Unej Tawarkan Solusi Untuk Swasembada Kedelai.

Jember 18 September2013

Dalam beberapa minggu terakhir ini media banyak memberitakan krisis yang sedang melanda Indionesia. Selain semakin lemahnya nilai Rupiah dan IHSG, Indonesia saat ini juga dihadapkan pada persoalan krisis kedelai. Dalam sebulan terakhir harga kedelai melambung tinggi. Bahkan harga kedelai naik hingga mencapai harga 9.000 sampai 10.000 rupiah perkilogram. Harga tersebut merupakan harga tertinggi sepanjang sejarah harga kedelai di Indonesia.

Menurut Dr. Ir. Suyono, MS salah satu ahli kedelai yang juga salah satu dosen di Fakultas Pertanian Universitas Jember menuturkan bahwa, dalam kasus kedelai saat ini disebabkan Indonesia masih belum siap dalam menghadapi gejolak ekonomi dunia karena masih sangat bergantung pada impor. “Melambungnya harga kedelai disebabkan karena indonesia tidak pernah siap menghadapi gejolak yang datang dari luar.  Maka dari itu produksi kedelai dalam negeri harus digenjot untuk mencukupi kebutuhan” jelasnya. Dr. Ir. Suyono, MS menambahkan “Saat ini kebutuhan nasional kedelai Indonesia setiap tahun sekitar 2,5 juta-2,7 juta ton, sedangkan produksi nasional berkisar 700.000-800.000 ton, ini hanya sekitar 30 persennya saja sedangkan yang 70 persen dipenuhi oleh kedelai impor terutama kedelai dari Amerika.”

Dalam mengatasi masalah kedelai ini, Dr. Ir. Suyono, MS mengatakan “Perlu ada roadmap yang jelas. Tinggal hitung saja kebutuhan kedelai nasional dan  jumlah lahan produktif untuk kedelai. Hitung saja kebutuhan kedelai kita 2,7 juta ton per tahun. Lahan yang diperlukan untuk swasembada kedelai adalah 1,5 juta hektar. Jika 1 hektar dengan bibit yang bagus, serta pendampingan bagi petani, mampu menghasilkan 1,5 ton saja maka kita sudah bisa memproduksi 2,25 juta ton per masa panen. Hampir mencukupi kebutuhan nasional dalam satu kali masa panen”

Wilayah Indonesia sangat luas, sehingga diperlukan pengaturan wilayah tanam. Misalnya jika di utara khatulistiwa ditanam kedelai maka di wilayah selatan ditanam padi dan sebaliknya. Selain itu diperlukan peran pemerintah untuk menjamin hasil produksi petani kedelai bisa terserap semua melalui lembaga yang ada, seperti Bulog. Sehingga petani tidak ragu untuk menanam kedelai.  Jika sudah mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri atau swasembada maka negara bisa ekspor kedelai keluar negeri.

Dr. Ir. Suyono, MS menawarkan teknologi hasil penelitiannya sebagai salah satu alternatif solusinya, yaitu kedelai unggul varietas Baluran. Varietas ini mampu memproduksi 2,5-3,5 ton per hektar, sedangkan petani biasa rata-rata produksinya hanya mampu mencapai 1,1 Ton per hektar.  Keunggulan lainnya adalah masa panennya yang hanya 80 hari. Kedelai jenis ini juga sudah terbukti mampu bertahan hidup dengan baik di lahan yang mempunyai ph 5. Hebatnya lagi tanaman ini bisa ditanam di sepanjang musim, bahkan dengan sistem tumpang sari. Penelitiannya telah diuji di berbagai lahan diseluruh Indonesia,mulai dari Sumatera  hingga ke Papua dengan hasil yang memuaskan.  

Pria yang mengaku akan berbisnis tempe dari kedelai baluran setelah pensiun nanti  mengatakan Indonesia sangat berpotensi sekali untuk bisa berswasembada kedelai karena memiliki lahan yang sangat luas. “Swasembada kedelai sebenarnya hanya tinggal melaksanakannya. Lahan kita punya, teknologi  kita menguasai, tinggal kemauan semua pihak saja yang membuat Indonesia merdeka dan berdaulat di bidang pangan” ujar Dr. Suyono bersemangat. [MJ]

Leave us a Comment