Tim Kajida Dewan Ketahanan Nasional, Dukung Universitas Jember Bina Petani Organik Bondowoso

Wantannas-1_UNEJ

Jember, 2 November 2017

            Tim Kajian Daerah (Kajida) Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) mendukung langkah Fakultas Pertanian Universitas Jember membina para petani organik, khususnya yang berada di Kabupaten Bondowoso. Dukungan ini disampaikan langsung Brigjen (TNI) Syafiul, MBA., saat mengunjungi lokasi penggilingan dan pengepakan beras organik produk Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Al Barokah di Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari (1/11). Kedatangan Tim Kajida Wantannas ke Jember dan Bondowoso dalam rangka mengumpulkan data dan informasi terkait berbagai potensi dan permasalahan di Jember dan sekitarnya. Dalam kunjungannya, Brigjen (TNI) Syafiul didampingi oleh Brigjen (TNI) Moh. Hatta Usmar Rukka, Kol. (Inf) Judi Paragina Firdaus, MSc., Kol. (CZi) Budi Irawan, M.Si., Kombes (Pol) Yulias., SIK., dan Maulana, SH.M.Hum.

            “Dari kajian Wantannas, Indonesia masih mengimpor beberapa komoditi pertanian, padahal sumber daya alam kita berlimpah, tentu saja ini menjadi keprihatinan kami. Namun melihat kesuksesan para petani di Gapoktan Al Barokah, kami optimis kemandirian dan kethanan pangan bisa diwujudkan. Kesuksesan ini karena sinergi antara petani, pemerintah dan kalangan intelektual seperti Universitas Jember,” ujar Brigjen (TNI) Syafiul. Sambil berseloroh, jenderal asli Surabaya ini mengusulkan agar nama Gapoktan diubah menjadi Gapoktan Wantannas Al Barokah karena mendapatkan dukungan penuh dari Wantannas.

Wantannas-1_UNEJ

            Optimisme Wantannas bukan tanpa sebab. Pasalnya dari penjelasan Mulyono, ketua Gapoktan Al Barokah, saat ini para petani organik di Desa Lombok Kulon kewalahan memenuhi permintaan beras organik dari berbagai kota, bahkan dari luar negeri khususnya Jepang. “Semua produk beras organik kami seperti beras merah, hitam dan Pandan Wangi selalu habis terserap oleh konsumen di Surabaya, Bandung dan Jakarta. Sayangnya kami belum mendapatkan sertifikasi internasional sehingga belum bisa mengekspor ke Jepang, padahal sudah ada permintaan,” ujar Mulyono. Menurut petani asli Lombok Kulon ini, pertanian organik di desanya sudah dimulai semenjak tahun 2003 dan saat ini ada 304 petani yang mengusahakan padi organik dengan luasan lahan 130 hektar.

Mulyono lantas melanjutkan, setiap bulan Gapoktan Al Barokah mampu memproduksi  86 ton beras organik dari jenis padi merah, hitam, Pandan Wangi dan Ciherang dengan harga jual rata-rata tiap kilogramnya sebesar dua puluh ribu rupiah. “Saat ini yang kami perlukan adalah pembenahan jalan di depan lokasi penggilingan agar kendaraan besar bisa lewat, serta alat pengepakan beras organik yang kapasitasnya lebih besar, sebab alat yang kami miliki hanya mampu mengemas beras organik 500 kilogram per hari,” pinta Mulyono kepada Tim Kajida Wantannas.

Sementara itu menurut Sigit Soepardjono, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Jember, semenjak tahun 2010 Fakultas Pertanian telah mendampingi para petani di Lombok Kulon. Selain melaksanakan pendampingan, Gapoktan Al Barokah juga menjadi lokasi Tempat Ujian Kompetensi (TUK) bagi mahasiswa Fakultas Pertanian yang ingin mendalami pertanian organik. “Bahkan kami telah memberikan bibit padi merah putih hasil penelitian para pakar pertanian  kampus Tegalboto untuk ditanam dengan sistem organik di sini. Padi merah putih memiliki kelebihan nilai gizi yang lebih baik dan memiliki aroma yang harum,” kata Dekan Fakultas Pertanian. Untuk diketahui kedatangan Wantannas ke Desa Lombok Kulon diawali dengan presentasi tim Fakultas Pertanian Universitas Jember dihadapan Wantannas sebulan yang lalu.

Dukungan juga ditunjukkan oleh Pemerintah kabupaten Bondowoso melalui Munandar, Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan dan Peternakan. “Pemkab Bondowoso menganggarkan 2,6 milyar rupiah dari APBD untuk pengembangan pertanian organik, anggaran terbesar di Jawa Timur untuk pertanian organik. Mulai tahun depan, di setiap kecamatan akan kami alokasikan  10 hektar pertanian organik,” ungkapnya. Sementara itu Kurniyasih, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) di Lombok Kulon. “Memang tidak mudah awalnya memberikan pemahaman bagi petani untuk memilih sistem pertanian organik yang tanpa pupuk dan obat-obatan kimia, namun jika sistemnya sudah terbentuk maka keuntungan yang bakal didapat akan banyak, selain keuntungan secara ekonomis maka keuntungan ekosistem pun didapat karena kesuburan lahan akan kembali,” imbuh Kurniyasih.

Diskusi Dengan Para Pakar Universitas Jember

            Sebelumnya, pada hari Senin (30/10) lalu. Tim Kajida Wantannas telah bertemu Rektor dan jajaran pimpinan beserta para pakar Universitas Jember. Dalam kesempatan ini beberapa pakar menyampaikan sumbangan pemikiran, salah satunya Prof. Dr. Ahmad Subagio. Menurut pakar Mocaf ini, Jember harus memanfaatkan potensi pertanian dan perkebunan agar memberikan dampak kemakmuran bagi rakyatnya. “Selama ini hasil pertanian dan perkebunan belum diolah, jadi tidak ada nilai tambahnya,” kata dosen fakultas nya. Prof. Dr. Ahmad Subagio juga menyoroti rencana pembangunan jalan tol Surabaya – Banyuwangi. Menurutnya jika Pemerintah Kabupaten Jember tidak menyiapkan rencana antisipasi, maka dikhawatirkan pembangunan jalan tol tersebut bakal menimbulkan dampak negatif bagi rakyat Jember.

            Selanjutnya dosen FISIP, Hadi Makmur menyoroti perubahan sosial di Jember, dari mulai timbulnya perumahan yang ekslusif hingga muncul dan berkembangnya paham radikalisme. Koleganya, Aditya Wardhana dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis memberikan penekanan pada angka kemiskinan yang masih menjadi PR, serta disparitas antara kaya miskin. Di akhir acara, Moh. Hasan, Rektor Universitas Jember memberikan jaminan bahwa Universitas Jember siap memberikan sumbangsih bagi kemajuan negara melalui Wantannas. “Kami siap memberikan kontribusi terbaik melalui pemikiran, penelitian maupun produk inovasi dari kampus Tegalboto,” tutur Moh. Hasan. (iim)

Blog Attachment