Sugeng Tindak Pak Siman….

Jember, 12 Maret 2015

Secara pribadi, memang saya tidak mengenal Prof. Dr. Simanhadi Widyaprakosa, rektor Universitas Jember ke enam yang juga guru besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Pertemuan saya dengan beliau, jika tidak salah terjadi pada satu siang di pertengahan tahun 2011 lalu. Waktu itu saya dan kawan-kawan di Bagian Humas dan Protokol mendapatkan tugas untuk mewawancarai Pak Siman untuk keperluan menggali informasi dan pengalamannya saat menjadi orang pertama di kampus Tegalboto.

Wawancara tersebut difasilitasi rektor saat itu, Dr. Ir. T. Sutikto, MSc di ruangannya. Bahkan Pak Tikto, begitu panggilan akrabnya, turut meramaikan wawancara sambil sesekali menambahkan memorinya saat Pak Siman menjabat menjadi rektor Universitas Jember. Kesan saya saat itu Pak Siman adalah sosok yang sabar, tercermin dari tutur kata dan nada bicaranya yang terjaga dengan baik. Sebagai orang yang pernah hidup di Yogyakarta, saya tidak asing dengan gaya bicara seperti beliau, khas priyayi Ngayogyakarta Hadiningrat. Pak Siman memang asli Yogyakarta, kelahiran Kulon Progo.

Pak Siman sosok yang kenyang makan asam manis dan pahit getir kehidupan. Sempat berjuang di masa perang kemerdekaan dengan tergabung pada Kompi I, Detasemen III, Brigade 17 (1947–1950). Kemudian pada tahun 1950–1951 tergabung pada Kompi V, Detasemen III Brigade 17 sebagai Tentara Pelajar (TP) karena statusnya yang masih siswa Sekolah Guru Atas. Selepas mengangkat senjata, Pak Siman meneruskan kuliah di Fakultas Pedagogik Universitas Gadjah Mada dan lulus tahun 1961. Sebelum hijrah ke Jember menjadi dosen, beliau sempat mencicipi karier sebagai guru di beberapa sekolah di Yogyakarta. Perjalanan nasib kemudian membawa pria kelahiran, 28 Agustus 1932 ini menjadi guru besar dan menjabat sebagai rektor Universitas Jember selama dua periode, dari tahun 1986 hingga 1995. Tentu saja sudah banyak sumbangsih yang beliau berikan untuk kampus Tegalboto.

Salah satu yang menurut saya terpenting adalah Pak Siman berhasil membawa Universitas Jember melewati masa transisi, dari perguruan tinggi yang sebelumnya dipimpin oleh rektor berlatar belakang militer, kembali ke khittah-nya dipimpin oleh intelektual. Seperti yang kita ketahui bersama, selepas dipimpin oleh dr. R. Achmad pada tahun 1966, perguruan tinggi di ujung timur pulau Jawa ini dipimpin oleh rektor dari kalangan militer. Mereka adalah Letkol. Winoto (1966-1967), Letkol. Soedi Harjohoedojo (1967-1969), Letkol Soetardjo, SH (1969-1978) dan Kolonel Drs. H.R. Warsito (1978-1986).

Menurut Pak Siman, masa saat dirinya menjadi rektor diisi dengan usaha membangun suasana akademik di kampus. Salah satunya dengan mengupayakan makin banyak dosen yang meneruskan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Beberapa dosen yang dianggap memiliki kompetensi, juga didorong untuk mencapai status guru besar yang saat itu jumlahnya masih minim di kampus Tegalboto. Bahkan di sela-sela kesibukannya sebagai rektor, Pak Siman menyempatkan diri langsung membina para calon guru besar. Satu hal lagi, Pak Siman meretas jalan untuk memperkenalkan keberadaan Universitas Jember yang saat itu masih kurang dikenal di masyarakat luas. Pak Siman fokus pada pembenahan internal Universitas Jember.

Di masa purnatugasnya (pensiun 2002), kesibukan Pak Siman tidak malah berkurang. Beberapa perguruan tinggi masih memanfaatkan kepakarannya dalam bidang pendidikan, pulang pergi Jember-Surabaya setiap minggunya menjadi rutinitas. Begitu pula dengan kegiatan menuangkan pikiran ke dalam tulisan ilmiah dijalananinya sebagai tanggung jawab seorang guru besar. Saat itu Pak Siman bercerita tengah menyelesaikan tulisannya mengenai nilai-nilai filsafat Jawa.

Satu hal yang saya kenang adalah pesan beliau kepada generasi penerusnya. Seorang pemimpin itu menurutnya wajib memiliki sikap hidup yang Ambek Paramarta (berbudi luhur), Waskitha (berwawasan mendalam dan menjangkau ke depan, tahu hal-hal yang tersirat dibalik setiap keadaan nyata), Waspada (berwawasan lingkungan secara konprehensif-integral, baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial), Wicaksana (mampu mengambil keputusan secara tepat akan segala tindakan yang akan dilakukan).

Seorang pemimpin juga harus Widya (berpengetahuan mendalam dan bersifat interdisipliner), Wikan (ahli, profesional pada tugasnya, tahu dan responsif akan hal-hal yang dihadapi), Wibawa (berwibawa, memiliki daya dan kekuatan yang dapat mempengaruhi kekuatan lain, kata-kata dan perintah-perintahnya dipatuhi secara sukarela), dan Berbudi bawa laksana (bersikat transparan, dan melaksanakan segala kata-kata yang telah diungkapkan/ diucapkan, konsekuen dengan pikiran dan ucapannya).

Dan hari Rabu, 11 Maret 2015 lalu saya menerima pesan bahwa priyayi Yogya itu dipanggil menghadap Allah SWT. Innalillahi wainnailaihi rojiun. Jenazahnya disholatkan di masjid Al Hikmah, kampus Tegalboto selepas dhuhur untuk kemudian dimakamkan di TPU Kebonsari. Sungguh Pak Siman sudah meninggalkan banyak sumbangsih, jasa, dan kenangan kepada keluarga besar Universitas Jember pada khsusunya, serta kepada bangsa dan negara Indonesia secara umum.

Semoga Almarhum diterima di sisi Allah SWT, dan semoga para generasi Universitas Jember yang lebih muda dapat  meneruskan perjuanganmu seperti yang terkandung dalam sesanti kampus Tegalboto yang digagas oleh almarhum, Karya Rinaras Ambuka Budhi, Gapura Mangesti Aruming Bawana. Tekad Universitas Jember untuk menata diri melalui kerja selaras, serasi dan seimbang yang dilandasi iman dan tawa, guna menghasilkan sarjana sebagai manusia seutuhnya, yang pengabdiannya di masyarakat selalu membawa keharuman bangsa dan negara. Sugeng tindak, sugeng kondur Pak Siman,…

(kenangan Staf Humas dan Protokol Iim Fahmi Ilman).

1 Comment

  • she
    Reply

    Turut berduka cita

Leave us a Comment