Pakar Hukum Bahas HAM di Asia Tenggara di Universitas Jember

KonferensiHAM1_UNEJ

Jember, 14 Agustus 2017

Para pakar hukum, khususnya yang memiliki minat di bidang Hak Asasi Manusia (HAM) berkumpul di Universitas Jember guna membicarakan perkembangan HAM di Asia Tenggara (11-13/8). Dalam konferensi internasional bertajuk “Human Rights In Southeast Asia : Are We Moving Backward ?”, yang dimotori oleh The Centre for Human Rights, Multiculturalism, and Migration (CHRM2) Universitas Jember ini, tampil para pembicara kunci dari berbagai perguruan tinggi luar negeri, antara lain Prof. Carol Tan (SOAS, University of London, Inggris), Dr. Jesper Kulvmaan (Thammasat University, Thailand), Dr. Alex Grainger (University of Kent, Inggris) serta pembicara lainnya. Sementara dari Indonesia antara lain pegiat buruh migran yang juga Direktur Migrant Care, Anis Hidayah.

Sebelumnya, Al Khanif, ketua panitia kegiatan menjelaskan, konferensi kali ini ingin mengetahui perkembangan terakhir pelaksanaan HAM di Asia Tenggara. Pasalnya Wacana Hak Asasi Manusia di Asia Tenggara sangat dinamis dan menantang karena adanya realitas budaya, hukum, dan politik yang kompleks di Asia Tenggara. Lanskap sosial ini sering menghasilkan pengakuan dan penerapan yang berbeda dari hak-hak masyarakat di negara-negara Asia Tenggara. Di satu sisi, ada beberapa negara di Asia Tenggara yang telah mengubah konstitusi mereka untuk melindungi hak-hak warga negaranya dan menginternalisasi instrumen hak asasi manusia internasional, namun ada juga yang masih jalan di tempat.

“Acara kali ini juga untuk mempekenalkan keberadaan CHRM2 sebagai pusat kajian dan penelitian baru di Universitas Jember. Kami berfokus pada masalah-masalah HAM, multikulturalisme dan masalah-masalah seputar migrasi, termasuk kajian mengenai buruh migran,” ujar Al Khanif. Menurut dosen di Fakultas Hukum ini, CHRM2 tengah giat menjalin kerjasama dengan berbagai pihak guna memperluas jejaring. “Selain konferensi internasional mengenai HAM di Asia Tenggara, kami juga akan mengadakan seminar mengenai Dialektika Universalisme Versus Relativisme HAM di bulan September, dan seminar mengenai Pancasila, Transnasionalisme dan Kedaulatan Negara di bulan November,” imbuhnya.

KonferensiHAM1_UNEJ

Langkah CHRM2 Universitas Jember menjalin kerjasama ditunjukkan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Universitas Jember dengan lembaga Volunteer In Asia (VIA) yang diwakili oleh direkturnya, Elizabeth Rhoads dan Lembaga Swadaya Masyarakat Asia Justice and Rights (AJAR) yang juga diwakili oleh direkturnya, Galuh Wandita. Untuk diketahui, kedua lembaga tadi adalah lembaga yang sama-sama memiliki kepedulian terhadap pelaksanaan HAM di Asia, khususnya di Asia Tenggara. Seusai penandatanganan MoU, Rektor Universitas Jember mengapresiasi inisiatif CHRM2 yang aktif melaksanakan kegiatan dan menjalin kerjasama.

Dalam sesi pertama (11/8), tampil Prof. Carol Tan dengan materi berjudul Women Migrant In Southeast Asia, Through Lens of CEDAW. Guru besar di bidang HAM ini menyoroti pelaksanaan pemberantasan diskriminasi terhadap perempuan di negara-negara Asia Tenggara, sesuai dengan konvensi PBB mengenai pemberantasan diskriminasi terhadap perempuan (CEDAW). Sementara itu koleganya, Dr. Jesper Kulvmann, menjelaskan nasib para pencari suaka asal Pakistan yang ada di Thailand, mengingat Thailand belum menandatangani konvensi pengungsi tahun 1951. Dari data panitia, tercatat ada 60 peserta yang mempresentasikan hasil penelitiannya yang terbagi dalam berbagai bahasan, antara lain mengenai agraria, gender, migrasi, pernikahan usia dini, HAM dan pembangunan serta kajian di bidang HAM lainnya.  (iim)

Blog Attachment