Tiga Perguruan Tinggi Pelajari Pengalaman Kampus Tegalboto Menjalankan  Program UMD

UMD

Jember, 9 Mei 2017

Tiga perguruan tinggi, Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan Universitas Katolik Parahyangan Bandung, belajar pengalaman kampus Tegalboto dalam menjalankan program Universitas Membangun Desa (UMD). Selama dua hari (1-2/5), perwakilan tiga perguruan tinggi tersebut belajar, berdiskusi aktif, serta ikut turun langsung melihat dua desa binaan Universitas Jember di Bondowoso, Desa Glingseran dan Desa Bukor di kecamatan Wringin. Pemilihan Kampus Tegalboto sebagai lokasi belajar karena pemerintah Australia sebagai penyandang dana, menilai Universitas Jember telah berhasil melaksanakan program UMD.

Menurut  Sentot Pamuji, perwakilan dari Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan Untuk Kesejahteraan (KOMPAK), program UMD adalah program pengentasan kemiskinan melalui peningkatan pelayanan dasar seperti kesehatan, dan pendidikan. Penguatan tata kelola pemerintahan desa dan pengembangan potensi ekonomi kreatif desa. “Kami melihat Universitas Jember melalui program Kuliah Kerja Nyata tematik UMD telah berhasil mengimplementasikan ketiga program utama UMD di sepuluh desa di Kecamatan Wringin dan Cermee, Bondowoso. Bahkan pemerintah Australia bermaksud memperpanjang pelaksanaan UMD yang dikelola oleh Universitas Jember,” jelas Sentot. KOMPAK sendiri adalah lembaga kemitraan yang dibentuk bersama oleh pemerintah Australia dan Indonesia.

Dalam paparannya, Hermanto Rahman, direktur program UMD Universitas Jember menjelaskan pelaksanaan UMD di Universitas Jember berkoordinasi dengan Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM), karena melibatkan mahasiswa yang mengikuti program Kuliah Kerja Nyata tematik. “Tahap pertama ada 60 mahasiswa yang kami terjunkan, disusul dengan 150 mahasiswa tahap kedua. Sementara program yang dibangun adalah Sistem Administrasi Informasi Desa,” jelas Hermanto Rahman. Karena berhubungan dengan membangun sistem informasi, maka dalam setiap kelompok mahasiswa terdapat seorang mahasiswa yang berasal dari Program Studi Sistem Informasi sebagai motornya.

Dan hasilnya kini telah nampak, sepuluh desa yang menjadi lokasi UMD kini telah memiliki Sistem Administrasi  Informasi Desa, lengkap dengan laman resmi desanya. Dengan adanya SAID, maka desa dapat dengan mudah mengetahui data warganya, termasuk potensi apa yang ada di desanya. “Alhamdulillah ada dua desa yakni Glingseran dan Bukor yang sudah mampu mengembangkan produk andalannya sebagai perwujudan one village one product, yakni desa wisata Rengganis dan batik tulis,” tambah Hermanto yang juga dosen di FISIP Universitas Jember ini.

Dalam sesi diskusi, Tutik Rachmawati dari Universitas Katolik Parahyangan ingin mengetahui mengapa dan bagaimana SAID yang dikembangkan oleh Universitas Jember dapat diterima oleh masyarakat desa. Menurutnya, sesuai pengalaman, sistem informasi yang diberikan kepada masyarakat di desa sering tidak dimanfaatkan secara optimal. Menanggapi pertanyaan ini, Hermanto Rahman menganjurkan agar sistem informasi yang dibangun haruslah yang bersifat bottom up, dan bukannya top down. “Awalnya, mahasiswa kami sarankan agar berinteraksi dengan masyarakat desa, sekaligus melihat secara langsung apa saja permasalahan mereka. Barulah memutuskan membangun SAID yang cocok. Cara seperti ini memang membutuhkan waktu, namun dari pengalaman kami minim resistensi,” kata Hermanto. (iim)