Risfaheri : Pertanian Modern Adalah Tuntutan

IMATETANI_UNEJ-630x330px

Jember, 7 Maret 2017

Prof. (R). Dr. Risfaheri, Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Pascapanen Pertanian, Kementerian Pertanian menegaskan bahwa pertanian modern atau mekanisasi pertanian saat ini adalah sebuah keharusan. Pasalnya pertanian di Indonesia menghadapi permasalahan degradasi sumber daya lahan, pencemaran pertanian, variabilitas dan ketidakpastian iklim, serta konversi dan alih fungsi lahan. Ancaman-ancaman yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian. Pendapat ini disampaikan Risfaheri dalam Seminar Nasional Ikatan mahasiswa Teknologi Pertanian Indonesia (IMATETANI) 2017 di Gedung Soetardjo Kampus Tegalboto (7/3). Seminar nasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember ini adalah salah satu rangkaian acara Kongres XI IMATETANI se-Indonesia.

Risfaheri lantas menambahkan, melalui mekanisasi pertanian diharapkan akan dapat meningkatkan efisiensi, efektifitas, produktivitas tenaga kerja dan lahan, serta kualitas hasil produksi, mengurangi beban petani dan menurunkan ongkos produksi. “Untuk mendukung mekanisasi pertanian, Kementerian Pertanian telah melakukan banyak hal dalam dua tahun terakhir. Diantaranya pengadaan alat mesin pertanian (alsintan) yang mencapai 180.000 unit, subsisdi pupuk sebanyak 9,55 juta ton/tahun, rehabilitasi jaringan irigasi sebanyak 3,05 juta hektar, asuransi pertanian sebanyak 373 ribu hektar, dibuatnya unit pengolahan pupuk organik sebanyak 527 unit dan optimasi lahan sebanyak 1,03 juta hektar. Kesemuanya ditujukan untuk percepatan pembangunan pertanian modern,” ujar Risfaheri yang hadir mewakili Menteri Pertanian.

Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian, mekanisasi pertanian mendorong  peningkatan produksi komoditas unggulan perkebunan, semisal kelapa sawit hingga 14,42 persen, kakao sebanyak 13,6 persen, dan kopi sebanyak 2,47 persen. Angka tersebut menunjukkan angka yang cukup signifikan bagi kinerja Kementerian Pertanian selama dua tahun ini. Di akhir pemaparannya, Risfaheri menyampaikan harapannya agar seluruh mahasiswa Teknik Pertanian yang hadir, dapat berperan untuk mengembangkan mekanisasi pertanian Indonesia dengan kemandirian alat mesin pertanian yang dapat dikembangkan sendiri.

Seminar dibuka oleh M. Sulthon, Wakil Rektor III Universitas Jember didampingi oleh Siswoyo Soekarno, Dekan Fakultas Teknologi Pertanian. Selain menghadirkan pemateri utama, Kepala Balitbang Pascapanen Pertanian, hadir pula Edy Suharianto dari Puslit Kopi dan Kakao, dan Irwan Basri dari PTPN XII. Sebanyak 200 peserta yang merupakan perwakilan IMATETANI dari seluruh Indonesia, kemudian akan berkonggres hingga hari Minggu esok (12/3) guna membahas perkembangan teknologi pertanian di Indonesia dan merumuskan proghram kerja IMATETANI. (lid/del).

Leave us a Comment