Refleksi Hari Pangan Sedunia Perlu Sinergi Antara Pemerintah, Ilmuwan dan Petani Untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan

 

Jember, 15 Oktober 2016

Puspito1

Masalah pangan dan pertanian adalah masalah vital yang menyangkut hajat hidup manusia, bahkan turut menentukan perjalanan sebuah bangsa. Tidak heran jika PBB membentuk organisasi khusus yang menangani bidang pangan dan pertanian, Food And Agriculture Organization (FAO), yang berdiri 16 Oktober 1945. Kini tiap 16 Oktober diperingati sebagai Hari Pangan Sedunia.

Lantas bagaimana dengan Indonesia ? Bicara pangan dan pertanian di Indonesia, maka masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan mulai dari permasalahan ketahanan pangan, swasembada pangan hingga ketersediaan lahan. Sebagai perguruan tinggi yang berada di wilayah pertanian dan perkebunan, Universitas Jember turut terpanggil memberikan sumbangan nyata bagi pengembangan pangan dan pertanian di nusantara.

Menyambut Hari Pangan Sedunia yang di Indonesia akan diperingati di Boyolali, tim Pascasarjana Universitas Jember mewawancarai Agung Nugroho Puspito, Ph.D., dosen Program Magister Bioteknologi yang juga peneliti pada Center for Development of Advanced Science (CDAST), mengenai kondisi pangan dan pertanian di Indonesia, beserta sumbangan Universitas Jember bagi pangan dan pertanian Indonesia.

Bagaimana kondisi ketahanan pangan Indonesia saat ini?

Bicara masalah ketahanan pangan di Indonesia, maka perlu kajian komprehensif karena ini issue yang penting. Muara dari bahasan mengenai ketahanan pangan ini adalah bagaimana kita mampu untuk ber-swadaya dan ber-swasembada.  Kita dulunya bangsa yang mampu memproduksi kebutuhan mentah untuk sandang dan pangan.

Membicarakan ketahanan pangan bagi saya adalah keharusan mengkaji tiga komponen utama yang terlibat di dalamnya. Saya memetakan ini menjadi tiga komponen penting yaitu pemerintah dengan regulasi dan dukungannya, kedua adalah ilmuwan yang memiliki kopetensi di bidang pertanian, teknologi hasil pertanian, juga para ahli agrobisnis dan para ahli lainnya. Komponen terakhir adalah petani itu sendiri. Mensinergiskan fungsi dari tiga komponen tersebut menjadi kunci kesungguhan kita dalam menjawab tantangan ketahanan pangan nasional.

Sebagai ilmuwan, kami di CDAST Universitas Jember berusaha turut berperan dalam menjawab tantangan ketahanan pangan nasional, yaitu dengan kapasitas dan kompetensi kami di bidang bioteknologi dan biologi molekuler. Hal ini tampak dalam tema-tema riset yang coba dikembangkan oleh CDAST, yang mengacu pada kebutuhan nasional. Ini usaha konkrit kami untuk membantu permasalahan nasional.

CDAST dengan dukungan penuh dari pihak Universitas Jember saat ini mampu menghasilkan beberapa produk unggulan, diantaranya tebu transgenik dengan rendemen tinggi. Pengembangan padi rendah amilum, dan adaptif pada semua kondisi lingkungan, juga dikembangkan padi aromatik, golden rice. Tomat varietas baru, juga  perakitan kapas transgenik dengan kualitas fiber lebih baik. Kebetulan penelitian tentang kapas transgenik ini yang sedang saya tekuni. Dari kesemua contoh penelitian tadi, peran bioteknologi menjadi salah satu jawaban dalam menyiapkan diri untuk issue ketahanan pangan nasional. Tentu saja fungsi dan peran dari kami di sini membantu memberi pilihan bagi pemerintah dan petani, yang berupa produk bioteknologi.

Seharusnya apa yang menjadi dasar dan landasan utama ketahanan pangan indionesia saat ini?

Tentu sebagai landasan utama dari suatu ketahanan pangan adalah sinergitas, baik antara pemerintah sebagai pemangku kebijakan, peneliti, dan petani sebagai praktisi pertanian. Jika tiga komponen tadi bersinergi, maka menjadikan suatu kekuatan yang saling mendukung dan melengkapi. Saya meyakini kalau itu terwujud, kita pasti bisa mewujudkan ketahanan pangan yang kokoh dan kuat, kita bisa swasembada pangan seperti jaman orde baru, saya yakin dengan banyaknya ahli bioteknologi di CDAST Universitas Jember, akan memberi banyak pilihan untuk pemerintah dan membantu petani dengan berbagai pilihan tersebut.

Kami melihat banyak penelitian mengenai padi yang dilakukan oleh mahasiswa program Magister Bioteknologi. Jika dikaitkan dengan penelitian tersebut, apakah kontribusi mereka terhadap ketahanan pangan?

Nah itu yang saya katakan tadi, kita utamakan sinergitas. Tugas kita sebagai akademisi sekaligus peneliti, juga bertugas mencetak peneliti-peneliti muda agar mampu mengembangkan teknologi tepat guna, yang selaras dengan kebutuhan nasional juga mampu memenuhi regulasi dari pemerintah. Yang di kembangkan oleh CDAST bukan hanya padi akan tetapi banyak produk bioteknologi lainnya yang di persiapkan untuk menjawab persoalan ketahanan pangan tersebut di masa depan.

Selain itu, kami juga mengembangkan bioteknologi bagi perlindungan tanaman sebagai   pendukung untuk menunjang target ketahanan pangan nasional seperti pengembangan Bakteriofage, Bt-Crop, Herbicide Tolerance-crop. Selanjutnya, untuk mahasiswa yang tergabung dengan CDAST, baik strata satu maupun strata dua, diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengeksplorasi bidang minat yang terkait dengan tema-tema riset di CDAST, untuk itu kita juga berharap lebih pada pemerintah dalam memperhatikan dunia bioteknologi.

Agung Nugroho Puspito menempuh pendidikan strata satu-nya di jurusan Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jember. Kecintaannya kepada bidang biologi mendorongnya untuk melanjutkan studi lanjut ke Program Studi Magister Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Jember. Di sinilah Agung bertemu dua pakar bioteknologi yang kemudian menjadi pembimbing tesisnya, Prof. Dr. Bambang Sugiharto dan Prof. Dr. Tri Agus Siswoyo. Mereka berdua pula yang mendorong Agung untuk meneruskan studi doktoral di bidang biologi melokuler di University of the Punjab, Pakistan, pada 2009 hingga 2015. Kini selain mengajar di Program Studi Magister Bioteknologi, pria kelahiran Probolinggo ini adalah peneliti di CDAST.

Bagaimana konsep seorang peneliti dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional?

Kami sebagai peneliti CDAST Universitas Jember, tentu berfikir untuk jangka panjang dalam pengembangan riset-riset yang ada, semaksimal mungkin mengeksplorasi dan mengembangkan teknologi tepat guna yang bermanfaat bagi masyarakat, memudahkan petani dalam mereduksi biaya produksi, mengembangkan pilihan-pilihan baru dalam dunia bioteknologi.

Dapat saya ambil contoh pada produk tebu transgenik, kami sebagai peneliti hanya memikirkan apa-apa yang perlu dikembangkan, yaitu merakit tebu transgenik dengan rendemen gula tinggi dibanding tanaman asli, harapannya adalah peningkatan produksi gula secara masal. Sementara untuk regulasi atau sistem yang dibutuhkan, saya rasa peran kami di sini kecil sekali. Ini menjadi tanggung jawab pemerintah menurut saya.

Kedua, setiap topik penelitian yang ada di CDAST memiliki road map yang sangat panjang, kontinyu dan berkesinambungan.

Apakah indonesia saat ini sudah dikatakan sebagai negara berswasembada pangan?

Pandangan saya, kita saat ini belum bisa dikatakan swasembada pangan, indikatornya adalah impor produk pertanian yang masih berlanjut sampai sekarang, bahkan garam saja harus impor.

Apa pesan Anda di hari Pangan Sedunia ?

Sebenarnya kita ini memiliki cukup ilmu, hanya saja kemauan keras yang kurang, tapi saya optimis dan yakin, dalam kurun lima sampai sepuluh tahun mendatang kita mampu swasembada pangan. Dengan catatan perhatian serius pemerintah menjadi kuci utama. Selamat Hari Pangan Sedunia.

(Tim Pascasarjana – Humas dan Protokol UNEJ)

1 Comment

  • Ahsanul Mujahid
    Reply

    Memang sebagai peneliti para ilmuwan tidak punya peran dalam regulasi masalah pangan. Akan tetapi para ilmuwan punya satu hal yang bisa menekan pemerintah untuk membuat regulasi baru yang bisa meminimalisir impor atau bahkan menghentikan impor. CDAST bisa menjadi yang terdepan untuk perubahan regulasi di bidang pangan dengan argumen yang ilmiah. Trims

Leave us a Comment