Pada tahun 2006 alih status sebagai Pegawai Negeri Sipil dan menjabat Kepala Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (Bakornas PB), yang kemudian berganti menjadi BNPB hingga sekarang. Selama berkarir dalam penanggulangan bencana, telah beberapa kali menjadi pembicara seminar internasional di Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Jepang, Swiss, Kanada, Selandia Baru, Kamboja, Australia, Turki, Spanyol, Belanda, dan Mesir.

Selama tahun 2004-2006 menjadi Ketua Pokja Sosial Ekonomi Kerjasama Indonesia-Malaysia. Pada tahun 2010, menjadi keynote speaker pada World Reconstruction Conference di Jenewa, Swiss. Pada tahun 2010, sebagai Ketua Delegasi Pemerintah Indonesia pada 4th Asian Ministerial Conference on Disaster Risk Reduction di Incheon, Korea Selatan. Pada tahun 2011 ditunjuk oleh Presiden RI, sebagai focal point dan hadir pada 3rd Global Platform for Disaster Risk Reduction di Jenewa, Swiss sebagai bagian dari delegasi Indonesia. Pada tahun 2011 menjadi Chairman ARF Direx (Asean Regional Forum Disaster Relief Exercise) di Manado yang diikuti 27 negara. Pada tahun 2012 menjadi Chairman dalam 5th Asian Ministerial Conference on Disaster Risk Reduction (AMCDRR) di Yogyakarta yang dihadiri 62 negara dan tercatat sebagai ajang AMCDRR terbesar. Pada tahun 2013 menjadi keynote speaker dalam konferensi internasional the Global Thematic Consultation on Disaster Risk Reduction and the Post-2015 Development Agenda di Jakarta. Pada tahun 2013 menjadi Ketua Delegasi Pemerintah Indonesia pada The Global Platform for Disaster Reduction di Geneva, Swiss. Tahun 2014 menjadi Ketua Delegasi Pemerintah Indonesia pada The 6th Asian Ministerial Conference on Disaster Risk Reduction di Bangkok, Thailand. Pada Maret 2015, menjadi moderator dalam Working Session: Lesson From Mega-Disasters di Third UN World Conference on Disaster Risk Reduction, Sendai, Jepang. Dalam konferensi dunia di Sendai tersebut juga menyampaikan statement dalam Ministerial Roundtable Governing Disaster Risk: Overcomming Challenges, dan Ministerial Roundtable:  Reducing Risk in Urban Setting.

Publikasi ilmiah yang telah banyak dihasilkan, baik jurnal ilmiah internasional, jurnal ilmiah nasional, buku atau bagian dari buku yang diterbitkan tingkat nasional, artikel ilmiah populer di media massa, dan makalah tidak diterbitkan. Banyak keikutsertaan sebagai pembicara dalam kegiatan ilmiah di tingkat internasional dan di tingkat nasional. Beberapa buku yang telah diterbitkan antara lain: Militer Pasca Perang Dingin: Militer Posmo (2010); Militer Dalam Parlemen 1960-2004 (2010); Perilaku Kolektif Dan Gerakan Sosial (2011); Kapital Sosial (2011); Merapi Menyapa Kehidupan, Hidup Harmonis di Lereng Merapi (2012); Pikiran dan Gagasan Penanggulangan Bencana di Indonesia (2012); Lima Tahun BNPB: Tumbuh, Utuh, Tangguh (2013), dan sebagainya. Beberapa jurnal ilmiah yang telah diterbitkan antara lain: Bencana dan Penanggulangannya, Tinjauan dari Aspek Sosiologis (2010); Meningkatkan Kapasitas Masyarakat Dalam Mengatasi Resiko Bencana Kekeringan (2011); Kontestasi Pengetahuan Dan Pemaknaan Tentang Ancaman Bencana Alam (Studi Kasus Ancaman Bencana Gunung Merapi) (2012); Initation Of The Desa Tangguh Bencana Through Stimulus-Response Method (2012), Sosiologi Bencana (2014), dan sebagainya. Selain itu, juga telah menyusun beberapa bahan ajar perkuliahan di bidang Kapital Sosial, Sosiologi Politik, Sosiologi Lingkungan, Sosiologi Kebencanaan, Manajemen Bencana, Analisis Risiko Bencana, dan Analisis Statistika Lingkungan dan Kebencanaan.

Di dunia akademik, aktif menjadi dosen tidak tetap di Jurusan Sosiologi, FISIP, Universitas Jember, dosen tetap di Program Studi Magister of Disaster Management for National Security, Universitas Pertahanan (Unhan) Indonesia, dosen Pascasarjana di Universitas Bung Hatta, Padang, serta dosen tamu di ITB Bandung, UGM Yogyakarta, Sesko TNI-AD dan Sesko TNI. Banyak melakukan bimbingan kepada mahasiswa S1, S2,d an S3. Selain itu, juga menjadi Ketua Dewan Pembina Ikatan Ahli ke-Bencanaan Indonesia (IABI), Ketua Dewan Pembina Forum Peduli Bencana Indonesia (FPBI), Ketua Dewan Penasihat Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana (Planas PRB), dan anggota Advisory Board Pusat Penelitian Mitigasi Bencana, ITB Bandung.

Beberapa penghargaan yang pernah diperoleh antara lain: Penganugerahan gelar dari Keraton Surakarta pada 2002 atas jasa beliau dalam pelestarian budaya, dengan gelar Kanjeng Raden Haryo Tumenggung (KRHT) sehingga diberi nama KRHT Syamsul Maarif Martodipuro, yang artinya penjaga negara. Pada 2010 memperoleh gelar Nusa Reksa Pratama oleh UGM Yogyakarta atas kepedulian terhadap penanggulangan bencana di Indonesia. Pada tahun 2011 Pemerintah Indonesia memberikan tanda penghormatan Bintang Mahaputra Utama. Satu tahun berselang, masyarakat adat Sumba Timur menganugerahi Umbu Ratu Jawa atas kepedulian kepada masyarakat Nusa Tenggara Timur, khususnya masyarakat Sumba. Pada 2012, masyarakat adat Minangkabau di Sumatera Barat memberi gelar Sangsako, Yang Dipatuan Rajo Maulana Paga Alam  di Istana Pagaruyung, Tanah Datar. Pada 2012, Sri Sultan HB X memberikan penghargaan Duta Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat. Tahun 2014, Sultan Kutai Kartanegara memberikan gelar Pangeran Merto Negoro, dan tahun 2014 Pemerintah Indonesia memberikan tanda penghormatan Bintang Mahaputra Adipradana. Di tahun 2014, juga mendapat penghargaan dari Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat yakni lencana Bhakti Kesra Utama. Pada tahun 2015, masyarakat Raja Ampat, Papua, memberikan gelar Snon Soren yang artinya Raja Laut.

Leave us a Comment