Universitas Jember Bersama Desa Binaan Akan Mendirikan Kampung Batik

Rilis-Batik_UNEJ-768×432

Jember, 4 Maret 2019

Rudik Zainuddin Kepala Desa Dawuan Mangli Jember berencana akan mendirikan kampung batik di Desa Dawuan Mangli. Rencana itu muncul setelah dirinya melihat potensi sektor ekonomi yang dimiliki oleh sehelai kain batik. Rudik mengaku bersyukur karena desanya terpilih sebagai desa binaan Universitas Jember dalam bidang pengembangan batik khas Jember.

“Dulu sebelum dibina oleh Universitas Jember Dawuan Mangli hanya dikenal dengan tempat produksi sangkar. Namun sejak diadakan pelatihan membatik untuk ibu-ibu oleh Universitas Jember kini masyarakat mulai melirik usaha batik,” ujar Rudik saat menghadiri fashion show dan pameran produk batik khas Jember produksi masyarakat Dawuan Mangli di Lippo Mall Jember, (3/3).

Rudik mengaku, minat masyarakat Dawuan Mangli terhadap batik khas Jember sangat besar. Sejak diadakan pelatihan oleh Universitas Jember kini jumlah pembatik di Dawuan Mangli terus bertambah.

“Tentunya mereka ini harus diberikan ruang, khususnya bidang pemasaran. Oleh karena itu kami berencana akan mendirikan kampung batik. Konsepnya adalah menciptakan suatu kampung wisata edukasi terkait proses produksi batik dari awal hingga menjadi sebuah baju bernilai ekonomi tinggi,” imbuh Rudik.

Rudik mengatakan, adanya kampung batik ini dapat menarik masyarakat untuk berdharma wisata ke Dawuan Mangli khususnya bagi mereka yang ingin mengetahui batik secara lebih dalam. Menurutnya, kehadiran wisatawan ke Dawuan Mangli tentu akan memberikan efek domino bagi masyarakat.

“Yang pasti jika semakin banyak wisatawan yang hadir tentu akan memberikan dampak ekonomi yang positif bagi masyarakat, mulai dari kuliner, pusat oleh-oleh ataupun sektor lain yang masih bisa dikembangkan,” imbuhnya.

Rudik berharap masyarakat Universitas Jember bisa terus melakukan pendampingan khususnya pada bidang pemasyaran. Karena menurutnya, kelemahan masyarakat ada pada bidang pemasaran

“Kalau hanya buat saya yakin dilatih sebentar mereka sudah bisa. Tetapi pemasaran belum tentu bisa. Jangan sampai bisa membuat tetapi tidak bisa menjual. Karena ini adalah program KKN yang terbatas waktu saya harap pembinaan masih bisa terus dilanjutkan hingga masyarakat benar-benar mandiri,” pungkas Rudik. [moen,is]