Pemerintah Perlu Serius Garap Potensi Industri Pangan Halal

Jember, 27 Februari 2016

            Pemerintah perlu lebih serius menggarap potensi industri pangan halal. Pernyataan ini disampaikan oleh Prof. Achmad Subagio, M.Agr.,PhD., Ketua Lembaga Penelitian (Lemlit)  Universitas Jember, saat membuka seminar nasional dan pelatihan sertifikasi halal di gedung rektorat dr. R. Achmad Universitas Jember (27/2). Menurutnya, Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, memiliki potensi sebagai pemain produk halal sekaligus juga sebagai pasar produk halal.

            Prof. Achmad Subagio, kemudian mencontohkan sampai saat ini belum ada peraturan pemerintah yang mengatur produk halal, padahal Undang-Undang nomor 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal sudah ada, sehingga pengembangan produk halal masih belum optimal. “Justru negara tetangga seperti Thailand yang notabene bukan negara muslim malah lebih siap menangkap potensi produk halal, diantaranya dengan mengembangkan sentra-sentra produk halal. Jika tidak diseriusi, maka bukan tidak mungkin produk halal dari negara lain akan membanjiri Indonesia, apalagi kini era Masyarakat Ekonomi ASEAN,” ujarnya.

            Pendapat Ketua Lemlit Universitas Jember ini mendapatkan dukungan dari Prof. Dr. Umar Santoso, Kepala Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada, yang menjadi salah seorang pembicara dalam acara tersebut. Menurutnya, potensi produk halal sungguh luar biasa, permintaan produk halal dunia pertahun mencapai 625 biliun dollar. “Tiap tahun pertumbuhan produk halal selalu meningkat 10 persen. Potensi ini harus kita tangkap agar Indonesia menjadi pemain penting dalam produk halal,” ujar auditor halal di LP POM MUI DIY ini.

            Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Prof. Achmad Subagio juga menyampaikan tekadnya untuk menjadikan kampus Tegalboto sebagai pusat kajian dan pengembangan produk halal. Untuk mewujudkannya, ada tiga langkah yang akan ditempuh, pertama memberikan penyadaran kepada publik bahwa produk halal dan thoyyiban adalah suatu yang harus dan penting. Kedua, memperbanyak kegiatan ilmiah dan kajian akan produk halal seperti seminar, pelatihan serta kegiatan lainnya. “Di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember sudah makin banyak kajian, analisis dan penelitian terkait produk halal, termasuk mengembangkan laboratorium pangan halal yang bisa menjalankan uji halal yang juga mengembangkan sistem standar halal,” tutur ahli olahan singkong ini.

            Adapun langkah ketiga adalah mengembangkan bahan tambahan pangan yang halal. Seperti diketahui banyak makanan halal, namun unsur pembuatnya justru tidak halal. Prof. Achmad Subagio kemudian mencontohkan dalam pembuatan tepung singkong memerlukan bahan tambahan pangan berupa pepton, sayangnya banyak pepton yang beredar berasal dari materi yang tidak halal. “Oleh karena itu kami mendorong mahasiswa baik sarjana dan magister untuk mengembangkan penelitian bahan tambahan pangan yang halal. Saat ini sudah ada beberapa mahasiswa program studi magister Teknologi Agroindustri Fakultas Teknologi Pertanian kami yang mengembangkan pepton halal,” tambahnya lagi.

            Seminar nasional dan pelatihan sertifikasi halal ini digagas oleh Kosinusteta, unit kegiatan mahasiswa kerohanian Islam Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember. Kali ini tema yang diangkat adalah “Strategi Pengembangan IPTEK Untuk Mewujudkan Indonesia Kompetitif Melalui Pangan Halal”.  Selain menghadirkan pakar pangan halal dari Universitas Gadjah Mada, tampil pula pelaku usaha pangan halal, Aris Purnomo Seto, STP. Seminar dan pelatihan dihadiri oleh mahasiswa, pemerhati pangan halal dan pelaku usaha pangan halal di Jember dan sekitarnya. (iim).

Leave us a Comment