Peringati HUT RI Ke 72, Dharma Wanita Universitas Jember Adakan Lomba Tumpeng

Tumpeng1

Jember, 23 Agustus 2017

Nasi tumpeng, atau yang banyak dikenal sebagai ‘tumpeng’ merupakan salah satu warisan kebudayaan bangsa yang sampai saat ini masih dihadirkan dalam perayaan, baik yang sifatnya simbolis maupun ritual. Tumpeng sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya ketika memperingati momen dan peristiwa penting. Guna melestarikan warisan ini, sekaligus memperingati HUT Republik Indonesia ke 72, Dharma Wanita Persatuan Universitas Jember menggelar lomba tumpeng (23/8) di Gedung Soetardjo. Lomba diikuti oleh 16 peserta yang terdiri dari Dharma Wanita fakultas dan Kantor Pusat.

Tumpeng1

Ketua Dharma Wanita Persatuan UNEJ, Priwahyu Hartanti Hasan, dalam sambutannya menjelaskan filosofi tumpeng. “Menurut tradisi masyarakat Islam di Jawa, tumpeng merupakan akronim dalam bahasa Jawa yakni yen metu kudu sing mempeng atau bila keluar harus dengan sungguh-sungguh. Sebenarnya tumpeng dilengkapi makanan pelengkap lagi namanya Buceng yang dibuat dari ketan. Buceng adalah akronim dari yen mlebu kudu sing kenceng atau bila masuk harus dengan sungguh-sungguh. Sedangkan lauk-pauknya tumpeng, berjumlah 7 macam, angka 7 dalam bahasa Jawa adalah pitu, maksudnya Pitulungan atau pertolongan,” tutur Priwahyu Hartanti Hasan.

Menurut Priwahyu Hartanti Hasan, meskipun diyakini berasal dari Pulau Jawa, masyarakat seluruh Indonesia sudah memaklumi dan mengenalnya dengan baik. Di balik tradisi tumpeng yang biasa dipakai dalam acara ‘selametan’, terdapat nilai-nilai yang sifatnya filosofis. Tumpeng mengandung makna-makna mendalam yang mengangkat hubungan antara manusia dengan Tuhan, dengan alam dan dengan sesama manusia Meskipun tradisi tumpeng telah ada jauh sebelum masuknya Islam ke pulau Jawa, tradisi tumpeng pada perkembangannya diadopsi dan dikaitkan dengan filosofi Islam Jawa, dan dianggap sebagai pesan leluhur mengenai permohonan kepada Yang Maha Kuasa. Dalam tradisi kenduri Slametan pada masyarakat Islam tradisional Jawa, tumpeng disajikan dengan sebelumnya digelar pengajian Al Quran.

“Hal tersebut yang menjadi alasan Dharma Wanita Persatuan Universitas Jember mengadakan lomba menghias tumpeng pada acara Catur Wulan di bulan Agustus, sekaligus memperingati bulan kemeredekaan kita,” imbuh Priwahyu Hartanti Hasan. Uniknya, dalam lomba kali ini ongkos pembuatan tumpeng tdibatasi maksimal 120 ribu rupiah saja. Tampil sebagai juara pertama adalah Dharma Wanita FMIPA disusul Dharma Wanita Fakultas Kedokteran, sementara juara favorit diraih oleh Dharma Wanita FKIP. Selain diisi dengan lomba tumpeng, acara juga diisi dengan penyampaian materi Ceramah Kepribadian oleh Ibu Sri Astutik, penampilan paduan suara Dharma Wanita Persatuan UNEJ dan bazar yang diselenggarakan di lobby Gedung Soetardjo. (lid)

Blog Attachment