Unej Siapkan Lahan Untuk Industri Obat Herbal

Jember, 7 April 2014

Kelor, kumis kucing, jahe, sambiloto, dan lainnya adalah tanaman yang kini menjadi salah satu koleksi di etalase tanaman obat milik Universitas Jember yang berada di Jubung, Jember sekitar 7 kilometer dari Kampus Tegalboto. Lahan seluas 13 Hektare itu kini dikelola oleh UPT Agrotechnopark untuk dikembangkan salah satunya dalam pengembangan tanaman obat herbal.

Ditengah-tengah kunjungannya ke lokasi (4/4) Rektor Universitas Jember Drs. Moh. Hasan M.Sc.Ph.D menyampaikan, taman tanaman obat yang akan dibangun diatas tanah seluas 1 Hektare merupakan etalase dari beberapa tanaman herbal. Menurutnya, etalase tersebut bisa dijadikan sabagai wahana edukasi masyarakat terutama warga Universitas Jember.

Dia menyampaikan, lahan tersebut juga bisa menjadi sarana praktikum lapang maupun pengembangan keilmuan dalam hal obat herbal. Selain itu lahan tersebut kelak akan dijadikan sebagai pusat industri pengembangan dan pengolahan obat herbal. “Pembangunan lahan herbal ini manjadi langkah awal menuju industrialisasi obat herbal yang sejalan dengan visi dari Universitas Jember dalam kontek pengembangan pertanian industrial dalam arti luas” paparnya.

Hasan menambahkan, desain dari taman tanaman obat yang akan dibangun hampir menyerupai seperti taman bunga yang ada di Eropa. Namun yang membedakan hanya pada jenis tanamannya saja. “Kalau di Eropa bunga-bunga saja tapi kalo disini bunga dikombinasikan dengan tanaman obat sehingga tidak hanya indah namun juga sehat” pungkasnya.

Ketua UPT Agrotechnopark Ir. Arie Mudjiharjati, M.S menuturkan, ada lahan seluas 13 hektare yang akan dikelola dan dikembangkan. Menurutnya lahan tersebut akan dibagi menjadi 3 cluster, cluster  agrowisata edukasi, training center dan agroindustry. Arie mengatakan pembangunan agroindustri kususnya produksi obat herbal akan semakin meningkatkan produksi obat herbal yang sebelumnya sudah dikembangkan oleh Fakultas Farmasi Universitas Jember.

“Saat ini industri obat herbal sebenarnya sudah mulai dikembangkan oleh Fakultas Farmasi Unej dan sudah memiliki produk yang sudah mengantongi ijin dari Dinas Kesehatan sehingga sudah memiliki merek dagang” ungkap Arie.

Desain pembangunan taman obat tersebut berbentuk 3 lembar daun tembakau. Sampai saat ini baru satu taman yang terselesaikan dan diproyeksikan pada pertengahan 2015 selesai secar keseluruhan. Taman tanaman obat ini juga akan dilengkapi dengan sebuah gedung produksi dan gedung pengemasan obat herbal. “Lebih dari 100 jenis tanaman herbal kami siapkan untuk melengkapi koleksi tiga taman tersebut dan kami juga bekerjasama dengan Balitbang tanaman obat untuk pengembangan kedepan” pungkas Arie. (Mj)

Leave us a Comment