Singkong Yang Membawa Kemakmuran

Jember, 2 September 2016

Singkong, tanaman yang mungkin masih dipandang sebelah mata oleh banyak orang, bahkan didentikkan dengan kemiskinan. Tidak heran jika kemudian banyak petani yang menanam singkong hanya sekedar sambilan. Namun, siapa kira jika singkong memiliki potensi yang tidak kalah dengan tanaman lainnya seperti padi, jagung atau kedelai. Fakta inilah yang menggerakkan Lembaga Penelitian Universitas Jember untuk menjadikan singkong sebagai pembawa kemakmuran melalui pembangunan cluster singkong di Jember dan sekitarnya.

“Cluster singkong yang terdiri dari pabrik dan lahan singkong di Jember ini adalah bagian dari 67 cluster singkong yang ada di Indonesia. Tujuannya untuk meningkatkan pendapatan petani, sekaligus memanfaatkan lahan marginal,” jelas Prof. Dr. Achmad Subagio, Ketua Lembaga Penelitian Universitas Jember.

Untuk diketahui Universitas Jember melalui Lembaga Penelitian telah membangun cluster singkong di Jember. Pembangunan cluster singkong ini ditandai dengan peresmian pabrik chip Mocaf (Modified Cassava Flour) di Dusun Krajan, Desa Purwosari, Kecamatan Gumukmas, dan panen raya singkong di Dusun Kalimalang, Mojomulyo, Kecamatan Puger (31/8). Pabrik chip Mocaf di Gumukmas ini mampu mengolah 10 hingga 14 ton singkong perharinya.

Menurut Achmad Subagio, pendirian cluster singkong di daerah Gumukmas dan Puger bukan tanpa alasan, sebab tanah di sepanjang Jalur Lintas Selatan umumnya berpasir, sehingga termasuk lahan marginal. “Akibatnya banyak tenaga kerja potensial lebih memilih bekerja sebagai Tenaga kerja Indonesia (TKI), umumnya ke Malaysia. Padahal jika mereka mau menanam singkong, hasilnya cukup menjanjikan, sementara lahannya cukup luas,” ujar pakar Mocaf ini. Rencananya lahan yang akan ditanami singkong seluas 200 hektar, memanjang dari Kecamatan Gumukmas dan Puger di wilayah Kabupaten Jember hingga Kecamatan Pasirian di Kabupaten Lumajang.

“Kini yang kami lakukan selain memberikan pendampingan bagi petani, juga meyakinkan mereka agar serius menanam singkong, pasalnya pabrik butuh singkong berkualitas dan kontinyu,” tambah Achmad Subagio lagi. Kini sudah ada perusahaan yang sanggup menampung singkong petani, yakni PT. Tiga Pilar Sejahtera. Dalam kesempatan panen raya singkong, Anton Apriantono, Komisaris Utama PT. Tiga Pilar Sejahtera menegaskan komitmennya untuk menampung seluruh hasil singkong petani.

Program Lembaga Penelitian Universitas Jember, untuk memberikan pendampingan bagi petani didukung oleh M. Hasan, pengurus Koperasi Harapan Makmur Bersama yang mengoperasikan pabrik chip Mocaf. Menurut Hasan, para petani masih asal-asalan dalam menanam singkong, padahal potensinya luar biasa. “Biasanya singkong ditanam begitu saja sebagai sambilan tanpa pemupukan di sela-sela tanaman utama. Masih sulit meyakinkan para petani agar menanam singkong dengan cara yang baik dan benar, “ kata Hasan.

“Oleh karena itu kami memulai dengan menanam singkong sesuai anjuran para peneliti dari Lembaga Penelitian Universitas Jember, dengan dipupuk dan diatur jarak penanamannya. Ternyata dalam delapan bulan bisa tumbuh dengan baik. Lihat singkong dari jenis Cimanggu ini, dalam satu batang ada 18 umbi singkong,” ujarnya sambil menunjukkan singkong hasil petani binaan yang tengah dilombakan. Belum lagi singkong jenis gajah yang dapat tumbuh setinggi lebih dari 2 meter, dengan umbi yang ukurannya tiga kali dari umbi singkong biasa.

Tidak hanya memberikan contoh saja, Koperasi Harapan Makmur Bersama memberlakukan sistem kemitraan dengan petani di Gumukmas dan Puger. Petani yang tertarik menanam singkong bisa membeli stek singkong seharga 300 rupiah, sementara di pasaran stek singkong dijual dengan harga dua kali lipat. Petani juga mendapatkan pupuk cair hasil olahan dari limbah cair chip Mocaf. “Hasil singkong panen petani lalu kami beli dengan harga 1.050 rupiah per kilogramnya,” jelas Hasan.

Hasan lantas membeberkan hitung-hitungan usaha singkong. Menurutnya untuk luasan lahan 1 hektar, diperlukan modal sebesar kurang lebih 10 juta rupiah. Jika ditanam dengan baik, maka saat panen dapat menghasilkan 50 hingga 60 ton. “Dengan harga sekarang, maka keuntungan kotor yang didapat sekitar 45 juta rupiah, dengan catatan tanah yang digunakan bukan tanah sewa,” tutur Hasan. Menurutnya, keuntungan menanam singkong di lahan marginal, hampir sama dengan keuntungan menanam padi di lahan yang baik. “Jangan lupa, biaya menanam padi lebih besar serta perawatan tanam padi jauh lebih rumit dibandingkan singkong,” tambah Hasan lagi.

Fakta di atas dibenarkan oleh Dhofir dan Husin, petani singkong yang tergabung dalam kelompok tani singkong Bangkit Mandiri, Dusun Kalimalang, Mojomulyo, Kecamatan Puger yang dibina oleh Lembaga Penelitian Universitas Jember. Keduanya mencoba menanam singkong di lahan miliknya, masing-masing seluas seperempat hektar. “Menanam singkong itu mudah, lha wong ditancepkan saja sudah hidup. Tidak perlu perawatan seperti menanam padi, pupuknya pun cukup pupuk kandang dan pupuk cair dari koperasi,” tutur Dhofir. Kini keduanya tengah menunggu panen singkong di lahannya. “Jika hasilnya bagus, nanti kami menanam di lahan yang lebih luas lagi,” timpal Husin yang memang masih menanam singkong sebagai sambilan.

Cluster singkong yang dikembangkan oleh Lembaga Penelitian Universitas Jember mulai menampakkan hasil. Selain harga jual yang kompetitif dan memanfaatkan lahan marginal, masih banyak keuntungan yang didapat dari pengolahan singkong. Seperti yang diungkapkan oleh Achmad Subagio. “Limbah kulit singkong dari pabrik chip Mocaf bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak, oleh karena itu kita juga mengembangkan ternak domba. Limbah cairnya digunakan sebagai pupuk cair. Jangan lupa, kita juga menghasilkan tapioka. Bahkan hasil penjualan tapioka tersebut sudah mampu menutupi gaji pekerja pabrik.”

Lain lagi dengan M. Hasan yang asli Gumukmas, dirinya ingin agar anak muda di desanya tidak lagi jadi TKI ke Malaysia mengingat potensi singkong yang luar biasa. “Boleh kerja ke luar negeri, tapi nanti gaji hasil bekerja di Malaysia digunakan sebagai modal bertani singkong,” katanya. Untuk ke depan, Lembaga Penelitian Universitas Jember mencoba untuk mengkombinasikan tanaman singkong dengan tanaman lain, semisal semangka atau melon agar dapat meningkatkan pendapatan petani.

Usaha Lembaga Penelitian Universitas Jember medapatkan dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya dari Kusyanto, Kepala Bidang Ubi-ubian, Direktorat Aneka Kacang dan Ubi-ubian, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian. Menurutnya singkong adalah tanaman yang prospektif, ditunjukkan dengan banyaknya produk turunannya. Namun Kusyanto mengakui perhatian pemerintah kepada pengembangan singkong tidak sebesar perhatian pada pengembangan padi, jagung atau kedelai. “Oleh karena itu inisitaif Lembaga Penelitian Universitas Jember untuk mengembangkan cluster singkong patut didukung,” ujarnya.

Dukungan juga disampaikan langsung oleh Fleur Davies, Minister-Counsellor for Governance and Human Development pada Kedutaan Australia di Indonesia, saat bertemu Rektor Universitas Jember, Moh Hasan dan Ketua Lembaga Penelitian, Achmad Subagio (1/9). Menurut Fleur Davies, pemerintah Australia melalui The Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) setuju membantu program implementasi cluster singkong di masyarakat. Salah satunya dibuktikan dengan dukungan dana sebesar 2,8 milyar rupiah yang dikucurkan hingga tahun 2018 nanti. “Kami gembira melihat program cluster singkong memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Oleh karena itu kami membuka kesempatan kerjasama dengan Universitas Jember di bidang yang lain seperti kesempatan bagi peneliti di Universitas Jember untuk studi lanjut atau berkolaborasi dengan peneliti Australia,” ungkap Fleur Davies yang didampingi Andrew Ash dari CSIRO. (iim)

4 Comments

  • Eric Pratama Gunawan
    Reply

    saya ingin menanyakan , apa bisa saya mendapatkan informasi tentang petani singkong putih disekitar Jember karena saya punya membutuhkan pasokan singkong untuk produksi makanan tradisional (jemblem)???

    • adelina firdaus
      Reply

      Selamat siang saudara Eric, silahkan anda langsung menghubungi bagian Lembaga dan Penelitian di nomer 0331-337818/339385

  • HIPSINDO
    Reply

    Salam revolusi pertanian dari hipsindo, kami punya singkong varietas sembung dan malang-6 siap panen bulan maret, lokasi sekitar bondowoso jember.

    Selengkapnya.. http://bekaspasar.com/index.php?id=13&page=6a77d6a936acc2d1384d57aca5d340a6

  • Nuris Dany Permana
    Reply

    Bagaimana caranya untuk bisa menjadi mitra tani cluster Unej???

Leave us a Comment