Menristekdikti Bekali Mahasiswa Bidikmisi Dengan “PKB”

KuLumBidikmisidi-UNEJ-2-768×512

Jember, 7 April 2019

Moh. Nasir, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) memberikan kuliah umum kepada mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi dari perguruan tinggi negeri dan swasta di Jember, dan sekitarnya di Gedung Soetardjo, Kampus Tegalboto (7/4). Dalam kuliah bertema Peningkatan Softskills Mahasiswa Program Bidikmisi Dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0, Moh. Nasir memberikan bekal “PKB” kepada mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi yang hadir. “PKB ini bukan nama partai politik, PKB ini istilah dalam Bahasa Jawa yakni Pinter, Kendel lan Bener. Artinya pintar, berani dan benar. Jika ketiga hal ini Anda pegang, insya allah akan berhasil dalam studi dan meniti karir,” ujar Moh. Nasir.

Guru besar Akuntansi ini lantas menjelaskan filosofi dari “PKB” tadi. “Saya yakin semua penerima beasiswa Bidikmisi adalah anak-anak yang pintar, ini menjadi modal besar dalam kalian mengikuti perkuliahan. Modal kepintaran ini juga harus didukung oleh keberanian untuk terus maju, apakah meneruskan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi, meniti karier atau membuka usaha. Tapi harus ingat keberanian tadi harus dilandasi oleh kebenaran, utamanya sesuai dengan ajaran agama,” tutur Menristekdikti serius. Moh. Nasir lantas mencontohkan profil para penerima beasiswa Bidikmisi yang sudah berhasil.

Mantan Rektor Universitas Diponegoro ini lantas menunjukkan slide materi yang berisi para penerima beasiswa Bidikmisi yang sukses. Ada Ulfa Nurjannah dari Universitas Negeri Semarang yang sukses berbisnis makanan cumi-cumi krispi, Syahrir dari Politeknik Negeri Ujung Pandang dengan produksi es krim-nya. Sementara Rachmad Adi Riyanto yang menerima beasiswa Bidikmisi di Universitas Sebelas Maret kini tengah kuliah doktoral di Jepang, Ujang Purnama dari ITB malah meneruskan doktoralnya di Oxford University di Inggris. “Jangan lupa para pengusaha muda seperti Nadim Makarim di Go Jek, Zaky di Buka Lapak dan usaha start up lainnya yang kini jadi Unicorn meniti usahanya sejak awal dari kampusnya masing-masing. Jadi ayo mahasiswa Bidikmisi, tunjukkan prestasimu,” ajak Moh. Nasir memberikan semangat.

Guna lebih meningkatkan semangat para mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi, Menristekdikti memanggil enam perwakilan mahasiswa yang memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) diatas 3,75 untuk naik ke panggung. Empat mahasiswa dari Universitas Jember, dan sisanya dari Universitas Islam Jember dan STIE Mandala Jember. Mereka kemudian diminta untuk berbagi resep hingga berhasil dalam kuliah. “Resepnya tekun belajar, aktif di kelas saat kuliah dan ikut berbagai kegiatan kemahasiswaan. Jangan lupa juga berdoa dan minta restu orang tua,” tutur Nurotul Wafiroh dari Program Studi Pendidikan Luar Sekolah FKIP Universitas Jember, yang diiyakan oleh koleganya Hayu Fitri Nada.

Ternyata Menristekdikti memberikan apresiasi kepada enam mahasiswi tadi, kesemuanya menerima hadiah berupa laptop. Saking gembiranya, salah satu mahasiswi, Hayu Fitri Nada sampai menangis terharu hingga bersujud syukur. “Alhamdulillah, saya memang tidak punya laptop, sungguh hadiah yang tak saya sangka sama sekali. Ini pasti karena doa dari orang tua yang selalu mendukung kami,” tutur mahasiswi asal Tuban ini dengan haru. Dua mahasiswi penerima laptop yang merupakan mahasiswi Universitas Jember lainnya berasal dari Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik dan Fakultas Kesehatan Masyarakat.

Prestasi yang dicatat oleh para penerima beasiswa Bidikmisi membuat pemerintah melalui Kemenristekdikti tidak ragu meneruskan program ini. Jika tahun 2018 lalu Kemenristekdikti menyalurkan 90 ribu beasiswa, maka tahun ini jumlahnya ditingkatkan menjadi 130 ribu penerima beasiswa. “Hingga saat ini dari data yang ada, total terdapat 496.700 penerima beasiswa Bidikmisi, dimana 99 persen penerimanya berhasil menyelesaikan kuliah. Bahkan Presiden Joko Widodo memberikan perhatian khusus akan hal ini, pesan beliau  jangan sampai siswa berprestasi namun dari keluarga yang kurang mampu tidak bisa meneruskan kuliah. Apalagi Indonesia memiliki bonus demografi yang harus dikelola dengan baik agar mampu membangun negara. Selain bakal menjadi calon pemimpin bangsa, para penerima beasiswa Bidikmisi diharapkan menjadi pemutus lingkaran kemiskinan,” imbuh Moh. Nasir.

Peningkatan jumlah penerima beasiswa Bidikmisi ini juga dirasakan oleh Universitas Jember. Jika di tahun 2018 lalu terdapat 1.200-an mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi dari jalur SNMPTN dan SBMPTN, maka direncanakan di tahun ini jumlahnya bertambah menjadi 1.600-an. “Bahkan Universitas Jember menjadi perguruan tinggi negeri nomor enam yang paling banyak menerima calon mahasiswa baru dengan beasiswa Bidikmisi dari jalur SNMPTN, jumlahnya mencapai 678 orang,” kata Moh. Hasan, Rektor Universitas Jember.

Meningkatnya jumlah kuota mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi di Kampus Tegalboto inilah yang menjadikan Universitas Jember berinisiatif mengundang Menristekdikti bersama Direktur Kemahasiswaan Ditjen Belmawa untuk hadir menyapa dan memberikan semangat bagi para mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi di Universitas Jember khususnya, serta perguruan tinggi negeri dan swasta di Jember dan sekitarnya. “Semoga kehadiran Pak Nasir memberikan pencerahan dan semangat kepada para mahasiswa dalam menyelesaikan kuliahnya, dan bekal untuk menghadapi era Revolusi Industri 4.0,” ungkap Moh. Hasan.

Sebelumnya dalam kuliah umumnya, Moh. Nasir mengungkapkan bahwa Revolusi Industri 4.0 yang digerakkan oleh kemajuan dalam Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) membawa dampak positif sekaligus negatif. Salah satunya bakal hilangnya pekerjaan tertentu yang bakal digantikan kecanggihan internet of things (IOT), kecerdasan buatan dan aplikasi lainnya. Oleh karena itu dunia perguruan tinggi dihadapkan pada tantangan mempersiapkan mahasiswa untuk pekerjaan yang kini mungkin belum ada, menggunakan teknologi yang belum diciptakan, untuk menyelesaikan masalah yang belum eksis.

Untuk itu perguruan tinggi dituntut mendidik mahasiswa yang berkualitas, kompetitif, berkarakter, terampil dan memiliki semangat berwirausaha. “Oleh karena itu mahasiswa harus mendapatkan bekal literasi data, literasi TIK, dan literasi kemanusiaan. Dosen dan mahasiswa harus jadi pembelajar sepanjang hayat. Perkuat softskill, sebab kemampuan dan keterampilan di banyak hal bakal mendukung latar belakang keilmuan yang ditekuni,” ungkap Moh. Nasir. Rangkaian kuliah umum kemudian dilanjutkan dengan diskusi bersama mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi yang dimoderatori langsung oleh Rektor Universitas Jember. (iim)