Universitas Jember Bantu Pesantren Kembangkan Pendidikan Umum

UNEJ-IAIDA-3-768×512

Jember, 17 Oktober 2018

                Universitas Jember berkomitmen turut membantu dunia pesantren mengembangkan pendidikan umum di lembaga pendidikan yang diasuh oleh pesantren. Komitmen ini disampaikan langsung oleh Prof. M. Sulthon, Wakil Rektor III bidang Perencanaan, Sistem Informasi, dan Hubungan Masyarakat, saat menerima kunjungan Ahmad Munib Syafa’at, Rektor Insitut Agama Islam Darussalam (IAIDA), Blok Agung, Banyuwangi (17/10). Menurut Prof. M. Sulthon, sebagai salah satu lembaga pendidikan di Indonesia, pesantren telah membuktikan diri turut aktif berkontribusi mencerdaskan kehidupan bangsa dengan kemampuan swadaya yang dimiliki. Oleh karena itu, inisiatif pondok pesantren mengembangkan sisi pendidikan umum patut diapresiasi, dan dibantu oleh Universitas Jember, sebagai institusi pendidikan tinggi milik negara yang juga mengemban amanah mencerdaskan anak bangsa.

                Prof. M. Sulthon lantas menjelaskan, dukungan Universitas Jember kepada pesantren dalam mengembangkan pendidikan umum didukung oleh pengalaman, dan potensi sumber daya manusia yang dimiliki, terbukti dengan raihan akreditasi A yang sudah dicapai oleh Kampus Tegalboto. “Universitas Jember berada di wilayah Besuki Raya yang memiliki banyak pondok pesantren, jadi sudah sewajarnya jika Universitas Jember turut membantu pondok pesantren yang memiliki lembaga pendidikan tinggi. Bahkan dalam waktu dekat rencananya Pondok Pesantren Salafiyah Safi’iyah Sukorejo juga akan datang ke kampus Tegalboto karena berminat bekerjasama dengan kami,” jelas guru besar pendidikan di FKIP ini. Dalam kesempatan ini, Prof. M. Sulthon menawarkan aplikasi Sistem Informasi Terpadu (Sister) yang dibangun oleh Universitas Jember kepada IAIDA, selain kerjasama di bidang lainnya. “Sistem Informasi Terpadu yang kami bangun sudah diaplikasikan oleh delapan perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia,” imbuh Prof. M. Sulthon lagi.

Sementara itu menurut Rektor IAIDA, kedatangan dirinya bersama jajaran pimpinan IAIDA lainnya adalah dalam rangka belajar pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus menjalin kerjasama. “Kebetulan IAIDA yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Darussalam Blok Agung Banyuwangi bermaksud mengembangkan diri untuk membuka program studi baru, khususnya program studi eksakta untuk melengkapi delapan program studi di tiga fakultas yang sudah ada, yang kebetulan semuanya program studi sosial humaniora,” ujar Ahmad Munib Syafa’at. Pembukaan program studi baru menurutnya untuk menampung animo santri Pesantren Darussalam sendiri, juga siswa di Banyuwangi dan sekitarnya. “Kebetulan santri kami jumlahnya banyak, dan berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mereka umumnya melanjutkan pendidikan ke IAIDA. Belum lagi dengan lulusan SMA, SMK, dan madrasah aliyah baik negeri maupun swasta di Banyuwangi yang jumlahnya bisa mendekati seribuan orang setiap tahunnya,” tutur Rektor IAIDA.

Terkait rencana pembukaan program studi eksakta di IAIDA, Prof. M. Sulthon menyarankan agar program studi yang akan dibuka berbasis pada potensi Banyuwangi, dan kebutuhan masyarakat sekitar. “Menurut saya program studi di bidang pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan dapat dipertimbangkan untuk dibuka mengingat potensinya besar di Banyuwangi. Juga program studi di bidang kesehatan yang lulusannya selalu dibutuhkan oleh masyarakat,” kata Prof. M. Sulthon. Selepas diskusi, acara diakhiri dengan penandatanganan naskah kesepahaman (MoU) antara Universitas Jember yang diwakili oleh Wakil Rektor III Universitas Jember, dengan Rektor IAIDA Banyuwangi. (iim)