Rakotonirina Seheno Hobiniaina : Ingin Terjun Dalam Dunia Politik Madagaskar

Jember, 29 April 2016.

Wisuda periode IV tahun akademik 2015/2016 tanggal 18 April yang lalu menyisakan fakta menarik. Ada 114 lulusan yang berhak lulus dengan predikat cumlaude (dengan pujian) karena mencetak IPK melebihi 3,50. Jumlah yang menjadi rekor selama sejarah wisuda di Kampus Tegalboto. Kemudian 220 wisudawan lulus tepat waktu, yang didominasi lulusan Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi. Cerita lain adalah diwisudanya tiga lulusan asal luar negeri yakni dari Madagaskar, Thailand dan Timor Leste.

Wisudawan asal Madagaskar, Rakotonirina Seheno Hubiniaina, mengungkapkan  kegembiraannya berhasil menyelesaikan studi di Kampus Tegalboto. “Bahagia sekali, akhirnya bisa lulus, tapi juga sedih karena bakal meninggalkan kota Jember,” kata gadis yang akrab dipanggil Seheno ini. Seheno menyempatkan diri mampir ke Bagian Humas dan Protokol setelah berpamitan kepada Pembantu Rektor I, Zulfikar, PhD. “Bulan Mei nanti saya bakal pulang ke Antananarivo, jadi setelah pamit ke Pak Zulfikar, juga pamit ke Pak Agung Purwanto, ” lanjut lulusan jurusan Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember, yang selama mengerjakan skripsi dibimbing oleh Agung Purwanto, Kepala Humas dan Protokol Universitas Jember ini.

Seheno lantas bercerita bahwa skripsinya berfokus pada krisis politik yang mendera Madagaskar di tahun 2009 lalu. Ketika itu Presiden Marc Ravalomanana berseteru dengan Andry Rajoelina, Walikota Antananarivo yang merupakan ibukota Madagsakar. Perseteruan ini membuat Madagaskar mengalami kerusuhan yang menelan korban kurang lebih 100 jiwa terbunuh. “Kedua tokoh tadi sama-sama punya pengaruh, sama-sama orang kaya sehingga pengikutnya pun sama-sama banyaknya,” tutur Seheno yang siang itu ditemani rekannya Razafiarimanana Alain. Untungnya krisis ini mereda, setelah kedua tokoh sepakat untuk tidak mencalonkan diri sebagai presiden Madagaskar guna menghindari perpecahan yang lebih luas.

Ternyata bekal Ilmu Hubungan Internasional yang erat berkaitan dengan dunia politik, yang didapat oleh Seheno bakal diaplikasikan setibanya di Madagaskar. “Saya ingin berkiprah di dunia politik Madagaskar, apalagi skripsi saya membahas mengenai perpolitikan Madagaskar,” jawab Seheno saat ditanya apa rencananya nanti di Madagaskar. Rupanya, cita-cita Seheno ini sedikit banyak dipengaruhi oleh cerita ibunya yang sehari-hari bertugas sebagai pegawai negeri di sekertariat senat Madagaskar. “Saya banyak mendengar cerita mengenai bagaimana senat bekerja dari Ibu,” tutur Seheno yang masih belum tahu bakal masuk partai apa di Madagaskar.

Tiga tahun lebih tinggal di Jember, membuat Seheno memiliki banyak cerita dan pengalaman indah yang tak terlupakan. “Saya sudah jalan-jalan ke Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta dan beberapa kota lainnya bersama kawan-kawan sesama mahasiswa dari Madagaskar. Selama berkeliling tadi kami banyak bertemu kenalan baru, yang anehnya seringkali tidak percaya kalau saya ini asli Madagaskar,” kenang Seheno sambil tertawa. “Habis perawakan dan wajah kami tidak berbeda dengan orang Indonesia. Dan ini bukan kebetulan belaka, kami di sekolah diajari bahwa nenek moyang orang Madagaskar memang berasal dari Indonesia,” tambah gadis yang mengaku bakal rindu dengan nasi pecel dan nasi goreng ini. (iim)

Leave us a Comment