Pakar Kebakaran Asal Australia Berikan Kuliah Umum Manajemen Bencana Di FISIP Universitas Jember

StephenSutton_UNEJ

Jember, 18 Agustus 2017

Stephen Sutton, pakar kebakaran semak asal Charles Darwin University, Darwin, Australia, mengungkapkan fakta menarik terkait hubungan antara politik dan manajemen bencana. Menurutnya, dari pengalaman di Australia, politikus yang berasal dari wilayah utara Australia yang sering dilanda bencana memiliki pandangan berbeda mengenai manajemen bencana dibandingkan koleganya, sesama politikus yang berasal dari wilayah selatan Australia yang  jarang dilanda bencana. Stephen Sutton hadir memberikan kuliah umum mengenai manajemen kebencanaan kepada mahasiswa baru Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember, dosen, serta relawan peduli bencana yang tergabung dalam Komunitas Relawan Kampus (Korrek) Universitas Jember (18/8).

Menurut peneliti yang pernah menduduki jabatan sebagai Direktur Northern Teritory Goverment Australia Bush Fire Departement ini, politikus yang berasal dari wilayah utara Australia berpandangan bencana seperti kebakaran semak belum tentu hal yang negatif, tergantung dari kasusnya dulu. Namun sebaliknya, politikus dari wilayah selatan Australia umumnya berpandangan bencana kebakaran semak adalah hal negatif. “Pandangan ini berpengaruh terhadap cara menangani bencana. Misalnya politikus dari wilayah selatan Australia lebih memilih cara konvensional dengan pengerahan alat dan tenaga seperti teknik water bombing dengan pesawat yang ongkosnya mahal,” jelasnya.

Stephen Sutton lantas menjelaskan, para ahli kebencanaan seperti dirinya lebih memilih untuk melihat bencana seperti kebakaran semak secara kasus per kasus sebab tidak semua kebakaran semak berakibat negatif. “Namun yang harus dibangun adalah basis data seperti potensi bencana, jumlah hot spot, dan memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat akan bahaya bencana serta cara menanganinya,” imbuh peneliti yang juga aktif meneliti bencana tsunami di Simeule, Aceh ini.

Pemaparan Stephen Sutton mendapatkan tanggapan dari Joko Mulyono, pembina Korrek Universitas Jember. Menurutnya Australia dan Indonesia sama-sama menghadapi ancaman bahaya kebakaran, namun karakteristiknya sedikit berbeda. Bedanya, umumnya kebakaran semak di Australia lebih banyak disebabkan oleh faktor alam, sementara kebakaran lahan di Indonesia lebih banyak dikarenakan faktor manusia. “Untuk itu pola manajemen bencana untuk kasus kebakaran lahan antara Australia dan Indonesia memang berbeda, kita perlu lebih aktif memberikan pemahaman kepada warga sekaligus memberikan alternatif sumber penghasilan  karena umumnya motif pembakaran lahan erat kaitannya dengan faktor ekonomi,” kata dosen Program Studi Sosiologi FISIP Universitas Jember ini.

Sebelumnya dalam sambutan pembukaan kuliah umum, Hadi Prayitno, Wakil Dekan I FISIP menyambut gembira kegiatan kali ini, karena diharapkan akan memberikan prespektif baru khususnya bagi mahasiswa baru. “Kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus tahun ini sungguh istimewa, pasalnya para mahasiswa baru mendapatkan kuliah umum dari pakar dari Australia. Semoga kegiatan kali ini akan berlanjut dan berkembang dengan kerjasama lainnya antara FISIP Universitas Jember dengan Charles Darwin University,” pungkasnya. (iim)