Universitas Jember Canangkan Diri Sebagai Perguruan Tinggi Tanggap Bencana

SiagaBencana1

Jember, 26 April 2017

Universitas Jember kini resmi mencanangkan diri sebagai perguruan tinggi tanggap bencana. Pencanangan ini ditandai dengan apel kesiapsiagaan bencana, pemasangan fasilitas pendukung tanggap bencana, dan simulasi evakuasi mandiri. Keseluruhan kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN), yang diperingati setiap tanggal 26 April. Apel kesiapsiagaan bencana diikuti oleh kurang lebih 250 peserta yang terdiri dari Mahasiswa Tanggap Bencana, Satuan Resimen Mahasiswa (Menwa), Pramuka, mahasiswa pecinta alam, Korps Sukarela PMI (KSR PMI), serta anggota Satuan Pengamanan (Satpam). Bertindak sebagai pembina apel yang diadakan di halaman depan gedung rektorat (26/4) adalah Wachju Subchan, Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum dan Keuangan.

Menurut Wachju Subchan, sebagai negara yang berada di cincin api Pasifik, serta berada di pertemuan tiga lempeng tektonik besar, maka Indonesia termasuk negara rawan bencana. “Bencana dapat terjadi kapan saja dan dimana saja, oleh karena itu yang wajib ditumbuhkembangkan adalah kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Sadar akan tantangan ini, maka Universitas Jember memulai berbagai usaha membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana, khususnya di kalangan sivitas akademika kampus Tegalboto,” jelas  Wachju Subchan. Dalam kesempatan ini Wakil Rektor II menyematkan secara simbolis syal kesiapsiagaan bencana kepada perwakilan Mahasiswa Tanggap Bencana, Menwa, Pramuka, mahasiswa pecinta alam, KSR PMI, serta anggota Satpam, yang bakal menjadi pelopor kesiapsiagaan bencana di fakultas dan unit kerja masing-masing.

Wachju Subchan juga menegaskan, sebagai institusi pendidikan tinggi, Universitas Jember memiliki potensi berupa para ahli, penguasaan teknologi serta keberadaan para mahasiswa yang dapat menjadi agent of change dalam berbagai bidang. Kelebihan tadi membuat Universitas Jember harus menjadi pelopor, termasuk dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana. Salah satu langkah yang bakal ditempuh antara lain dengan mendorong mahasiswa menjadi agent of change kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. “Misalnya saja materi mengenai kesiapsiagaan menghadapi bencana diajarkan kepada mahasiswa FKIP yang memang ditempa sebagai calon guru. Harapannya materi kesiapsiagaan menghadapi bencana juga bakal diajarkan kepada anak didiknya. Program serupa juga bisa diberikan kepada mahasiswa yang akan menjalani program Kuliah Kerja Nyata,” ujar Wakil Rektor II yang juga dosen di FKIP ini.

Sementara itu Joko Mulyono, pembina Mahasiswa Tanggap Bencana Universitas Jember menuturkan selain menggelar apel kesiapsiagaan bencana, peringatan HKBN kali ini diisi dengan pemasangan fasilitas pendukung tanggap bencana berupa tulisan jalur evakuasi, titik kumpul, serta sirine di sepuluh lokasi di kampus Tegalboto. Pihaknya juga melaksanakan simulasi evakuasi mandiri bencana di sepuluh lokasi tersebut. “Nantinya secara bertahap semua gedung dan fasilitas di kampus Tegalboto bakal dilengkapi fasilitas pendukung tanggap bencana. Selain itu, setiap bulan pada tanggal 26 akan ada latihan rutin kesiapsiagaan bencana agar keluarga besar Universitas Jember makin siap dan tanggap menghadapi bencana,” imbuhnya. (iim)

Blog Attachment