Tidak Hanya Mencetak Calon Guru, Pengusaha Pun Bisa

Jember, 8 Desember 2014

Menyandang status sebagai seorang mahasiswa bukan alasan untuk tidak memulai sebuah bisnis. Tidak sedikit para pengusaha muda yang sukses yang memulai bisnisnya sejak masih berada dibangku kuliah. Berbagai bisnis bisa dijalankan sembari menjalani aktivitas kuliah.

Adanya berbagai media online semakin memudahkan para mahasiswa dalam menjalankan bisnis mereka. Mulai dari berjualan secara online maupun offline semua bisa dilakukan. Seperti yang diuturakan oleh Bambang Suyadi M,Si dosen mata kuliah kewirausahaan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember disela-selapameran produk mahasiswa FKIP, (17/12).

Dalam pameran yang digelar di halaman depan FKIP tersebut beragam produk yang dipamerkan, mulai dari kerajinan tangan hingga kuliner. Semua produk yang dipamerkan adalah hasil dari kelompok mahasiswa yang menempuh mata kuliah kewirausahaan. “Penilaiannya 40% teori dan 60% praktek sehingga di akhir perkuliahan mereka semua wajib memerkan dan menjual produk,” ujar Suyadi selaku dosen pengampu mata kuliah kewirausahaan.

Menurutnya mahasiswa tidak hanya diajari teori saja, tetapi mereka juga diajarkan bagaimana menghasilkan produk, mengemas produk, membuat brand dan memasarkannya. “Bermacam-macam cara yang mereka lakukan biar dagangannya laku keras dan ini jadi pembelajaran yang bagus buat mereka kedepan,” papar Suyadi.

Suyadi merasa mengaku bangga, karena setiap angkatan yang menempuh matakuliah kewirausahaan sebanyak 5%nya justru menjadi pengusaha. “Banyak yang laporan ke saya yang menjadi pengusaha bukan jadi guru,” pungkas Suyadi.

Anes Kibka mahasiswa asal Papua yang juga ikut menjual produk bersama kelaompoknya mengaku sangat senang dengan kegiatan tersebut. Bahkan dirinya bertekat, kelak setelah lulus dari FKIP dia mau berjualan di Papua.

Menurutnya dia akan memanfaatkan potensi yang ada di Pegunungan Bintang Papua tempat dia berasal untuk berbisnis. “Ini saya sedang belajar, nanti kalo saya sudah lulus mau jualan kentang goreng karena di tempat saya banyak” ujar Anes yang sedang menempuh pendidikan Bahasa Indonesia ini.

Lebih jauh dia menjelaskan potensi kentang ditempatnya sangat besar namun sayangnya belum ada yang diolah. “Tidak ada kentang goreng seperti yang teman-teman buat ini dan ternyata mudah banget,” paparnya sambil melayani pembeli.

Anes bertekat akan terus belajar dalam membuat produk makanan inovatif kepada teman-temannya. “Barangkali saya mau jualan saja tidak usah jadi guru kalo sudah lulus kuliah nanti,” pungkas Anes. (Mj)

Leave us a Comment