Universitas Jember Bentuk Komisi Klirens Etika

Jember, 21 April 2014

Lembaga Penelitian Universitas Jember (Lemlit) akan segera membentuk Komisi Klirens Etika (Ethical Clearance). Komisi tersebut nantinya akan bertugas melakukan review dari peneletian yang akan dilakukan oleh para peneliti, Ungkap ketua Lemlit Universitas Jember, Prof. A. Subagio, PhD diacara pembukaan Workshop “Membangun Budaya Dan Etika Penelitian” yang dilaksanakan di gedung KAUJE Universitas Jember (16-17/04).

Pada kesempatan itu Prof. Subagio menyampaikan, ada etika-etika yang harus dipatuhi oleh para peneliti dalam melakukan penelitian. Menurutnya, khusus untuk penelitian yang menggunakan obyek binatang maupun manusia, harus ada sertifikat yang menjelaskan bahwa secara etis penelitian tersebut tidak akan menimbulkan masalah.

Terkait dengan hal itu Lembaga Penelitian Universitas Jember (Lemlit) akan segera membentuk sebuah komisi yang berwenang untuk mengeluarkan sertifikat Klirens Etika. Menurut Prof. Subagio, Klirens Etika (Ethical Clearance) adalah suatu instrumen yang digunakan untuk menjelaskan status kesesuaian dan keberterimaan praktek dalam penelitian yang menggunakan objek berupa binatang dan manusia. Klirens etika menjadi alat untuk mengukur keberterimaan suatu rangkaian proses penelitian tersebut.

“Sertifikat Klirens Etika sangat diperlukan untuk para peneliti yang menggunakan obyek berupa binatang maupun manusia terutama saat melakukan publikasi ke jurnal internasional itu harus dilampirkan” ungkap Prof. Subagio. Dia juga menyampaikan, untuk mendukung kegiatan penelitian dalam bidang tersebut, Lembaga Penelitian Universitas Jember (Lemlit) sedang mempersiapkan Komisi yang berwenang untuk mengeluarkan sertifikat Klirens Etika untuk para peneliti.

Menurutnya, dengan terbentuknya komisi itu peneliti yang ada di Universitas Jember dan sekitarnya manakala memerlukan sertifikat klirens etika tidak perlu jauh-jauh ke UGM maupun Universitas lain yang sudah punya karena di Universitas Jember sudah ada. “Komisi ini akan sangat membantu para peneliti karena nantinya mereka tidak perlu jauh-jauh untuk mendapatkan sertivakat klirens etika,” imbuh Prof. Subagio.

Komisi klirens etika ini akan diisi oleh 25 orang dosen professional yang merupakan utusan dari Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, FKM, Farmasi, Keperawatan, Pertanian, Mipa, Teknolotgi Pertanian dan FKIP Biologi. Mereka semua merupakan perwakilan dari masing-masing fakultas yang memang disiapkan untuk bisa bekerja secara professional.

Mereka nantinya bertugas untuk melakukan review dari peneletian yang akan dilakukan oleh peneliti. Sehingga manakala penelitian itu dianggap layak untuk diterbitkan sertifikat klirens etika maka segara diterbitkan.

“Proses review akan membantu peneliti dalam menghindari kesalahan dan penyalahgunaan penelitian yang berujung pada pelanggaran kode etika peneliti ,” pungkas Prof. Subagio. Selain itu menurutnya, review juga akan membantu peneliti dalam memelihara pemahaman kaidah etika dan mengatasinya sebelum menjadi masalah etika.

Dalam acara yang berlangsung selama dua hari tersebut juga dihadiri oleh Prof. Dr. Ir. Benyamin Lakitan staf ahli Menteri Negara Ristek Bidang Pangan dan Pertanian. Prof. Benyamin hadir untuk melakukan sosialisasi Pedoman Penyusunan Kode Etik Pelaku Penelitian. Hadir pula sebagai pemateri Prof. Dr. Ir. Muhamad Hakimi, Sp. Og(K) Ph.D yang merupakan ketua Komisi Etik FK UGM yang menyampaikan materi Etika dalam Penelitian Hayati. (Mj)

Leave us a Comment