Padi Ceri Untuk Atasi Bayi Kurang Gizi

Jember, 4 Agustus 2016

psik_unej2016

Di Indonesia, balita yang mengalami kekurangan gizi masih menjadi masalah serius.  Menurut data dari UNICEF tahun 2016, terdapat 1,3 juta balita yang tergolong sangat kurus, sementara 1,6 juta balita masuk kategori kurus. Dengan kondisi ini, tidak heran jika  Indonesia berada pada peringkat ke-empat dunia dalam jumlah balita kurus. Kondisi ini menggerakkan lima mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) Universitas Jember untuk menginisiasi Pos Kader Ibu Cermat Gizi atau yang disingkat Padi Ceri.

“Dari pengamatan kami, kejadian balita kurang gizi juga terjadi di Jember, khususnya di Kecamatan Jelbuk yang ternyata paling banyak memiliki permasalahan gizi dibandingkan kecamatan lainnya, khususnya balita kurang gizi,” jelas Dwi Yoga Setyorini di kampus PSIK (4/8). Menurut Dwi, gizi balita merupakan faktor yang sangat penting karena berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan balita. Balita dengan dengan gizi buruk memiliki resiko sering terkena penyakit. Dwi bersama Talitha Zhafirah, Fiqri Nur Latifatul Qolbi, Rizky Bella Mulyaningsasi dan Neneng Dwi Saputri sepakat menjalankan program Padi Ceri di dusun Bacem dan Sumbercadik, Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk.

Padi Ceri adalah program yang dirancang membangun kapasitas petugas kesehatan dan para kader Pos Yandu dalam memberikan konseling pemberian makanan bayi dan anak untuk mencegah kekurangan gizi pada balita. Kegiatan yang dilakukan antara lain sharing informasi kesehatan, pembudidayaan tanaman pangan keluarga, pelatihan pembuatan makanan alternatif seperti nugget ontong,  brownies singkong, es krim ubi dan lain-lain, serta pemeriksaan status gizi balita “Dalam pelaksanaannya, kami berkoordinasi dengan Puskesmas Jelbuk, bidan desa beserta perangkat desa lainnya,” tutur Talitha.

Program Padi Ceri yang digagas oleh lima srikandi PSIK ternyata berbuah postif. Selama periode pelaksanaan Maret hingga Juli 2016, dari enam balita yang tergolong mengalami gizi buruk tersisa hanya dua orang saja. Sementara untuk balita berstatus gizi kurang yang semula tercatat delapan balita, kini tinggal enam orang. “Dari hasil pengamatan kami, rata-rata setiap balita berat badannya bertambah 300 gram sampai 1 kilogram per bulannya,” tambah Neneng yang menemani dua orang koleganya.

Inisiatif mahasiswi PSIK Universitas Jember disambut hangat oleh Kepala Desa Panduman, Winarko. Dirinya berharap program Padi Ceri terus berlanjut dan berkembang, sehingga pengentasan balita gizi buruk dan gizi kurang dapat tercapai, tidak hanya di desanya saja namun juga di seluruh desa lainnya di Kecamatan Jelbuk. “Dengan program Padi Ceri, warga beserta kader kesehatan di Desa Panduman ini bisa tahu bagaimana memberi gizi yang baik untuk balita, sampai pada bagaimana cara memasak yang baik dan benar,” kata Winarko.

Ide dan hasil kerja keras para mahasiswi PSIK ini mendapatkan apresiasi dari Kemenristekdikti, buktinya program Padi Ceri berhasil maju ke ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke 29 di kampus Institut Pertanian Bogor (IPB), tanggal 8 sampai 11 Agustus 2016 nanti. Program Padi Ceri maju untuk kategori Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-M). Nantinya duta kampus Tegalboto ini akan berkompetisi dengan 143 wakil dari perguruan tinggi negeri dan swasta dari seluruh Indonesia. “Saat ini kami tengah mempersiapkan diri, semoga nanti berhasil membawa nama Universitas Jember di ajang PIMNAS,” tambah Dwi dan kawan-kawan yang dalam pelaksanaan program Padi Ceri dibimbing oleh Hanny Rasni, S.Kep. M.Kep. (iim)

Leave us a Comment