Penelitian Mahasiswa FKG Universitas Jember

Miliki Kandungan Omega 3 yang tinggi, Ikan Lemuru Berpotensi Sebagai Obat Dan Produk Kesehatan

 Jember, 21 Oktober 2016

Selama ini masyarakat Indonesia mengenal ikan salmon sebagai salah satu sumber makanan yang mengandung Omega 3, yang bermanfaat bagi kesehatan. Sayangnya produk kesehatan yang mengandung Omega 3 dari ikan salmon berharga mahal, pasalnya ikan salmon tidak hidup di perairan Indonesia. Tidak heran jika produk kesehatan yang mengandung Omega 3 dari ikan salmon didominasi produk impor. Namun siapa sangka jika sebenarnya Indonesia memiliki kekayaan bahari luar biasa yang tak kalah kandungan Omega 3-nya dengan ikan salmon ? Ternyata ikan lemuru (Sardinella longiceps) yang banyak terdapat di perairan Indonesia mengandung Omega 3 yang lebih tinggi daripada ikan salmon, sehingga memiliki potensi besar sebagai obat dan produk kesehatan.

Potensi ikan lemuru sebagai obat dan produk kesehatan diungkapkan oleh penelitian tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Jember, Dwi Riski Saputra, Sakti Wibawa dan M. Idris Kamali. “Dari hasil penelitian Suseno tahun 2014, kandungan EPA ikan lemuru sebesar 21,77 persen dan DHA sebesar 11,59 persen. Bandingkan dengan kandungan EPA ikan salmon yang 12,07 persen dengan DHA sebesar 10 persen,” urai Dwi Riski saat ditemui di kampus FKG (21/10). Kandungan EPA dan DHA adalah penyusun Omega 3. Sayangnya menurut Dwi Riski, walaupun hasil tangkapan ikan lemuru di Indonesia cukup banyak, namun pemanfaatannya baru sebatas sebagai ikan sardin, bahan tepung ikan, atau bahan pakan ternak saja.

Kenyataan seperti ini dilihat tiga serangkai mahasiswa FKG ini di daerah Muncar, Banyuwangi dan Puger, Jember. “Hasil ikan lemuru di Muncar bisa mencapai enam ton per tahun, tentu saja ini potensi luar biasa jika bisa diolah sebagai obat dan produk kesehatan yang pasti tak kalah dengan produk kesehatan berbahan ikan salmon,” tambah Sakti Wibawa. Potensi ikan lemuru dengan Omega 3-nya mendorong mereka untuk meneliti minyak ikan lemuru sebagai obat radang sendi temporomandibula. Sendi temporomandibula adalah sendi yang menghubungkan antara tengkorak dengan rahang.

“Radang sendi temporomandibula banyak diderita oleh perempuan, khususnya yang memasuki masa menopouse akibat perubahan hormonal. Dengan bertambahnya usia, maka densitas serabut kolagen kartilago pada sendi temporomandibula makin berkurang. Jika tidak diobati, bisa berakibat fatal mulai pusing berat, tidak bisa menggerakkan rahang, hingga susah membuka mulut,” tambah Idris menimpali. Saat ini pengobatan radang sendi temporomandibula dilakukan dengan obat-obatan kimia yang memiliki efek samping, seperti dapat menimbulkan sariawan pada usus. Dari berbagai kajian pustaka, Omega 3 diyakini berkontribusi meningkatkan kemampuan tubuh untuk memperbaiki diri. “Oleh karena itu, kami coba meneliti pemberian Omega 3 dari ikan lemuru sebagai obat radang sendi temporomandibula, dan hasilnya memuaskan,” kata Dwi Riski.

Dari penelitian selama tiga bulan, pemberian minyak ikan lemuru yang mengandung Omega 3 kepada tikus percobaan membuat serabut kolagen kartilago tikus mengalami perbaikan signifikan. “Dalam penelitian kami mengekstraksi tiga kilogram ikan lemuru sehingga menghasilkan enam mililiterminyak ikan, yang kemudian kami injeksikan secara bertahap ke rahang tikus percobaan,” jelas Sakti Wibawa. Penelitian mereka dituangkan dalam karya tulis ilmiah berjudul “Pengaruh Pemberian Minyak Ikan Lemuru (Sardinella longiceps) Terhadap Densitas Serabut Kolagen Kartilago Sendi Temporomandibula Tikus Yang Mengalami Osteoartritis”. Karya tulis mereka akhirnya menjadi juara pertama dalam ajang INDISFO National Research Competition 2016 yang dilaksanakan 9 Oktober lalu di Jakarta. INDISFO adalah ajang kompetisi karya tulis ilmiah yang diselenggarakan oleh paguyuban FKG se-DKI dan Jawa Barat. Hebatnya lagi, juara ketiga juga diraih oleh tim dari FKG Universitas Jember, sementara juara kedua dibawa pulang oleh tim FKG Universitas Hasanuddin Makassar.

Penelitian trio FKG Universitas Jember ini dipuji oleh dewan juri, pasalnya berhasil memanfaatkan kekayaan alam bahari Indonesia. Selain itu, pemberian injeksi kepada tikus percobaan dinilai cukup sulit mengingat rahang tikus berukuran relatif kecil. “Yang membanggakan bagi kami, dewan juri berpendapat bahwa penelitian ini sebenarnya cukup sulit bagi mahasiswa jenjang S1, tapi berhasil kami laksanakan,” kata Idris yang mahasiswa angkatan 2015.

“Namun yang paling penting, kami sudah berusaha membuka peluang pemanfaatan kekayaan alam bahari kita yang melimpah ruah berupa ikan lemuru. Harapannya akan muncul inovasi baru berupa obat dan produk kesehatan berbahan ikan lemuru mengingat kandungan Omega 3-nya cukup tinggi. Sayang jika kita selalu bergantung pada produk obat dan kesehatan dari luar negeri, padahal kekayaan alam bahari kita sunguh luar biasa,” kata Dwi Riski menambahkan.

Prestasi tiga mahasiswa FKG Universitas Jember mendapatkan apresiasi yang tinggi dari Rektor Universitas Jember, Moh. Hasan. Menurutnya, rintisan penelitian mengenai potensi ikan lemuru yang dilakukan oleh mahasiswa FKG bisa ditindaklanjuti oleh mahasiswa lain, sesuai dengan bidangnya. Apalagi Jember memiliki potensi sebagai penghasil ikan lemuru. “Penelitian ini terbuka untuk diteruskan menjadi penelitian lainnya. Misalnya saja mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian meneliti bagaimana cara mengekstrasi ikan lemuru menjadi minyak ikan yang siap konsumsi, mahasiswa Fakultas Farmasi menciptakan obat berbahan minyak ikan lemuru, sementara mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis melihat bagaimana cara memasarkannya dan seterusnya,” kata Moh. Hasan. (iim)

Leave us a Comment