Program Mitigasi Berbasis Lahan Universitas Jember (2)

tnmb_UNEJ-630x330px

Antara Menyeimbangkan Tuntutan Ekonomi dan Menjaga Ekosistem

Jember, 24 Maret 2017

tnmb_UNEJGonjang ganjing politik dan pergeseran kekuasaan di tahun 1998 ternyata tidak hanya berdampak pada kondisi ekonomi dan sosial budaya Indonesia saja, bahkan membawa dampak bagi lingkungan. Salah satu contohnya yang dialami oleh Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) yang berada di Jember. Eforia kebebasan yang berkelindan dengan kebutuhan ekonomi oleh sebagian orang disalurkan dengan cara destruktif, dengan membabat pohon di TNMB. Akibatnya bencana pun datang, banjir di musim hujan dan kekurangan air di musim kemarau, belum lagi ancaman perubahan iklim kini mulai menghantui. Peristiwa yang terjadi sembilan belas tahun yang lalu, bekasnya tetap terasa hingga kini. Jika tidak ada penanganan yang serius, dampak buruknya bakal dirasakan hingga anak cucu kita.

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, TNMB dan pihak-pihak lain bukannya tanpa usaha, dari penanaman kembali hutan yang gundul, hingga membangun kerjasama dengan masyarakat desa sebagai penyangga taman nasional sudah dilakukan. Namun tentu saja kerja besar ini tidak mungkin terlaksana tanpa dukungan semua pihak. Untuk itu Universitas Jember dengan dukungan dana dari Indonesia Climate Change Trust, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bappenas, USAID serta TNBM, menggelar Program Mitigasi Berbasis Lahan dengan enam program yang dijalankan di Resort Wonoasri. Selain bakal merehabilitasi hutan di resort Wonoasri, Tim Mitigasi Berbasis Lahan Universitas Jember berupaya memberdayakan masyarakat Desa Wonoasri.

Setelah di hari pertama (15/3) para peneliti bertemu, berdiskusi, serta menyerap aspirasi warga Desa Wonoasri, pada hari kedua Tim Humas diajak melihat langsung kondisi terakhir Resort Wonoasri. Berikut laporan Iim Fahmi Ilman.

Hari II, 16 Maret 2016.

            Setelah berkendara dengan mobil selama kurang lebih satu jam dari kampus Tegalboto, kami pun sampai di balai Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo. Di sana sudah ada Hari Sulistyowati, salah seorang peneliti Program Mitigasi Berbasis Lahan, yang tengah memberikan briefing kepada kurang lebih 20 mahasiswa. Tampak juga Arif Yuwono, Kepala Resort Wonoasri bersama tiga orang stafnya yang bakal memandu kami. Resort Wonoasri berjarak kurang lebih delapan kilometer dari balai desa dan hanya bisa dijangkau dengan sepeda motor. Hujan yang turun kemarin membuat jalanan menjadi lebih sulit dilalui.

            Selepas afdeling Guci Putih, perjalanan makin berat, kubangan air dan lumpur menghadang kami. Salah seorang mahasiswi bahkan sempat terjatuh, akibatnya celana dan pakaiannya basah kuyup. Untuk mencegah kecelakaan akibat beratnya medan, kami memutuskan agar anggota tim laki-laki yang bertugas mengendarai motor, yang perempuan duduk di belakang. Begitu keluar dari jalanan perkebunan, kendaraan kami tidak bisa lagi melanjutkan perjalanan. Akhirnya diputuskan untuk memarkir semua sepeda motor di sebuah tempat dengan dijaga seorang staf TNMB.

            Kami pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar empat kilometer lagi. Pemandangan yang indah disepanjang perjalanan cukup menghibur Tim Humas yang mulai kehausan, pasalnya tas berisi makanan dan air justru ditaruh di balai desa. Sepanjang jalan kami juga saling guyon, sebabnya salah satu staf Humas, Dian, salah kostum. Bukannya memakai pakaian kasual untuk kegiatan di alam bebas, Dian malah memakai celana kain dan sepatu pantofel, lengkap dengan ransel berisi laptop. Selain bertugas mengambil gambar, kebetulan Dian yang juga tengah melanjutkan studi di Program Magister Teknik Sipil Universitas Jember ini, tertarik untuk memetakan potensi bencana di seputaran TNMB.

            Rombongan berhenti di sebuah lokasi. Hari Sulistyowati yang memandu perjalanan menunjukkan kepada kami hamparan tanaman Pueraria javanica atau yang lebih akrab disebut sebagai PJ oleh para petani di Desa Wonoasri. Tanaman jenis biji kacangan ini tumbuh subur menutupi hamparan tanah yang cukup luas. “Coba dilihat Mas, untuk tumbuh dengan baik tanaman PJ ini membutuhkan banyak sinar matahari. Dan untuk memastikan tanaman PJ mendapatkan cukup sinar matahari, para petani secara rutin memotong ranting dan daun-daun pepohonan yang ada. Akibatnya pohon-pohon di lokasi ini sulit berkembang,” jelas dosen Program Studi Biologi FMIPA ini.

2

            Ia lantas mengalihkan pandangan ke arah lain, tepatnya di hamparan padi tegalan atau padi gogo rancah yang ditanam di sela-sela pepohonan hutan. Tidak hanya di tanah yang landai, kami menemukan para petani juga menanam padi di lahan yang memiliki kemiringan cukup curam. “Seharusnya tidak boleh ada persawahan di resort Wonoasri karena memang bukan peruntukannya. Jika hujan turun dengan intensitas tinggi, maka tidak ada lagi penyerap dan penahan air. Selain itu tanaman padi itu rakus nutrisi yang ada di tanah, akhirnya yang kalah tentu pohon-pohon di hutan. Lihat semuanya kurus-kurus,” kata Hari sambil menunjuk ke arah pepohonan, beberapa mahasiswa mencatat penjelasan sang dosen.

3

            Para mahasiswa yang terlibat dalam program Mitigasi Berbasis Lahan umumnya adalah para mahasiswa yang tengah mengerjakan skripsi. Mereka berasal dari berbagai fakultas antara lain FMIPA, FKIP dan Fakultas Pertanian. Ada yang tertarik meneliti fauna, flora dan sisi ekologis lainnya dari TNMB, ada juga yang lebih tertarik pada bidang pemberdayaan masyarakat di seputar TNBM. Seperti yang disampaikan oleh Putri, mahasiswi Biologi FMIPA yang hari itu terlihat sibuk mencatat dan meneliti pepohonan yang ada. “Kebetulan saya akan meneliti mengenai tanaman bambu yang ada di resort Wonoasri,” ujar mahasiswi angkatan 2013 ini.

            Minimnya kuantitas dan kualitas pohon di resort Wonoasri diakui oleh Arif Yuwono. Sambil beristirahat di sebuah gubug sederhana, pria yang sudah mengabdi selama kurang lebih 30 tahun di TNMB menceritakan kondisi umum resort yang dipimpinnya. “Selepas kejadian penebangan hutan di tahun 1998, kami mulai merehabilitasi kembali resort Wonoasri dan melakukan pendekatan persuasif kepada masyarakat sekitar TNMB. Kami memang tidak bisa serta merta melarang warga untuk memanfaatkan hutan, sebab desakan ekonomi seringkali memang tidak bisa dicegah,” katanya.

“Target awal kami bagaimana agar masyarakat tidak lagi menebang pohon di hutan, serta mau menanam dan menjaga pohon. Oleh karena itu kami menanam tanaman ekonomis non kayu seperti pohon nangka, alpukat, kemiri dan sebagainya. Jika berbuah, boleh diambil oleh warga asal pohonnya tidak ditebang. Beberapa warga juga masih bersawah di dalam hutan, memang perlu kesabaran memberikan penyadaran pada warga,” tambah Arif. Setelah cukup beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke arah bukit. Kali ini kami harus lebih hati-hati karena jalanan menanjak. Sesampainya di atas bukit, tampak pemandangan hutan yang rapat dengan pohon sehingga dedaunannya membentuk kanopi yang membikin rindang. Sementara di sebelahnya justru hamparan tanah dengan jarak antar pohon yang renggang.

“Itu nanti yang bakal menjadi lahan rehabilitasi kita,” ujar Hari Sulistyowati sambil menujuk ke arah lahan yang sedikit memiliki pohon. Sambil duduk di tanah kami pun mengobrol. “Dari hasil penelitian kami sebelumnya, kerapatan tanaman di Wonoasri hanya berkisar 234 batang per hektar, keragaman jenis tanamannya pun kurang. Padahal idealnya, setiap hektar harus ditumbuhi 1000 hingga 1200 tanaman per hektar. Dengan program Mitigasi Bencana Berbasis Lahan yang didanai oleh Indonesia Climate Change Trust, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bappenas, USAID dan TNMB, kami menargetkan nanti ada 400 sampai 700 batang tanaman ekonomis non kayu per hektar di resort Wonoasri,” jelas pakar valuasi lingkungan ini.

4

            Ibu tiga anak ini lantas meneruskan penjelasannya. “Kami juga memiliki program  pemberdayaan masyarakat, harapannya mereka memiliki penghasilan yang cukup sehingga tidak merambah hutan lagi. Beberapa program yang sudah kita agendakan, usulannya berasal dari warga sendiri. Misalnya pengolahan kripik dan sale pisang, pengolahan produk olahan jamur, pembuatan jamu dari tanaman Toga. Termasuk pembuatan pakan fermentasi untuk ternak. Karena seringkali di saat kemarau rumput untuk pakan ternak menghilang, maka warga pun mengambil dedaunan pohon di hutan. Kita berusaha agar kebutuhan ekonomi warga terpenuhi, sementara hutan tetap lestari,” imbuh Hari Sulistyowati.

            Hari beranjak siang, matahari sudah di atas kepala. Beberapa mahasiswa terlihat masih tekun mengamati kondisi hutan resort Wonoasri, beberapa kupu-kupu berhasil ditangkap. Contoh spesimen tumbuhan paku dan jamur juga sudah didapat. Kami pun memutuskan untuk kembali ke balai desa, khawatir hujan turun. Apalagi kemarin selepas dhuhur turun hujan deras. Dalam perjalanan pulang menyusuri jalanan hutan, banyak pengetahuan baru kami dapatkan. Dari tumbuhan mana yang beracun hingga cerita mengenai fauna penghuni hutan resort Wonoasri.

            Tanpa sengaja kami bertemu seorang petani yang sedang membersihkan gulma di sawah tegalannya. Pak Sabar namanya. Salah seorang rekan, Khalida berinisiatif ngobrol dengannya. Ketika ditanya mengapa membuka sawah di hutan, Pak Sabar menjawab dengan lugunya. “Saya tidak punya lahan. Jadi memanfaatkan lahan di hutan untuk menanam padi. Hasilnya untuk makan,” jawabnya. Rupanya tugas untuk menyeimbangkan antara tuntutan ekonomi dengan menjaga ekosistem masih panjang dan berliku. Perlu kerjasama semua stake holder karena menjaga lingkungan adalah kewajiban bersama. Namun paling tidak langkah itu sudah dimulai oleh Universitas Jember melalui program Mitigasi Bencana Berbasis Lahan yang didukung oleh Indonesia Climate Change Trust, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bappenas, USAID dan TNMB.

Leave us a Comment