Perjalanan Hidup Satar, SE., MM Dari Penjaga Mayat Hingga Raih Gelar Magister

Jember, 15 September 2016

            Upacara wisuda periode I tahun akademik 2016/2017 Universitas Jember di Gedung Soetardjo berlangsung khidmat dan ceria (10/9). Wisudawan beserta keluarganya masing-masing larut dalam kegembiraan, salah satunya ditunjukkan oleh Satar, SE, MM yang siang itu tampak sumringah bersama keluarga. Pria yang juga Kepala Bagian Tata Usaha Fakultas Kedokteran Universitas Jember ini pantas bergembira, karena gelar magister berhasil diraihnya. “Bukan hanya gelar Magister Manajemen saja, saya juga meraih gelar wisudawan tertua lho,” gurau  kakek satu cucu berusia 53 tahun ini.

            Namun dibalik kesuksesannya menyelesaikan studi di strata dua, tergambar jalan panjang penuh kerja keras, pengorbanan, dan keikhlasan. Satar lantas mengingat-ingat perjalanan hidupnya. “Saya memulai karier di kampus Tegalboto tahun 1984, sebagai tenaga laboratorium anatomi Program Studi Kedokteran Gigi yang kelak menjadi Fakultas Kedokteran Gigi. Tugas saya merawat mayat yang digunakan untuk praktek mahasiswa atau cadaver. Mulai dari menerima jenazah, menyiapkan jenazah hingga mengawetkan jenazah saya kerjakan sendiri,” cerita Satar.

            Sambil bekerja, Satar memutuskan untuk terus menuntut ilmu guna meningkatkan kualitasnya. Satar memutuskan kuliah di Pendidikan Ahli Administrasi Perusahaan (PAAP) Fakultas Ekonomi Universitas Jember yang kini berubah menjadi Program Diploma, dan lulus tahun 1988. Tidak mau berhenti di level diploma, Satar melanjutkan kuliah S1 Manajemen di STIE Kosgoro Jember, bahkan diteruskannya ke jenjang strata dua. “Mencari ilmu itu kewajiban dari lahir hingga ke liang kubur,” begitu penjelasan Satar mengutip hadist Nabi Muhammad SAW saat ditanya mengapa getol sekolah walau usia sudah tidak muda lagi.

            Satar lantas menambahkan bahwa baginya belajar tak kenal usia. Sewaktu mendaftarkan diri di Program Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember, usia sudah menginjak 51 tahun. “Walaupun saya paling tua diantara teman seangkatan, saya tidak mau kalah dengan yang muda-muda. Usia boleh tua, tapi semangat belajar harus seperti anak usia 17 tahun,” candanya lagi. Genap empat semester, Satar berhasil menyelesaikan tesisnya yang berjudul “Pengaruh Kualitas Layanan Dan Kepuasan Serta Loyalitas Pada Pasien Rumah Sakit Gigi Dan Mulut Universitas Jember.”

Pria yang berulang tahun setiap tanggal 30 Oktober ini mengaku, tekadnya untuk  melanjutkan pendidikan bukanlah untuk mengejar kepangkatan semata. Keinginan itu lebih didorong oleh niatan ibadah, sementara ilmu yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal dalam menjalankan pengabdian sebagai tenaga kependidikan di kampus Tegalboto. “Selain itu sebagai inspirasi  kepada kedua anak saya, syukur-syukur dapat menular ke kawan-kawan lain di Universitas Jember. Gelar saya sekarang MM namun jika tidak  diimbangi dengan kualitas pekerjaan yang baik apalah artinya,” katanya.

            Selama 32 tahun mengabdi di Universitas Jember, bapak dari dua anak ini menjadikan semangat dan ikhlas sebagai prinsip dalam bekerja. Tidak heran jika Satar memiliki track record yang baik di mata pimpinan. “Alhamdulillah kinerja saya dinilai baik oleh pimpinan, sehingga di tahun 1999 dan 2000 mendapatkan gelar pegawai teladan,” kata Satar. Satar juga mengakui dukungan keluarga sangat penting baginya, terutama dari sang istri dan anak-anaknya. “Saya bangga dengan suami saya, karena dia telah memberikan inspirasi bagi kami dan para koleganya untuk terus belajar, belajar dan belajar,” tutur Sukarni sang istri sambil melirik suami tercintanya. (mun/iim).

1 Comment

  • Dwi Wicaksana
    Reply

    Semangat yang luar biasa, bisa kami contoh kedepan untuk terus belajar.

Leave us a Comment