Pantang Menyerah, Resep Maya Umi Hajar Berprestasi Di Tengah Keterbatasan

Jember, 18 April 2016.

Tidak selamanya keterbatasan menjadi penghalang, di tangan mereka yang pantang menyerah, keterbatasan justru menjadi cambuk untuk berprestasi lebih baik. Pelajaran ini dibuktikan oleh Maya Umi Hajar, dengan semangat pantang menyerah, Maya menjadi wisudawan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) terbaik saat upacara Wisuda Periode IV tahun akademik 2015/2016 Universitas Jember (18/4). Maya menorehkan IPK 3,89 yang merupakan IPK tertinggi di tingkat sarjana, sehingga berhak lulus cumlaude (dengan pujian).

Terlahir dari keluarga kurang mampu membuat gadis asli Gresik ini bertekad mengubah taraf hidup keluarga dengan jalan sekolah setinggi-tingginya. “Semenjak kecil saya ingin jadi dosen atau guru, namun kondisi keluarga yang pas-pasan sempat membuat saya gamang, apakah mampu kuliah,” kata Maya mengingat masa-masa duduk di SMA. Maya adalah putra kelima dari Bapak Taufik yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang batu dengan penghasilan tidak pasti. Sementara ibunya, Tatik, adalah ibu ruma tangga biasa. Di dalam keluarganya,hanya Maya yang melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi, sedangkan keempat kakak laki-lakinya hanya mengenyam pendidikan SMA dan kini bekerja di pabrik di seputaran Gresik.

Atas saran dari para guru di sekolahnya, SMA Assaadah, Manyar, Gresik, Maya mendaftarkan diri ke Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Jember dengan fasilitas Bidik Misi. Saran ini beralasan mengingat Maya selalu berprestasi sejak duduk di bangku SMP. Maya pernah menjadi juara di Olimpiade Farmasi, Olimpiade IPA dan sederet kejuaraan lainnya. “Saya memang suka pelajaran IPA, khususnya pelajaran Biologi. Pokoknya belajar IPA itu sudah seperti hobi, jadi tidak terasa berat,” kata gadis yang berulang tahun tiap tanggal 27 Mei ini.

Alhamdulillah, cita-cita Maya untuk kuliah di Universitas Jember terkabul. “Awalnya Bapak keberatan dengan pilihan kuliah di Universitas Jember dengan alasan jauh dari keluarga dan faktor biaya. Tapi saya sudah bertekad akan kuliah di Jember karena saya yakin dengan kualitas Universitas Jember. Akhirnya Bapak memberikan ijin dengan syarat saya tidak lupa sholat dan tekun belajar,” kata gadis berjilbab ini. Di kampus Tegalboto, selain tekun kuliah, Maya aktif dalam organisasi Paguyuban Mahasiswa Penerima Bidik Misi (Pamadiksi) Universitas Jember.

Selama kuliah, Maya dituntut untuk hidup hemat mengingat uang hidup bulanan dari beasiswa Bidik Misi tergolong pas-pasan. “Setiap awal bulan, jatah uang bulanan saya masukkan ke amplo-amplop sesuai dengan peruntukannya. Untuk bayar kos, untuk makan dan keperluan lain supaya tidak kedodoran,” tutur Maya. Untuk menambah uang saku, Maya tak segan bekerja, pilihannya menjadi guru TK Bahrul Ulum di Gebang, Jember serta memberikan les tambahan kepada anak-anak sekolah.

Kini Maya sudah meraih cita-citanya, lulus dari bangku perguruan tinggi, tetapi Maya tidak ingin berhenti hanya dengan titel sarjana. Maya berkeinginan melanjutkan sekolah hingga pascasarjana. “Pesan saya untuk kawan-kawan yang berasal dari keluarga kurang mampu, jangan menyerah. Terus semangat mengejar cita-cita karena yakin lah pasti akan ada jalan, dan jangan lupa berdoa,” pungkas Maya. (iim)

Leave us a Comment