Profil Solichin Lutfiyanto, Direktur Kepatuhan BRI Jadi Bankir Atas Saran Ibu

Wisuda-5_UNEJ-768×512

Jember, 29 Oktober 2018

Restu orang tua, terutama Ibu adalah salah satu sumber kesuksesan. Keyakinan ini rupanya benar-benar dipegang oleh Achmad Solichin Lutfiyanto, Direktur Kepatuhan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Solichin, begitu panggilan akrabnya, mengaku jika dirinya yang lulusan Program Studi Teknologi Hasil Pertanian memilih jadi bankir atas saran sang Ibu. “Awalnya saya bekerja di sebuah perusahaan pengolahan makanan di Sidoarjo sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, tapi Ibu menyarankan agar saya pindah kerja saat BRI membuka lowongan pekerjaan, dan ternyata saran Ibu yang mengantarkan saya di posisi saat ini,” ungkap Solichin. Kisah ini dibagikan kepada wisudawan yang mengikuti kegiatan upacara wisuda periode II tahun akademik 2018/2019 di Gedung Soetardjo (27/10).

Di hadapan 899 wisudawan, pria asal kota Malang ini lantas mengisahkan perjalanan kariernya hingga mencapai posisi Direktur Kepatuhan BRI. “Di awal karir, saya ditempatkan di BRI Watampone, yang merupakan ibu kota kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Asal tahu saja, bahkan nama Watampone saja baru saya ketahui saat penempatan. Awalnya saya pikir Watampone ada di pulau Sumatera, saya cari di peta gak ada, aaya cari di peta pulau Kalimantan juga gak ada, eh gak tahunya ternyata ada di Sulawesi Selatan,” ujar pria yang lulus tahun 1990 dari Kampus Tegalboto dengan predikat wisudawan dengan IPK tertinggi, lulus tercepat, dan lulusan termuda ini.

Solichin muda pun meniti karier mulai dari nol di BRI. Ternyata prestasinya moncer hingga ditarik ke BRI pusat di Jakarta, bahkan mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang strata dua yang diraihnya juga dengan predikat lulusan terbaik. Berbagai jabatan di BRI pun dilakoninya, hingga akhirnya mendapatkan amanah sebagai Direktur Kepatuhan BRI. “Agar sukses bekalnya kerja keras, mau selalu belajar, jalani pekerjaan dengan totalitas agar ihklas, sebab ikhlas memunculkan produktivitas yang barokah. Dan jangan lupa restu dan doa orang tua,” pesan Solichin kepada seluruh wisudawan.

Solichin lantas berharap agar segenap lulusan Universitas Jember memiliki rasa percaya diri dalam mengarungi ganasnya persaingan kerja. “Lulusan Universitas Jember harus yakin mampu bersaing, sebab Anda adalah lulusan salah satu perguruan terbaik di Indonesia. Sementara bagi Kampus Tegalboto, selain memberikan bekal ilmu sesuai dengan program studi masing-masing, sebaiknya memperbanyak bekal berupa softskill semisal kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dalam tim, serta selalu mau belajar sesuai dengan tuntutan perkembangan jaman,” imbuh Solichin yang sewaktu kuliah satu angkatan dengan Prof. Achmad Subagio, pakar tepung singkong (MOCAF) yang juga Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Jember.

Dalam orasinya, Solichin lantas bercerita jika dirinya tidak menyangka jika dua puluh delapan tahun setelah lulus dapat kembali ke Gedung Soetardjo guna membagikan perjalanan kariernya. “Seperti deja vu, bisa berdiri di hadapan wisudawan semuanya, tidak mengira saja bisa mendapatkan kehormatan seperti ini,” ceritanya sambil disambut aplaus para hadirin yang memenuhi Gedung Soetardjo. Di akhir orasi, bapak dua putra ini lantas mengingatkan semua wisudawan Universitas Jember bahwa sukses adalah sebuah proses panjang yang memerlukan perjuangan. “Sukses itu bak puncak gunung es, yang terlihat hanya gambaran yang enak saja, padahal di bawahnya ada kerja keras,” pungkas Solichin. (iim)