Universitas Jember Bangun Cluster Singkong

Jember, 31 Agustus 2016

Universitas Jember melalui Lembaga Penelitian membangun cluster singkong di Jember. Pembangunan cluster singkong ini ditandai dengan peresmian pabrik chip Mocaf (Modified Cassava Flour) di Dusun Krajan, Desa Purwosari, Kecamatan Gumukmas, dan panen raya singkong di Dusun Kalimalang, Mojomulyo, Kecamatan Puger (31/8). Menurut Ketua Lembaga Penelitian Universitas Jember, Prof. Dr. Achmad Subagio, pabrik chip Mocaf di Gumukmas ini mampu mengolah 10 hingga 14 ton singkong perharinya. “Pabrik ini mendapatkan pasokan singkong dari para petani binaan kami yang tersebar dari Kecamatan Puger di Jember sampai Pasirian di Kabupaten Lumajang,” ujar pakar Mocaf ini.

Pembangunan cluster singkong ini diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani, sekaligus memanfaatkan lahan marginal seperti di sepanjang Jalur Lintas Selatan (JLS) yang umumnya tanah berpasir. Pasalnya pihak koperasi Harapan Makmur Bersama, sebagai pengelola pabrik menggunakan sistem kemitraan dengan memberikan bibit dan pupuk kepada petani, sekaligus menampung hasil panen singkongnya. “Kami membeli singkong petani sesuai denganh harga pasar, yakni Rp. 1.050 per kilogramnya,” jelas M. Hasan, pengurus koperasi. Bukan hanya itu saja, pabrik chips Mocaf ini juga menampung 100 pekerja setiap harinya.

Untuk menjaga ketersediaan pasokan, saat ini sudah ada 30 hektar lahan yang sudah ditanami singkong, yang dalam minggu ini tengah panen raya. Menurut Achmad Subagio, rencananya secara bertahap lahan singkong yang akan dibuka seluas 200 hektar. “Selain menghasilkan chip Mocaf, pabrik ini juga menghasilkan tapioka. Sementara kulit singkongnya untuk pakan ternak dan limbah airnya diolah menjadi pupuk cair. Jadi tidak ada yang terbuang percuma,” tuturnya lagi.

 Pembukaan cluster singkong ini dipuji Santoso Yudo Warsono, Direktur Inovasi Industri, Ditjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti yang turut hadir. Menurutnya, cluster singkong yang dibangun dan dikembangkan oleh Universitas Jember menjadi contoh bagaimana sebuah penelitian berhasil diaplikasikan, dan memiliki kemanfaatan langsung kepada masyarakat. Pendapat ini didukung oleh Kusyanto, Kepala Bidang Ubi-ubian, Direktorat Aneka Kacang dan Ubi-ubian, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian. “Dalam rencana strategi pangan nasional, hingga tahun 2045 nanti, singkong menjadi tanaman pangan strategis selain padi, jagung dan kedelai. Oleh karena itu pengembangan cluster singkong ini patut didukung,” katanya.

Pengembangan cluster singkong di Jember juga didukung oleh Badan Ketahanan Pangan (BKP), Kementerian Pertanian, seperti yang diungkapkan sendiri oleh Kepala BKP, Gardjita Budi. Menurutnya komsumsi beras di Indonesia masih tinggi, oleh karena itu perlu diimbangi dengan diversifikasi pangan, salah satunya adalah pengembangan singkong dan produk turunannya sebagai alternatif pengganti beras. Sementara itu, Komisaris Utama PT. Tiga Pilar Sejahtera, Anton Apriantono, menyampaikan kesanggupan perusahaannya untuk menerima produk chip singkong dari cluster ini. “Syaratnya, mutu dipertahankan, dan kontinuitasnya dijaga, karena pabrik kami perlu pasokan yang teratur,” ujar mantan Menteri Pertanian era SBY ini.

Ditemui terpisah, Rektor Universitas Jember, Moh. Hasan, menegaskan komitmen Universitas Jember untuk mengembangkan penelitian yang mampu memberikan kemanfaatan bagi masyarakat. Khususnya di bidang pertanian dan perkebunan mengingat letak Universitas Jember yang berada di daerah agraris. “Kami sudah mengembangkan tebu tahan kering, dan kini cluster singkong. Saat ini yang sedang kita kembangkan adalah Golden Rice bekerjasama dengan Kyungpook University Korea Selatan, padi yang mengandung vitamin A,” kata Moh. Hasan.

Untuk diketahui, pengembangan cluster singkong ini juga didukung oleh pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang memberikan dana penelitian kepada para peneliti di kampus Tegaboto sebesar 1,4 milyar rupiah. Sementara The Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) Australia, membantu program implementasi cluster singkong di masyarakat. CSIRO adalah lembaga pemerintah Australia yang membidangi penelitian di bidang riset pertanian, perubahan iklim dan irigasi. Hingga tahun 2018 nanti, CSIRO akan menyokong cluster singkong dengan dana sebesar 2,8 milyar rupiah. (iim)

Leave us a Comment