UNEJ Bekali Guru SD Dengan Manajemen Pengeloaan Perpustakaan

FH_perpus_UNEJ-768×511

Jember, 12 Februari 2018

Universitas Jember bekali para guru Sekolah Dasar (SD) dengan manajemen pengelolaan Perpustakaan. Acara yang dikemas dalam tema “workshop pengelolaan perpustakaan sekolah dalam mengoptimalkan gerakan literasi di sekolah” ini terselenggara atas kerjasama Unit Pelayanan Teknis (UPT) Perpustakaan Universitas Jember bersama Asosiasi Profesi dan Keahlian Sejenis (APKS) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jember. Acara ini diikuti oleh 116 perwakilan sekolah dasar dari wilayah Jember serta beberapa orang berasal dari Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso. Bertempat di aula Fakultas Hukum Universitas Jember selama dua hari dari tanggal 10 sampai 11 Februari mereka mendapatkan materi-materi manajemen pegelolaan Perpustakaan.

“Sesuai dengan Undang-Undang nomer 43 tahun 2007 salah satu tujuan pengelolaan perpustakaan adalah untuk meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu perlu pengetahuan kepada para pengelola agar apa yang dimaksud dalam undang-undang bisa terwujud,” ujar Ida Widiastuti Kepala UPT Perpustakaan dalam sesi wawancara.

Ida mengatakan, selama ini dalam pengelolaan perpustakaan yang ada di SD masih dihadapkan pada beberapa persoalan. Masalah kebijakan dan anggaran dalam pengadaan buku baru menurutnya masih menjadi persoalan pelik yang hingga saat ini belum terselesaikan.

“Untuk membantu pengelolaan, UPT Perpustakaan Universitas Jember siap untuk memberikan pelatihan-pelatihan berkelanjutan agar persoalan SDM tidak lagi jadi masalah. Memperbaiki pengelolaan perpustakaan sekolah mulai dari tatakelola, inovasi layanan serta kami juga siap untuk membantu dari sisi teknologi onformasinya untuk lebih memudahkan dalam pengelolaan,”imbuh Ida.

Senada dengan Ida, Supriyono ketua PGRI Kabupaten Jember yang hadir untuk membuka acara memebanarkan berbagai persoalan dalam pengelolan perpustakaan di tingkat Sekolah Dasar.  Menurut Supriyono, persoalan yang paling mendasar adalah masih rendahnya jumlah siswa yang berkunjung ke perpustakaan sekolah.

“Minat baca siswa masih sangat rendah sehingga pintu perpustakaan jarang dibuka, waktu mau dibuka kuncinya hilang, saat sudah bisa dibuka bukunya sudah pada dimakan rayab. Ini adalah realita yang jamak terjadi di sekolah-sekolah kita,” ujar Supriyono yang disambut tawa para hadirin.

Surpiyono berpendapat, rendahnya minat membaca siswa menjadi tolak ukur kualitas pendidikan yang ada. Semakin besar minat membaca siswa suatu negara maka kualitas pendidikannya akan semakin meningkat pula.

“Bagaimana bisa suatu bangsa akan memiliki kualitas pendidikan yang baik tanpa membaca. Bagaimana bisa minat membaca akan tumbuh jika pengelolaan perpustakaannya tidak tertangani dengan baik. Tentu anak-anak perlu dipaksa untuk mulai gemar membaca namun sebelum itu dilakukan perbaiki dahulu perpustakaannya,” imbuh Supriyono.

Supriyono berharap, kerajasama antara APKS PGRI dan dan UPT Perpustakaan Universitas Jember ini bisa memperbaiki mutu pengelolalaan perpustakaan.

“Semoga dengan kerjasama ini akses siswa terhadap buku bacaan bisa lebih mudah. Pengelolaannya semakin bagus dan bisa diakses dari manapun melalui aplikasi yang dibantu oleh UPT Perpustakaan Universitas Jember,” pungkasnya.