Silaturahmi dan Saling Memaafkan, Inti Halalbihalal

Jember, 4 Agustus 2014

Halalbihalal yang merupakan tradisi khas bangsa Indonesia pada intinya mengajarkan pentingnya dua hal, menjalin silaturahmi dan kesediaan saling memaafkan. Tausiyah ini disampaikan oleh Dr. KH. Abdullah Samsyul Arifin di depan keluarga besar Universitas Jember pada acara Halalbihalal yang diselenggarakan di Gedung Soetardjo Kampus Tegalboto (4/8). “Dan perlu diingat, menjalin silaturahmi dan saling memaafkan adalah salah satu inti ajaran agama Islam,” jelas Kyai yang akrab dipanggil Gus Aab ini.

Menurut pria yang juga Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Jember ini, tradisi Halabihalal adalah tradisi asli bangsa Indonesia yang bahkan di kawasan Timur Tengah tidak dikenal. Salah satu versi menceritakan ide pelaksanaan Halabihalal datang dari predisen Soekarno atas nasihat KH. Wakhid Hasyim yang saat itu menjabat sebagai Menteri Agama. Tradisi Halalbihalal muncul sebagai jawaban atas keharusan bagi umat Islam untuk menjalin hubungan baik dengan Tuhan dan sekaligus dengan sesama manusia.

“Puasa Ramadhan menjadi sarana bagi kita untuk menggembleng diri dengan berbagai ibadah yang ujungnya adalah Idul Fitri yang juga bermakna kembali kepada fitrah. Dan salah satu definisi fitrah adalah kembali suci.  Saat manusia dalam kondisi suci inilah, maka dia akan dekat dengan Allah SWT dan dekat dengan sesama insan,” jelas pria yang juga dosen di STAIN Jember ini. Namun untuk mencapai kedekatan sesama manusia maka syaratnya adalah mau mohon maaf dan memaafkan orang lain. Oleh karena itu tradisi Halalbihalal sebagai salah satu kearifan lokal yang merupakan hasil pemikiran para ulama Indonesia memiliki posisi yang penting.

Sementara itu dalam sambutannya, Rektor Universitas Jember, Drs. Moh. Hasan, MSc., PhD mengharapkan agar kesediaan saling memaafkan tidak hanya dilaksanakan saat Idul Fitri di bulan Syawal saja, namun diharapkan akan mewarnai bulan-bulan selanjutnya. “Atas nama lembaga dan pribadi, saya mohon maaf jika selama ini ada sikap, tindak tanduk dan kebijakan yang kurang berkenan,” ujar Drs. Moh. Hasan, MSc., PhD.

Drs. Moh. Hasan, MSc., PhD berharap, momentum Halalbihalal untuk saling meminta maaf dan memaafkan bukan hanya sekedar menjadi acara seremonial saja. Namun menurutnya dua hal tersebut benar-benar dilakukan dengan penuh ketulasan hati. “Semoga saling meminta maaf dan memaafkan ini bisa menjadi kebeiasaan kita selanjutnya tidak hanya satu tahun sekali,” imbuhnya. Selain menerima siraman rohani, keluarga besar Kampus Tegalboto juga dihibur dengan penampilan Grup Qosidah Al Inabah Dharma Wanita Persatuan Universitas Jember dan sajian lontong. (Iim,Mj)

Leave us a Comment