Pengembangan Wirausaha Di Indonesia Hadapi Tiga Masalah Besar

Yahya_unej-630x330px

Jember, 31 Januari 2017

Pengembangan dunia wirausaha di Indonesia menghadapi tiga masalah besar. Pertama kurangnya penghargaan terhadap profesi wirausaha, lemahnya pembinaan karakter wirausaha sejak dini, dan pemahaman tentang resiko wirausaha yang salah kaprah. Sinyalemen ini diutarakan oleh Yahya Taufik, founder sekaligus direktur utama PT. Saraswanti Utama di hadapan lulusan Universitas Jember, pada saat upacara wisuda periode III tahun akademik 2016/2017 Universitas Jember di gedung Soetardjo (29/1). Kehadiran Yahya Taufik yang alumnus Fakultas Pertanian angkatan tahun 1983 dalam upacara wisuda, dalam rangka mendorong semangat berwirausaha bagi lulusan kampus Tegalboto.

Menurut Yahya Taufik, seringkali orang tua di Indonesia meminta anaknya untuk belajar dengan rajin agar saat besar menjadi dokter, tentara atau pilot, jarang yang mendorong anak-anaknya menjadi pengusaha. Belum lagi adanya anggapan bahwa memilih berwirausaha mengandung resiko, hingga bakal susah hidup di hari tua karena tidak adanya pensiun. “Kondisi ini secara tidak langsung menjadikan sedikit anak Indonesia yang bercita-cita menjadi pengusaha. Mestinya semangat berwirausaha dibangun semenjak dini agar anak-anak dan generasi muda kita punya pemahaman yang benar akan profesi pengusaha, sehingga berani berwirausaha,” tutur pengusaha berasset 4,5 trilyun rupiah ini.

Yahya Taufik berharap agar lulusan Universitas Jember berani memulai langkah berwirausaha, pasalnya jumlah wirausaha dalam satu negara berkorelasi dengan tingkat kemakmuran dan kemajuan sebuah bangsa. “Jumlah wirausaha di Indonesia masih minim, hanya 1,7 persen dari total penduduknya, bandingkan dengan negara-negera seperti Amerika Serikat yang memiliki jumlah pengusahanya sudah mencapai 12 persen, Jepang dan China sebesar 10 persen. Dengan negara sesama anggota ASEAN pun kita masih kalah, di Singapura ada 7 persen pengusaha, Malaysia sejumlah 5 persen, sementara Thailand di angka 3 persen,” kata pria asli Situbondo ini.

Pemilik beragam usaha dari pupuk, perkebunan hingga properti ini lantas memberikan resep berwirausaha kepada segenap lulusan Universitas Jember yang hadir. Menurutnya seorang pengusaha wajib memiliki semangat belajar, karena dunia bisnis selalu berkembang. Kedua, jika ingin berwirausaha, hendaknya mampu mengatur waktu karena dalam bisnis kita sendiri yang menentukan arah langkah. Terakhir, dunia bisnis memerlukan keberanian, ketekunan, kreativitas, inovasi dan kegigihan. “Ingat sukses itu bukan kebetulan, tapi hasil kerja keras. Kesuksesan itu diraih bukan karena tidak pernah gagal, tapi karena tidak pernah berhenti berusaha,” pesannya sambil disambut tepuk tangan meriah hadirin.

Dalam kesempatan yang sama, Moh. Hasan, Rektor Universitas Jember menjelaskan jika Universitas Jember selalu mendorong lulusannya agar tidak ragu membuka usaha. Langkah yang ditempuh selain memberikan materi kewirausahaan, juga memberikan berbagai fasilitas kepada mahasiswa yang serius memulai usaha, dari berbagai skema pendanaan yang ada. “Mulai bulan Juni 2017 nanti, setiap lulusan Universitas Jember bakal dibekali dengan Surat Keterangan Pendamping Ijazah yang berisi kemampuan yang dimiliki selain kompetensi keilmuannya, salah satunya adalah kemampuan berwirausaha,” imbuh rektor. (iim)

Leave us a Comment