Perguruan Tinggi, Bermutu Atau Mati !

Asuh_UNEJ

Jember, 30 Oktober 2017

          Mutu menjadi hal yang tidak bisa ditawar-tawar dalam pengelolaan sebuah perguruan tinggi. Bahkan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) telah mengambil langkah tegas menutup perguruan tinggi yang tidak memenuhi standar yang ditetapkan, dan atau melanggar aturan. Oleh karena itu Kemenristekdikti saat ini berusaha keras meningkatkan mutu perguruan tinggi di Indonesia dengan berbagai cara dan program. Salah satunya dengan Program Asuh. Pendek kata bagi perguruan tinggi, pilihannya bermutu atau mati ! Peringatan ini disampaikan oleh Masluhin Hajaz, Kepala Seksi Revitalisasi Program, Direktorat Penjaminan Mutu Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kemenristekdikti, saat memberikan materi dalam kegiatan seminar Penjaminan Mutu Internal Perguruan Tinggi, sekaligus Laporan Hasil Program Asuh Universitas Jember di Hotel Aston, Jember (29/10).

            Menurut Masluhin Hajaz, saat ini dari sekitar 26 ribuan program studi di Indonesia, hanya 19.534 program studi yang sudah terakreditasi, terdiri dari 2.749 program studi terakreditasi A, 10.529 program studi terakreditasi B dan sisanya yang berjumlah 7.226 masih terakreditasi C. “Oleh karena itu Ditjen Belmawa tahun ini berusaha meningkatkan akreditasi program studi, terutama yang masih C dengan berbagai program. Mulai dari seminar, workshop, klinik dan termasuk Program Asuh dimana perguruan tinggi yang sudah mendapatkan akreditasi A mengasuh perguruan tinggi lainnya. Oleh karena itu beruntung lah perguruan tinggi yang masuk dalam Program Asuh, sebab banyak perguruan tinggi lainnya yang berebut untuk diasuh,” jelas Masluhin Hajaz.

Untuk diketahui, Universitas Jember menjadi salah satu perguruan tinggi yang mendapatkan kepercayaan dari Kemenristekdikti untuk mengasuh 20 program studi di enam perguruan tinggi di daerah Besuki Raya. Keenam perguruan tinggi tersebut adalah Universitas Islam Jember, Universitas Abdurrahman Saleh Situbondo, Universitas Lumajang, Universitas Panca Marga Probolinggo, dan dua perguruan tinggi di Banyuwangi yakni Universitas Tujuh Belas Agustus dan Universitas Bhakti Indonesia. Program Asuh dimulai semenjak Agustus lalu dan berakhir Oktober ini.

Dalam kegiatan ini, Masluhin Hajaz juga menyampaikan penilaian yang telah dilakukan oleh tim monitoring dan evaluasi (monev) Ditjen Belmawa. “Dari penilaian tim monev, Program Asuh yang dilakukan oleh Universitas Jember telah berhasil dengan baik, 70 persen program yang direncanakan sudah berjalan, komitmen Universitas Jember dan asuhannya cukup tinggi, bahkan tim monev memuji adanya semangat kebersamaan dalam Besuki Raya yang ditunjukkan dengan saling berbagi dan membantu. Konsep Besuki Raya menjadi best practice yang akan kami sebarluaskan ke perguruan tinggi lainnya,” imbuh Masluhin Hajaz.

Dampak positif Program Asuh yang dilaksanakan oleh Universitas Jember disampaikan oleh perwakilan dari enam perguruan tinggi yang hadir. Seperti yang disampaikan oleh Herdiana Dyah Susanti, Wakil Rektor III Universitas Tujuh Belas Agustus Banyuwangi. Menurutnya, adanya Program Asuh dimanfaatkan lembaganya untuk meningkatkan akreditasi dari tiga program studi, sekaligus akreditasi institusional. Dan hasilnya, tiga program studi berhasil mendapatkan akreditasi B, begitu pula Universitas Tujuh Belas Agustus Banyuwangi kini memperoleh akreditasi B.

Sementara itu, Totok Sugiarto dari Universitas Panca Marga Probolinggo merasakan perubahan di kampusnya setelah mengikuti Program Asuh. “Kini kami dengan bimbingan Universitas Jember akan mengajukan pendirian program studi eksakta baru guna memenuhi rasio antara jumlah program sosial humaniora dan eksakta sesuai aturan Kemenristedikti. Pihak yayasan pun jadi lebih mengerti dan paham kondisi internal Universitas Panca Marga, bahkan setuju mengucurkan dana untuk pengembangan lebih lanjut. Bahkan kami berkomitmen untuk meneruskan kerjasama dengan Universitas Jember walaupun Program Asuh berakhir, ” tutur Wakil Rektor I Universitas Panca Marga ini.

Testimoni senada disampaikan oleh Miftakhul Hakim dari Universitas Islam Jember (UIJ). Menurutnya sebelum mengikuti program asuh, sistem penjaminan mutu internal di lembaganya hanya sekedar nama saja, namun kerja dan hasilnya tidak ada. Namun setelah mendapatkan pendampingan dari Universitas Jember, maka sistem penjaminan mutu internal dilaksanakan sesuai aturan. “Dulu ada guyonan di kami saat harus mengisi borang, borang itu bondho ngarang alias sekedar ngarang karena kami bingung mengisinya, tapi kini sudah berubah setelah mengikuti Program Asuh,” jelas Miftakhul Hakim.

Sebelumnya dalam laporannya, Sugeng Winarso, ketua Program Asuh Universitas Jember memaparkan pelaksanaan Program Asuh di enam perguruan tinggi telah berhasil mengembangkan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), menumbuhkan budaya mutu, mendorong pelembagaan SPMI yang berkelanjutan, yang pada akhirnya muaranya adalah akreditasi program studi dan institusi. Dalam seminar yang dihadiri oleh Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di daerah Besuki Raya, terungkap keinginan PTS yang tahun ini belum masuk di Program Asuh, untuk ikut serta di tahun depan. Seperti yang disampaikan oleh perwakilan dari Universitas Bondowoso dan IKIP PGRI Banyuwangi. Sementara perguruan tinggi yang diasuh setuju jika kerjasama dalam pembinaan mutu ini diteruskan.

Menanggapi keinginan ini, Rektor Universitas Jember menyampaikan bahwa kampus Tegalboto pada dasarnya sangat terbuka dengan setiap tawaran kerjasama, apalagi dalam bingkai Besuki Raya. “Universitas Jember siap membantu, sebab ada kalanya kita berkompetisi, namun berkolaborasi adalah kewajiban. Apalagi masalah mutu menjadi tanggungjawab bagi semua pihak. Dimana pun perguruan tinggi itu berada, jika bermutu maka niscaya bakal dicari oleh calon mahasiswa,” jawab Moh. Hasan yang membuka kegiatan. (iim)

Asuh_UNEJ
Blog Attachment