Prof. Jun Honna : Hubungan Internasional Di Era Globalisasi Dipengaruhi Tiga Faktor Utama

Jember, 9 November 2016

Hubungan Internasional antar negara di era globalisasi saat ini dipengaruhi oleh tiga faktor utama. Pertama berubahnya hubungan antar bangsa (nation to nation) menjadi hubungan langsung antar masyarakat lokal (local to local), kedua dari yang semula kontak antar pemerintah (goverment to goverment) menjadi antar masyarakat sipil (civil society to civil society). Ketiga bergesernya hubungan yang semata sekedar bisnis menjadi hubungan yang mendasarkan pada kerjasama antar budaya (bussiness oriented to cultural oriented relationship). Pendapat ini dilontarkan Prof. Jun Honna, Director of International Relations and Area Studies, Ritsumeikan University, Kyoto, Jepang, di aula lantai III gedung rektorat dr. R. Achmad (9/11). Prof. Jun Honna hadir memberikan kuliah umum berjudul “Reinventing a New Indonesia-Japan Relationship in The Age of Globalism”.

Prof. Jun Honna lantas melanjutkan pemaparannya. Menurut pria yang juga pakar Asia Tenggara ini, dua puluh tahun yang lalu, hubungan internasional pasti identik dengan hubungan antar negara dan pemerintahannya. Namun saat ini kita dapat melihat dengan adanya kemajuan teknologi informasi dan transportasi, maka penduduk sebuah negara dapat melakukan kontak langsung dengan penduduk negara lain. “Tiga belas tahun lalu saat saya berkunjung ke Jember belum ada bandara, akses internet masih terbatas, namun kini warga asing kini makin mudah melakukan kontak dengan warga Jember,” ujar profesor yang fasih berbahasa Indonesia ini.

Jun Honna juga mengamati, perubahan transformatif dari nation to nation menjadi local to local dalam hubungan internasional membuka lebih banyak kesempatan kerjasama. “Seperti saat ini, Ritsumeikan University memilih bermitra dengan Universitas Jember, bukan tidak mungkin nanti akan berkembang kerjasama antara Jember dengan Kyoto. Hal ini didukung dengan adanya kebijakan desentralisasi yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia,” tambah dosen yang mengampu mata kuliah politik dan keamanan Asia Tenggara ini.

Kedua, di era globalisasi, peran negara (goverment) makin berkurang digantikan dengan aktor-aktor non negara (civil society) seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sampai artis. Jun Honna lantas mencontohkan bagaimana kerjasama antar pegiat LSM antar negara lebih efektif menyelesaikan banyak masalah, dibandingkan jika melalui jalur birokrasi. “Bahkan kehadiran artis yang membawa diplomasi budaya sebuah negara seringkali lebih mudah diterima, malahan berkembang jadi populer,” tuturnya.

Kemudian, berubahnya kesadaran banyak pihak akan pentingnya hubungan yang berlandaskan kerjasama antar budaya, yang mulai menggeser motif bisnis belaka. “Dulu jika orang Jepang ditanya pendapatnya mengenai Indonesia, maka yang terlintas adalah negara dengan potensi sumber daya alam yang melimpah seperti minyak, gas bumi atau kayu yang berpotensi menjadi bisnis. Jika disebutkan nama Jember, maka yang teringat adalah kedelai edamame, tapi kini mulai berubah. Mulai ada kesadaran bahwa hubungan antar negara makin baik jika berlandaskan akan pemahaman budaya masing-masing. Oleh karena itu, saya usul kajian hubungan Internasional diubah menjadi Hubungan Global, karena kata Internasional selama ini identik dengan hubungan yang dilaksanakan oleh pihak negara atau pemerintah saja,” tambah Jun honna yang rutin memberikan kuliah dan seminar di Indonesia ini.

Kuliah umum Prof. Jun Honna mendapatkan sambutan hangat dari para peserta, yang didominasi oleh dosen dan mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember. Hal ini tampak dari banyaknya penanya saat sesi diskusi dibuka oleh Moh. Hasan, Rektor Universitas Jember yang siang itu menjadi moderator acara. Sebelum acara kuliah umum berlangsung, terlebih dahulu dilaksanakan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara Center for Research in Social Sciences and Humanities (C-RiSSH) Universitas Jember, yang diwakili oleh Rektor Universitas Jember, dengan Prof. Jun Honna,  Director of International Relations and Area Studies, Ritsumeikan University, Kyoto. Penandatanganan MoA sekaligus menandai soft launching C-RiSSH sebagai lembaga yang mewadahi penelitian di bidang ilmu sosial dan humaniora di Kampus Tegalboto. (iim)

1 Comment

  • Viska
    Reply

    tidak usah di jember prof, di kota besar indonesia aja akses internet masih terbatas (baca: berkuota), terutama yang menggunakan mobile broadband… coba bandingin ama internet nya negara si profesor. wah seperti semut dengan gunung mungkin.

    titip link ya min, mana tau universitasnya ada pembaharuan sarana, kami menyediakan kursi kuliah juga.
    http://mitrakantor.com/produk/kursi-kuliah/

Leave us a Comment