Tim K-9 Ditjen Bea Cukai “Temukan” Shabu-Shabu di FEB Universitas Jember

K9diUNEJ-1-768×512

Jember, 23 November 2018

Dua ekor anjing pelacak narkoba tim K-9 Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kantor Wilayah Jawa Timur (Kanwil Jatim) I berhasil menemukan narkoba dalam bentuk shabu-shabu di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember, tepatnya di Gedung Multimedia (23/11). Dua ekor anjing betina jenis labrador itu mendapati shabu-shabu tersimpan dalam sebuah kardus, dan shabu-shabu yang dibawa oleh seseorang. Dengan sigap, keduanya mampu mengendus keberadaan pemilik barang haram tadi. Eitss, jangan berburuk sangka dulu ! Penemuan shabu-shabu tadi hanyalah aksi peragaan kebolehan tim K-9 DJBC Kanwil Jatim I di hadapan mahasiswa FEB, sebelum mereka menerima materi kuliah umum bertema “Peran Bea Cukai dan Manfaat Cukai Dalam Pembangunan Daerah” yang disampaikan langsung oleh Dirjen Bea Cukai, Heru Pambudi.

Menurut Robert, ketua Tim K-9 DJBC Kanwil Jatim I, hari ini tim-nya membawa dua ekor anjing pelacak yang memiliki kemampuan berbeda. “Ini Bolli, tipe anjing pelacak narkoba yang agresif, tugasnya melacak narkoba yang ada di bagasi bawaan penumpang. Sementara rekannya Frendiska bertipe pasif, tugas sehari-harinya adalah melacak penumpang yang dicurigai membawa narkoba,” jelas Robert di hadapan ratusan mahasiswa FEB yang memenuhi Gedung Multimedia. Kedua anjing pelacak narkoba berusia lima tahun ini sehari-harinya bertugas di Bandara Juanda. Diskusi pun berlangsung hangat karena banyak mahasiswa FEB yang ingin tahu seluk beluk mengenai anjing pelacak narkoba milik tim K-9 DJBC Kanwil Jatim I.

Untuk membuktikan kemampuan dua anjing labrador hitam ini, Robert meletakkan beberapa kardus dalam kondisi tertutup rapat yang disegel dengan selotip tebal, salah satu diantaranya berisi shabu-shabu. Begitu diperintahkan oleh sang pawang (handler), Bolli langsung bereaksi, gerakannya gesit memeriksa setiap kardus yang ada. Tanpa kesulitan Bolli pun menemukan target yang disiapkan sang pawang. Sementara di peragaan kedua, Robert yang dibantu dua pawang meminta sepuluh peserta kuliah umum untuk berdiri membentuk antrian seperti antrian pemeriksaan imigrasi di bandara. Salah satu peraga membawa tas kecil yang berisi narkoba. Di peragaan kedua ini, dengan tenang Frendiska menghampiri setiap peraga dan berhasil menemukan sang pembawa methamphetamin itu. “Inilah bedanya Bolli yang tipe agresif dengan Frendiska yang tipe pasif. Frendiska sudah kita latih memiliki kemampuan mengendus narkoba, tanpa harus membuat target penumpang yang diperiksa menjadi resah atau ketakutan,” imbuh Robert lagi.

Untuk membentuk anjing pelacak narkoba yang handal tentu bukan perkara yang mudah, seperti yang diceritakan oleh Jaka Maulana, sang pawang. Menurutnya anjing yang terpilih akan mendapatkan pelatihan intensif selama tiga bulan. “Walaupun sudah mendapatkan pelatihan, setiap anjing pelacak harus terus berlatih, sebab jenis narkoba yang ada juga terus berkembang,” ungkap Jaka Maulana. Setiap pagi semua anjing pelacak narkoba yang dimiliki oleh DJBC Kanwil Jatim I diajak berlatih berlari agar selalu sehat dan siap bertugas. Setiap anjing juga dilatih berdisiplin, misalnya makan harus tepat waktu dengan jumlah yang juga sudah ditentukan, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang sesuai arahan dokter hewan. Tujuannya agar mereka selalu siap sedia bertugas.

Menurut Jaka, pada dasarnya setiap anjing memiliki kemampuan untuk menjadi anjing pelacak, namun memang jenis anjing tertentu diketahui memiliki kemampuan yang lebih baik untuk dijadikan anjing pelacak, misalnya dari jenis Labrador. “Setiap kali berdinas, setiap anjing bertugas selama kurang lebih delapan jam, jadi mirip jam kerja karyawan pada umumnya. Bahkan untuk Frendiska ini sudah pernah menggagalkan kasus pengiriman ganja cair di Kantor Pos Pasar Besar Jakarta,” pungkas Jaka Maulana. (iim)