Melihat Kreativitas Mahasiswa UNEJ Di Sunday Market Kreanova Dari Mr. Jabon, Burgreen, Hypoglory Sampai Pemanfaatan Limbah

Kreanova1

Jember, 23 Mei 2017

Sunday Market Kreanova Universitas Jember benar-benar menjadi ajang bagi mahasiswa Kampus Tegalboto untuk unjuk kreativitas, khususnya di bidang kewirausahaan. Seperti yang tampak dalam pelaksanaan Sunday Market Kreanova hari Minggu lalu (21/5), dimana 15 kelompok mahasiswa penerima dana Program Mahasiswa Wirausaha (PMW), dan 27 kelompok mahasiswa Jurusan Pendidikan Biologi FKIP peserta kuliah Pengetahuan Lingkungan turut memamerkan produknya. Keberadaan mereka ditambah para mahasiswa, dosen dan karyawan yang memang sejak awal menjadi pengisi tetap Sunday Market Kreanova.

Masyarakat Jember yang kebetulan berolahraga di Kampus Tegalboto pagi itu dimanjakan dengan berbagai produk inovatif yang disajikan, simak saja ada minuman Mr. Jabon alias Jamu Berkarbonasi yang menyehatkan sekaligus kekinian. Jika lapar ada Burgreen, burger sehat karena menggunakan roti dengan campuran sayur bayam dengan isian patty berupa tempe. Atau ingin membawa oleh-oleh sayuran sehat hasil pertanian hidroponik ala Kampus Tegalboto? Jangan khawatir ada Hypoglory. Suasana makin meriah dengan pameran hasil karya daur ulang dari para mahasiswa Jurusan Pendidikan Biologi FKIP, peserta kuliah Pengetahuan Lingkungan. Tidak hanya memamerkan karya, mahasiswa FKIP tadi menghibur pengunjung dengan tampilan tari dan nyanyi.

“Kami ingin agar kaum muda juga mau dan suka minum jamu. Akhirnya terpikirkan membuat jamu ala softdrink, maka jadilah Mr. Jabon atau Jamu Berkarbonasi,” tutur Taufiq dan Muhaimin, dua mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) pengagas jamu berkarbonasi. Ada dua varian rasa Mr. Jabon yang mereka bawa, rasa temulawak dan temulawak campur secang, serta minuman rasa kopi moka. “Dalam waktu dekat kami akan mengeluarkan rasa rosella,” ujar Taufik yang menjadikan rumahnya di Genteng, Banyuwangi, sebagai lokasi produksi. Untuk proyek Mr. Jabon yang digagas mereka berdua, Kemenristekdikti melalui PMW memberikan dana sebesar 14 juta rupiah.

Setiap bulan, Taufiq dan Muhaimin mampu memproduksi 40 krat minuman Mr. Jabon yang didistribusikan ke warung dan restoran yang ada di Banyuwangi, Jember bahkan Surabaya dengan harga lima ribu rupiah. Ide duo Taufiq dan Muhaimin ternyata mendapatkan respon positif, bahkan dalam waktu dekat mereka bakal membawa ide wirausahanya ke tingkat internasional. “Kami mohon doa restunya, bulan Juni 2017 nanti kami maju ke ajang Youth Entrepreunership Symposium di Singapura. Semoga kami mampu membawa nama Universitas Jember,” harap Taufiq dan Muhaimin.

Lain lagi dengan ide empat mahasiswa program studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) angkatan 2014, Ratri, Nita, Viva dan Rika. Mereka berempat sepakat membuat Burgreen, burger hijau sehat. “Makanan burger sudah populer, nah kami memberikan sentuhan sehat dengan roti yang mengandung bayam ditambah isian patty berupa tempe, bukan daging. Sehat namun murah, terjangkau kantong mahasiswa,” jelas Ratri. Setiap harinya, Ratri dan kawan-kawan mampu membuat 60 Burgreen yang dijual di kantin FEB, FKG dan FKIP.

Kreanova1

Jika kebanyakan mahasiswa penerima dana PMW berwirausaha di bidang makanan, lain lagi dengan Sumini Ayu, Fardatul, Desi dan Nadine. Empat mahasiswi FTP  ini memilih berwirausaha berdasarkan keilmuan yang telah mereka dapatkan di bangku kuliah. Mereka sepakat untuk bertani sayur dengan cara hidroponik dengan merk Hypoglory. Hasilnya setiap bulan mereka bisa memanen 14 hinga 25 kilogram sayuran seperti selada, siomang, kailan serta sawi pagoda.  “Setiap kilonya kami jual 25 ribu hingga 30 ribu rupiah, tergantung jenis sayurnya. Biasanya sudah ada pengepul yang menampung produksi kami, ke depan kami ingin melayani langsung pembeli melalui media sosial dan memasukkan produk Hypoglory ke supermarket sehingga tidak bergantung pada pengepul,” tutur Sumini Ayu yang asal Lamongan ini.

Sementara itu, Hadi Paramu, pembina PMW Universitas Jember menjelaskan jika pilihan berwirausaha di bidang makanan banyak dipilih karena bisnis makanan lebih mudah diterima pasar, memiliki perputaran uang yang cepat, serta relatif mudah diaplikasikan. “Namun ke depan kami mendorong mahasiswa agar berani mencoba pilihan usaha lainnya agar tidak terkonsentrasi pada bisnis makanan saja. Selain itu untuk pelaksanaan PMW tahun 2017, seleksinya bakal diperketat agar benar-benar mampu menghasilkan wirausaha yang tangguh,” kata dosen FEB ini.

Sunday Market Kreanova juga menjadi ajang bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FKIP yang mengambil mata kuliah Pengetahuan Lingkungan. Tidak hanya mendapatkan ilmu di bangku kuliah, mereka wajib mengaplikasikan ilmu dalam kehidupan nyata. Maka muncul ide-ide seperti kap lampu dari kardus, puding dari isi nangka, nugget jantung pisang, puding kelor atau selai dari kulit buah naga. “Kami mendorong mahasiswa yang menempuh mata kuliah Pengetahuan Lingkungan untuk mewujudkan ide-ide kreatifnya dalam bentuk produk, kebetulan tema tahun ini adalah pemanfaatan limbah,” ujar Wachju Subchan, dosen pengampu mata kuliah Pengetahuan Lingkungan yang juga Wakil Rektor II Universitas Jember.

Kreanova1

Suasana Sunday Market Kreanova, makin meriah dengan penampilan kesenian jaranan dari kelompok Paksi Jatra Cemeti Amarosuli, yang menampilkan tarian dan atraksi bambu gila. “Kami mengharapkan Sunday Market Kreanova menjadi ajang menampilkan produk kreatif dari dosen, karyawan dan khususnya para mahasiswa Universitas Jember. Pada setiap kali pelaksanaan, kami berusaha menampilkan berbagai kegiatan positif yang menghibur, seperti senam bersama, penampilan berbagai bentuk kesenian serta atraksi lainnya. Sunday Market Kreanova kali ini istimewa karena mendapatkan kunjungan tamu dari Cranfield University, Inggris,” kata Soni Sisbudi Harsono, koordinator Sunday Market Kreanova. (iim)

Blog Attachment