Universitas Jember Gelar Sholawat Nariyah Untuk Keselamatan Bangsa

Jember, 24 Oktober 2016

salawatan_unej

Ratusan peserta yang terdiri dari sivitas akademika Universitas Jember dan masyarakat sekitar kampus Tegalboto larut dalam pembacaan Sholawat Nariyah yang digelar di Gedung Soetardjo (23/10). Kegiatan pembacaan Sholawat Nariyah bersama ini bertajuk Sholawat Nariyah Untuk Keselamatan Bangsa ini digelar dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh pada setiap tanggal 22 Oktober. Pembacaan Sholawat nariyah dipimpin oleh KH. Muhyiddin Abdusshomad, pengasuh Pondok Pesantren Nurul islam yang juga Rais Syuriyah PCNU Jember.

Dalam sambutannya Moh. Hasan, Rektor Universitas Jember mengatakan, pembacaan Sholawat Nariyah bersama adalah bagian dari mensyukuri nikmat kemerdekaan Republik Indonesia yang diperjuangkan segenap komponen bangsa Indonesia, salah satunya kalangan santri. “Sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, tanggal 22 Oktober ditetapakan sebagai hari Santri Nasional. Acara ini adalah bagian dari peringatannya, bukan maksud untuk mengeklusifkan kaum santri namun lebih pada menghargai perjuangan kaum santri dalam mempertahankan kedaulatan NKRI,” ujarnya. Hasan juga mengatakan pembacaan Sholawat Nariyah dimaksudkan untuk kebaikan.bersama kampus Universitas Jemberr serta bangsa dan Negara Indonesia.

Sebelum acara pembacaan Sholawat Nariyah dimulai, segenap hadirin mendapatkan santapan rohani yang disampaikan oleh KH. Hasan Basri, pengasuh Pondok Pesantren Al Mubarok Al Ma’arif. Dalam tausiyahnya, KH. Hasan Basri mengingatkan hadirin bahwa sosok santri mengandung tiga hal utama. “Kata santri itu bisa diuraikan menjadi San dari kata Insan, dan Tri yang berarti tiga. Jadi, santri adalah sosok yang memiliki tiga kapasitas, yakni iman yang kuat, pemahaman akan syariat yang baik, serta ahlakul karimah,” tuturnya.

KH. Hasan Basri lantas menlajutkan penjelasannya. Dengan tiga hal tadi, maka Insyaallah seseorang akan mampu menghadapi berbagai permasalahan yang menghadang. “Baru saja kita lihat ada fenomena bagaimana banyak orang yang terpikat oleh oknum yang mengaku mampu menggandakan uang. Hal ini tidak mungkin terjadi jika seseorang memiliki iman yang kuat, dan pemahaman akan syariat yang baik,” tambah KH. Hasan Basri. Acara kemudian diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh KH. Khairul Mustajab, pengasuh Pondok Pesantren Darun Najah Al Irfani dan KH. Misrawi dari Pondok Pesantren Ath Thoybah. (mun/iim)

Leave us a Comment