Tulis Ide Mesin Pengering Gabah, Mahasiswa Universitas Jember Raih Juara LKTI tingkat Nasional

Jember, 19 Mei 2016

Mahasiswa Fakultas Teknik dan Fakultas Pertanian Universitas Jember sukses meraih juara pertama dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) tingkat nasional di ajang National Agriculture Inovation Festival di Universitas Hasanudin Makasar (2/5).  Mengangkat tema  Pemanfaatan Panas Gas Buang Mesin Penggiling Padi Sebagai Energi Pengering Gabah, Ahmad Muazis mahasiswa Fakultas Teknik dan Ngabdul Rois dari fakultas Pertanian berhasil menjadi yang terbaik di ajang tersebut.

Ahmad Muaziz mengatakan berawal dari tingginya angka penyusutan hasil panen gabah dengan cara  konvensional yaitu dijemur di lahan datar dengan mengandalkan sinar matahari. Menurtnya angka penyusutannya bisa sampai dengan 2,1%.  Ia kemudian berfikir untuk membuat alat pengering gabah yang yang bisa mengatasi masalah itu. Maka munculah ide untuk membuat mesin pengering gabah yang memanfaatkan panas dari gas buang mesin penggiling padi. Alat yang dia rancang ini mempunyai beberapa keunggulan diantaranya mampu mereduksi penyusutan hanya tinggal kurang dari 1%. Selain itu jika dibanding mesin sejenis biaya operasionalnya lebih hemat. Cara konvensional sangat membutuhkan panas matahari dalam proses pengeringan, tetapi dengan mesin ini bisa kapan pun tanpa ada ketergantungan cuaca.

Ia menambahkan mesin dengan kapasitas satu ton ini menggunakan teknologi Hit Exchanger dari mesin penggiling padi. Jadi produksi beras yang dihasilkan aman tidak tercampur dengan CO2 hasil gas buang mesin. Efektivitas  waktu yang dihasilkan juga sangat efisien, dari proses gabah basah menjadi beras hanya dibutuhkan waktu 10 jam dalam kondisi mesin hidup, artinya mesin ini bisa dihentikan sementara  jika penggunanya menginginkan istirahat kemudian bisa dijalankan lagi.

Ahmad Muaziz juga menjelaskan kesulitan yang ia dapatkan ketika membuat karya tulis ilmiah ini adalah rancangan mesinnya itu sendiri. Ia mengatakan harus memahami benar seberapa panas yang dihasilkan mesin tersebut dan harus disesuaikan dengan  panas yang dibutuhkan gabah. Tidak heran Ia dan Ngabdul Rois harus sering revisi ke pembimbingnya, Dr. Nasrul Ilminnafik, S.T., M.T.

Ketika ditanya kenapa bisa menang Ahmad Muaziz menjelaskan salah satunya ide pembuatan mesin ini benar-benar bisa direalisasikan bukan hanya dalam tataran karya tulis. Para penguji yang berlatar belakang  ahli pertanian, ahli mesin, ahli energy dan juga dari ahli pertanian akhirnya mengganjar mereka berdua dengan nilai tertinggi dan berhak menyandang juara pertama. (did)

Leave us a Comment