Peserta Difabel Ikuti Ujian SBMPTN 2014 di Universitas Jember

Jember, 17 Juni 2014

Seorang peserta difabel atau berkebutuhan khusus mengikuti ujian tulis dalam seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN) 2014 yang digelar Universitas Jember sebagai Panitia Lokal 58 Jember, Jawa Timur, Selasa (17/6).

“Seorang peserta difabel bernama Teguh Kasiyanto dengan nomor peserta 214-58-01746, merupakan peserta dari kelompok Sosial Humaniora (Soshum) mengerjakan ujian di ruang 47 Fakultas Kesehatan Masyarakat Unej,” kata Kepala Humas dan Protokol Unej Agung Purwanto di sela-sela pemantauan ujian tulis SBMPTN, seperti dikutip dari Antara, Selasa (17/6).

Menurut dia, jumlah peserta yang mengikuti ujian tulis di Panitia Lokal 58 Jember sebanyak 10.772 peserta yang terbagi dalam tiga kelompok yakni kelompok Sains dan Teknologi (Saintek), Sosial Humaniora (Soshum), dan Campuran.

“Awalnya ada dua peserta difabel yang mendaftar di Unej, namun satu peserta ternyata tidak cacat dan dia hanya salah mengisi kategori berkebutuhan khusus saat mendaftar secara ‘online’ (daring), sehingga hanya satu peserta difabel yang kini mengikuti ujian tulis,” tuturnya.

Teguh Kasiyanto kepada sejumlah wartawan mengaku optimistis bisa mengerjakan soal ujian SBMPTN dengan lancar, meskipun memiliki kemampuan rendah dalam membaca karena harus membaca soal dengan jarak yang sangat dekat.

“Saya optimistis bisa mengerjakan soal karena sudah mempersiapkannya selama sebulan dengan mengikuti bimbingan belajar yang berada di dekat rumah, sehingga saya sudah siap mengerjakan soal SBMPTN hari ini,” tuturnya.

Siswa Madrasah Aliyah Al-Qodiri di Kecamatan Gumukmas tersebut cukup bersemangat mengikuti ujian tulis SBMPTN Unej karena terinspirasi dari almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sehingga ia siap bersaing dengan peserta normal lainnya untuk mendapatkan kesempatan kuliah di jenjang Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

“Saya memilih tiga jurusan di kelompok Soshum yakni pilihan pertama Sosiologi FISIP Unej, kedua Psikologi di Universitas Brawijaya, dan pilihan ketiga Bimbingan Konseling di Universitas Brawijaya juga,” katanya.

Teguh juga menolak bantuan pengawas yang membacakan soal dan memilih membaca sendiri seluruh soal SBMPTN, namun pengawas membantu peserta difabel tersebut untuk mengarsir lembar jawaban komputer sesuai dengan jawaban yang disampaikan peserta berkebutuhan khusus “low fision” tersebut. (Mj)

Leave us a Comment