Sejahtera Berkat Semut Rangrang

Jember, 13 Agustus 2014

Kehadiran mahasiswa Universitas Jember dalam program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) di Kecamatan Mumbulsari Jember membawa angin segar bagi perekonomian masyarakat sekitar. Salah satu caranya adalah dengan memberikan pelatihan budi daya semut rangrang (kroto) yang biasa dipakai sebagai pakan burung berkicau. “Budidaya semut rangrang ini merupakan usaha nyata Universitas Jember dalam memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Untuk daerah Jember, budi daya semut rangrang ini yang pertama dilakukan,” ujar Drs. Sujito, PhD., Ketua Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) Universitas Jember.

Jember, 13 Agustus 2014

Kehadiran mahasiswa Universitas Jember dalam program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) di Kecamatan Mumbulsari Jember membawa angin segar bagi perekonomian masyarakat sekitar. Salah satu caranya adalah dengan memberikan pelatihan budi daya semut rangrang (kroto) yang biasa dipakai sebagai pakan burung berkicau. “Budidaya semut rangrang ini merupakan usaha nyata Universitas Jember dalam memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Untuk daerah Jember, budi daya semut rangrang ini yang pertama dilakukan,” ujar Drs. Sujito, PhD., Ketua Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) Universitas Jember.

Awalnya ide budi daya semut rangrang ini berawal dari semakin banyaknya masyarakat peminat burung kicau. Permintaan kroto yang merupakan telur dari semut rangrang semakin besar, sedangkan hasil tangkapan dari alam masih belum mampu memenuhi besarnya permintaan pasar. Berawal dari ide itulah kemudian Universitas Jember melalui mahasiswa KKN memperkenalkan manisnya beternak semut rangrang.

Manisnya berternak semut rangrang diungkapkan oleh Anang Supriyadi, warga Desa Lengkong, yang mengaku sangat terbantu sekali dengan program mahasiswa KKN-PPM Universitas Jember. Dari awalnya 10 sarang yang merupakan bantuan dari Universitas Jember dengan pendampingan teknik budidaya dari mahasiswa, kini dia bisa mengembangkan menjadi 150 sarang. Dari 10 sarang yang dia miliki dia mampu mendapatkan tambahan penghasilan sebesar 800 ribu sampai 1 juta rupiah setiap bulan.

Sementara itu Dadang, warga Desa Mumbulsari yang semula hanya beternak kambing dan sapi kini sudah mulai melirik usaha budidaya semut rangrang. “Enak Mas, budidaya ini tidak ribet hanya cukup dikasih minum air gula sama pakannya cukup belalang atau cecak saja,” ujarnya. Kandang sapi yang dia miliki kini beralih fungsi menjadi tempat menyusun puluhan botol minuman bekas sebagai tempat bersarangnya semut rangrang ini.

Dadang bahkan sudah berencana memperbanyak jumlah sarang semut rangrang miliknya.  “Sepertinya lebih enak budidaya semut Mas, bibitnya tidak usah beli, tinggal cari di alam,” ujarnya. Dadang menambahkan untuk satu sarang dalam waktu dua minggu saja mampu menghasilkan 1-1,5 ons telur semut rangrang atau yang lebih dikenal sebagai kroto dengan harga dipasaran mencapai 80.000 rupiah/Kg. “Kalo saya punya 100 sarang saja Mas, bisa panen minimal 10 kilogram setiap dua Minggu, kalo sebulan 20 kilogram kan lumayan untuk tambahan penghasilan,” pungkasnya.

Ternyata tanggapan masyarakat akan budi daya semut rangrang sangat positif. “Dari semula hanya tiga orang dari desa Mumbulsari, Kawangrejo dan desa Lengkong yang kami bina, kini berkembang menjadi kurang 25 peternak semut rangrang,” tutur Drs. Sujito, PhD saat meresmikan kelompok budidaya semut rangrang di Desa Lengkong (12/8). “Dari semula hanya tiga warga dari tiga desa, desa Mumbulsari, Lengkong dan Kawangrejo yang mendapat bantuan masing-masing 10 sarang indukan untuk dikembangkan, kini sudah ada kurang lebih 25 peternak semut bahkan beberapa sudah ada yang menikmati hasilnya,” imbuhnya.

Menurut dosen FMIPA Universitas Jember ini, LPM Universitas Jember terus berkomitmen untuk melakukan pemberdayaan sosial, ekonomi dan pendidikan kepada masyarakat melalui berbagai cara, salah satunya melalui KKN-PPM). Menurutnya, setiap tahun Universitas Jember menerjunkan ratusan mahasiswa ke desa-desa untuk melakukan program-program pemberdayaan kepada masyarakat. “Pengenalan budidaya semut rangrang ini adalah bagian dari pemberdayaan bidang ekonomi untuk meingkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama Camat Mumbulsari Farikul Mashudi S.Sos sangat mendukung program tersebut. “Ini benar-benar program yang sanagt membantu masyarakat karena dengan memelihara semut saja sudah mendapatkan penghasilan tambahan,” paparnya. Menurutnya, sejak mahasiswa KKN-PPM memperkenalkan budidaya semut kepada masyarakat kini masyarakat sudah banyak yang pelihara. (Mj/iim)

Leave us a Comment