Universitas Jember Bekerjasama Dengan Institut de Recherche pour le Developpement (IRD) Perancis, Kembangkan Bioteknologi Dengan Sister Lab

UNEJ-IRD-1-768×576

Jember, 16 Agustus 2018

Universitas Jember terus mengembangkan bidang bioteknologi di bidang pertanian dan kesehatan. Kali ini langkah strategis yang diambil adalah bekerjasama dengan Institut de Recherche pour le Developpement (IRD) Perancis. Salah satu kerjasama yang sudah dan tengah dilaksanan adalah penelitian mengenai genome editing pada padi guna pengembangan padi tahan bakteri xanthomonas. Penelitian genome editing pada padi dimotori oleh para peneliti Kampus Tegalboto yang tergabung dalam Kelompok Riset (KeRis) Plant Health (kesehatan tanaman). Penelitian genome editing pada padi khususnya, dan pada tanaman lain semisal tebu, singkong, dan kopi, diharapkan akan menghasilkan bibit tanaman yang tahan penyakit dan memiliki produktivitas tinggi. Kerjasama dengan IRD Perancis sekaligus mendukung pendirian Pusat Unggulan Institusi-Perguruan Tinggi (PUI-PT) Bioteknologi Tanaman Industri di Universitas Jember yang tengah dirintis.

Menurut Tri Chandra Setiawati, ketua KeRis Plant Health, kerjasama di bidang penelitian yang dijalin meliputi publikasi ilmiah, serta pengembangan Sister Lab dengan IRD Perancis. “Dengan adanya kerjasama Sister Lab, maka peneliti Universitas Jember dapat melaksanakan penelitian di fasilitas laboratorium IRD, termasuk kesempatan mempublikasikan penelitian di jurnal ilmiah terakreditasi di Perancis, begitu pula sebaliknya,” jelas Tri Chandra Setiawati yang juga dosen di Fakultas Pertanian Universitas Jember ini. Untuk lebih mengaktualisasikan kerjasama antara Universitas Jember dengan IRD, maka diadakan penandatanganan nota kesepahaman aksi (Memorandum of Action/MoA) antara Tri Chandra Setiawati, mewakili KeRis Plant Health Universitas Jember dengan Sebastien Cunnac, mewakili IRD Perancis di aula lantai 2 gedung Rektorat (14/8).

Selain menandatangani MoU, Sebastien Cunnac juga memberikan workshop bagi peneliti bioteknologi (15/8), serta memperkenalkan apa itu bioteknologi kepada para guru mata pelajaran biologi di Jember, dan Banyuwangi (16/8). Dalam  kegiatan workshop yang diadakan di Gedung CDAST lantai 4, Sebastien Cunnac membimbing 30 peneliti yang merupakan dosen di Universitas Jember, Universitas Airlangga, Universitas Mulawarman, IAIN Jember, dan IKIP Jember, untuk belajar memanfaatkan platform penelitian Benchling yang dewasa ini banyak digunakan untuk penelitian di bidang bioteknologi. “Benchling adalah platform penelitian yang banyak digunakan untuk pelacakan sampel, serta memetakan dan mengedit gen. Dengan menggunakan Benchling maka peneliti bioteknologi dapat memperkirakan hasil penelitiannya sebelum turun langsung ke laboratorium,” tutur Sebastien Cunnac yang pakar bakteri ini.

Sementara itu menurut Erlia Narulita, salah seorang peneliti KeRis Plant Health, pihaknya sengaja mengundang 30 guru mata pelajaran biologi agar mengetahui apa itu bioteknologi dan perkembangan terbaru apa saja di bidang bioteknologi. “Selama ini kami banyak mendapatkan pertanyaan mengenai bioteknologi dari para guru mata pelajaran biologi, karena pembahasan mengenai bioteknologi sudah mulai muncul di buku mata pelajaran biologi, bahkan menjadi soal dalam olimpiade-olimpiade Biologi. Kami juga berharap keberadaan KeRis Plant Health memberikan manfaat langsung bagi pihak di luar kampus, contohnya bagi para guru biologi yang hari ini hadir,” kata Erlia Narulita yang awal tahun 2018 lalu mengadakan penelitian genome editing padi di laboratorium IRD yang ada di kota Montpellier, Perancis.

Tidak hanya memberikan kesempatan mendapatkan ilmu dari pakar bioteknologi secara langsung bagi para guru, para peneliti KeRis Plant Health juga sedang menyempurnakan e-comic mengenai bioteknologi yang rencananya bisa  diunduh melalui playstore dalam waktu dekat. “Kami juga tengah merancang game Bioteknologi dan permainan laboratorium bioteknologi virtual bagi siswa SMP, harapannya akan muncul pemahaman akan bioteknologi di kalangan siswa kita, sebab bioteknologi adalah salah satu jawaban bagi permasalahan di bidang pertanian, pangan dan kesehatan di masa depan,” pungkas Erlia Narulita yang sehari-harinya adalah dosen di Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jember ini. (iim)