,” jelas Novi.

                 Sebagai simpulan, menurut Novi lima seni pertunjukan Banyuwangi memiliki dinamika yang beragam. Hanya janger yang sengaja dicipta sebagai seni pertunjukan teater tradisional. Gandrung pada mulanya sebagai media perjuangan, kuntulan dan mocoan menjadi media dakwah Islam, dan barong sebagai media ritual. Negara menempatkan seni pertunjukan sebagai identitas wilayah yang mendukung pariwisata. Kehadiran negara diperlukan untuk memproteksi dan mengadvokasi, utamanya yang berkaitan dengan ketentuan kontrak atau perjanjian kerja dengan pemodal. “Dalam kaitannya dengan agama, pelaku seni merindukan kehadiran pemuka agama atau ulama yang berbelarasa,” tambahnya.

Elektronika Daya Untuk Energi Terbarukan

                Profesor ketiga yang dikukuhkan adalah Prof. Bambang Sujanarko. Guru besar di bidang elektronika daya ini menjelaskan mengenai masa depan konsumsi energi di Indonesia. Menurut Bambang Sujanarko, konsumsi energi listrik di Indonesia akan makin membesar sejalan dengan perkembangan ekonomi Indonesia. “Problemanya, sumber energi listrik yang kita pakai 89 persen berasal dari bahan bakar fosil seperti minyak dan batubara, hanya 11 persen yang berasal dari energi terbarukan,” tutur bapak dua anak ini.

                 Dalam pidato ilmiahnya yang berjudul “Peran Elektronika Daya Dalam Peningkatan Efisiensi Energi Listrik Dan Implementasi Energi Terbarukan”, Bambang lantas menawarkan penggunaan pembangkit listrik yang memanfaatkan energi air, angin, sinar matahari, ombak dan lainnya. “Masalahnya, energi terbarukan seperti air, angin, sinar matahari dan lainnya memiliki karakteristik yang tersebar, variatif dan fluktuatif, sehingga perlu sistem yang dapat mengintegrasikan, mengkondisikan, dan menstabilkan energi listrik hasil konversi. Nah di sinilah elektronika daya berperan,” ujar profesor asal Nganjuk ini. (iim)

Leave us a Comment