PSIK Siap Mendukung Program Satu Desa Satu Perawat

DSC_1738

Jember, 6 November 2017

Ns. Wantiyah, S.Kep., M.Kep Wakil Dekan I Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember mengaku siap mendukung program satu desa satu perawat yang yang dicanangkan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Bentuk dukungan yang dilakukan oleh PSIK adalah dengan membekali para lulusan dengan kompetensi community leader dan manager.

“Sebagai salah satu institusi keperawatan yang ada di Jawa Timur tentunya kami harus mendukung program satu perawat satu desa. Hal ini kami lakukan dengan menyiapkan para lulusan yang siap diterjunkan pada masyarakat dalam memberikan asuhan keperawatan komunitas,” ujar Wantiyah saat wawancara dalam acara “3rd Internasional nursing conference Community Health Empowerment: Step Up Action Attaining Sustainable Development Goals” yang digelar di hotel Royal Jember,4-5/10.

Menurut Wantiah, sebagai institusi keperawatan PSIK terus berkomitmen untuk melahirkan para tenaga perawat (ners) yang mampu memberikan perawatan bidang kesehatan melalui tindakan pencegehan.

“Sebenarnya fokus tenaga keperawatan adalah memberikan perawatan bidang kesehatan melalui tindakan pencegahan bukan fokus pada pengobatan yang sakit. Sehingga para ners harus mampu memeberikan pemberdayaan kepada masyarakat mengenai pola hidup yang sehat dalam rangka mencegah terjadinya penyakit,” jelas Wantiah.

Dalam acara yang menghadirkan pemateri dari 5 negara, Taiwan, Singapore, Filipina, Thailand, Indonesia ini Wantiah mengatakan, untuk meningkatkan kompetensi lulusan dan untuk menambah pengalaman asuhan keperawatan tingkat internasional PSIK akan segera menggandeng beberapa Universitas yang ada di Asia.

“Dalam menghadapi era MEA, kedepan kami akan segera menjalin kerjasama dengan beberapa universitas di Asia khususnya University of San Carlos Filipina dan Prince of Songkla University Thailand dalam bidang pertukaran mahasiswa dan dosen. Sehingga lulusan PSIK siap untuk bersaing dengan tenaga perawat asing dalam era MEA,” jelas Wantiah.

Sementara itu Siswoyo ketua panitia mengatakan, acara seminar internasional ini dalam rangka memberikan penguatan kembali mengenai aspek perawatan kesehatan masyarakat.

“Konfrensi ini juga dalam rangka mencoba menggali bagaimana upaya yang dilakukan oleh negara lain dalam mengatasi persoalan kesehatan komunitas. Dari para pemateri peserta akan mendapatkan gambaran mengenai isu-isu keperawatan bidang kesehatan dari negara lain,” ujar Siswoyo.

Acara seminar internasional ini dihadiri oleh 197 peserta yang merupakan perwakilan dari sekolah-sekolah kesehatan, Puskesmas dan Dinas Kesehatan.

“Kami berharap acara ini bisa menjadi masukan bagi dinas-dinas terkait dalam menangani masalah komunitas. Sehingga kedepan kami berharap penanganannya tidak berfokus pada tindakan pengobatan namun lebih pada pencegahan melalui program penyuluhan,” pungkas Siswoyo.