Petani Tembakau Harus Waspadai Dampak La Nina

FoSSA3_UNEJ

Jember, 2 Agustus 2017

Para petani tembakau di Jember dan daerah lainnya harus mewaspadai dampak dari fenomena La Nina. Menurut Prof. Dr. Yuli Hariati, tahun 2017 diwarnai dengan kemunculan La Nina yang membawa hujan berlebih. “Jika El Nino membawa musin kemarau hingga membuat daun tembakau kering, maka La Nina dikhawatirkan membuat bagian akar tembakau layu karena hujan yang berkepanjangan,” jelas Prof. Dr. Yuli Hariyati di sela-sela konferensi internasional bertajuk Building of Food Sovereignity through a Sustainable Agriculture (FoSSA) 2017, yang dimotori oleh Fakultas Pertanian Universitas Jember (1-3/8).

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Jember ini lantas menyarankan agar petani tembakau membuat banyak juringan sehingga air bisa mengalir ke selokan dengan mudah. “Petani juga bisa membuat guludan semu dengan mengangkat tanah dibagian samping tanaman tembakau untuk digunakan menutupi akar tembakau untuk mengurangi resiko penyakit busuk pada akar tembakau,” imbuh Yuli lagi. Lontaran pernyataan Yuli yang juga Ketua Panitia FoSSA 2017 seiring dengan salah satu tema yang dibahas dalam pertemuan para ahli pertanian, pangan dan energi dari tujuh negara ini, yakni pertanian berkelanjutan dan perubahan iklim yang berpotensi mengancam kedaulatan pangan.

Seperti  yang disampaikan sebelumnya oleh Dr. Nur Masripatin, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pada saat hari pertama pelaksanaan FoSSA  (1/8), Indonesia menghadapi masalah terkait perubahan iklim. Hal ini dikarenakan Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar, dan belum adanya pemahaman yang komprehensif mengenai perubahan iklim, terutama oleh kalangan petani yang bakal mengalami dampak langsung dari perubahan iklim.

“Direktorat Jenderal PPI memiliki dua program utama dalam menghadapi perubahan iklim. Pertama program mitigasi yang meliputi pengurangan emisi gas kaca, mencegah kerusakan hutan, pegembangan energi terbaharukan serta pengolahan limbah. Program kedua adalah  adaptasi yang difokuskan pada bidang ekonomi dengan menyelaraskan antara  pembangunan ekonomi dengan pelestarian alam. Di bidang sosial, dengan usaha bagaimana agar masyarakat semakin adaptif terhadap perubahan iklim. Sementara di bidang ekosistem, kita berusaha agar alam tetap lestari dan masyarakat sejahtera,” imbuh Nur Masripatin.

Di hari kedua pelaksanaan FoSSA 2017, diisi dengan pemaparan makalah dari para pemateri utama, antara lain Prof. Dr. Bayu Krisnamurthi, Ketua Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) dan dosen Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Wan Mohtar Wan Yusoff dari Universiti Kebangsaan Indonesia, Prof. Dr. Gamini Senanayake dari University Ruhuna, Srilanka, serta dua pembicara dari Universitas Jember, Prof. Dr. Rudi Wibowo yang memaparkan kondisi pergulaan nasional dan Prod. Dr. Ahmad Subagio. (mun/iim)