Perlindungan Terhadap PRT Masih Nihil

Jember, 31 Oktober 2016

Walaupun pemerintah telah mengeluarkan Undang-undang No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, namun undang-undang tersebut ternyata tidak mencakup perlindungan bagi Pekerja Rumah Tangga (PRT), sehingga perlindungan terhadap PRT masih nihil. Peringatan ini disampaikan oleh Irfan Afandi, Project Promote Internasional Labour Organization (ILO) Jawa Timur dalam kuliah umum di Aula FISIP Universitas Jember (31/10). Acara ini digelar oleh Program Studi Kesejahteraan Sosial, FISIP Universitas Jember.

“Hingga kini belum ada perlindungan dari negara terhadap PRT, pasalnya hubungan antara majikan dengan PRT tidaklah dianggap layaknya hubungan pekerja disektor industrial. Hal ini kemudian berdampak pada lemahnya perlindungan terhadap mereka,” ujar Irfan. Nihilnya perlindungan terhadap PRT ini membuat PRT selalu dalam posisi yang dirugikan, oleh karena itu ILO mengharapkan agar Indonesia segera memiliki undang-undang yang memberikan perlindungan terhadap PRT.

Irfan lantas menambahkan, kerugian para PRT antara lain tampak dari tidak adanya kejelasan mengenai pemenuhan akan hak dan kewajiban para PRT. “Yang jelas gaji PRT jauh berada di bawah UMR, belum lagi mereka bekerja dengan waktu yang tidak terjadwal dari pagi sampai malam bahkan sampai pagi lagi melayani majikannya,” urai Irfan. Kuliah umum kali ini mengambil tema “Konvensi ILO PBB Nomer 189 Tentang Kerja Layak Bagi Pekerja Rumah Tangga”.

Selain mengalami kerugian secara ekonomi, PRT juga mengalami kerugian secara sosial. Irfan lantas mencontohkan persoalan lingkungan kerja yang mengharuskan PRT selalu berada di dalam rumah majikan, kondisi ini menyebabkan PRT tidak bisa bersosialisasi dengan teman dan saudara. “Ketika PRT memiliki masalah, seringkali mereka tidak bisa mencari solusi atau sekedar curhat karena  dampak dari ruang gerak mereka yang sangat dibatasi oleh keluarga,” ujarnya lagi.

Sementara itu ketua panitia kegiatan Arif S.Sos, M.AP, mengatakan, isu perlindungan bagi para PRT menjadi bagian dari isu yang sangat menarik untuk dibahas bagi mahasiswa Kesejahteraan Sosial. Menurutnya, kegiatan ini akan membuka wawasan para mahasiswa agar kepekaan mereka terhadap permasalahan sosial semakin terasah. “Sampai saat ini masalah PRT belum dianggap sebagai masalah sosial, oleh karena itu kami mengajak para mahasiswa untuk turut peduli dalam mengawal permasalahan tersebut,” ujar Arif.

Arif menjelaskan, selama ini para mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Jember tidak hanya mendapatkan materi perlindungan sosial saja, namun lebih dari itu mereka juga diwajibkan untuk melakukan pendampingan terhadap masalah sosial yang dihadapi masyarakat khususnya PRT. “Kami latih soft skill mereka dengan datang kerumah-rumah yang menggunakan jasa PRT untuk kemudian melakukan pendampingan dan advokasi kepada mereka,” ujar Arif. (mun)

Leave us a Comment