Mahasiswa Universitas Jember Sulap Kotoran Ternak Dan Limbah Kulit Kopi Menjadi Media Pembibitan Cabai Rawit

KembarUNEJ-2-768×512

Jember, 18 Juli 2018

Maghfirotus Sibyan mahasiswa Jurusan Agroteknologi Universitas Jember prihatin melihat kondisi lahan pertanian di wilayah desa Sucopangepok Kec. Suger Jember. Pasalnya, di lahan yang mayoritas ditanami dengan cabai rawit itu banyak sekali ditemukan sampah plastik bekas polibag dari pembibitan cabai rawit. Sadar sampah plastik sangat sulit diurai dan mencemari lingkungan membuat Maghfiro berfikir untuk membuat media pembibitan yang ramah lingkungan yang di beri nama Kosmoly (Kompos Blok Non-Polybag).

“Saya prihatin karena plastik bekas polybag ini dapat merusak lingkungan sehingga dapat merusak kesuburan dan produktifitas tanah. Oleh karena itu saya mengajak beberapa orang kawan saya untuk membuat inovasi media pembibitan yang ramah lingkungan dengan biaya yang cukup murah dan bisa dijangkau oleh petani.”

Maghfiro dengan ditemani tiga orang kawannya dari Fakultas Pertanian Universitas Jember Feri Dwi Putra Suhartono, Muhammad Aly Firdaus, dan Meida Cahyaning Putri mencari segala potensi yang ada di Sucopangepok untuk dijadikan media pembibitan.

“Dari hasil menggali potensi kemudian diputuskan untuk mengkombinasikan kotoran ternak dengan limbah kulit kopi dan bekatul (kulit padi). Bahan itu kemudian dicampur dan difermentasi selama satu minggu dengan EM4. Setelah itu campuran tersebut di cetak bulat dan dibungkus daun pisang sebagai pengikat” ujar Maghfiro.

Maghfiro mengatakan, Kosmoly yang dibuatnya bersama warga setempat mampu meningkatkan daya tahan pada bibit cabai rawit terhadap penyakit. Penggunaan pupuk kimia untuk meningkatkan pertumbuhan bibit juga tidak perlu dilakukan. Karena Kosmoly berfungsi sebagai pupuk organik.

“Kosmoly tidak hanya sebagai media tumbuh tetapi juga sekaligus menjadi pupuk alami bagi bibit cabai rawit. Jadi sejak dari bibit sudah diperlakukan secara organik sehingga daya tahan terhadap penyakit lebih kuat terbukti bibit cabai rawit yang ditanam di Kosmoly berdaun lebih lebat,” imbuh gadis kelahiran Lamongan ini.

Maghfiroh menjelaskan, selain berbiaya murah Kosmoly sangat ramah lingkungan. Penggunaan daun pisang sebagai pengganti plastik polybag membuat Kosmoly tidak mengandung limbah yang merusak lingkungan.

“Media tanam yang lama biasanya menggunakan plastik polybag, tentunya plastik ini dapat merusak tanah karena sifatnya yang sangat sulit terurai. Namun Kosmoly tidak demikian, daun pisang pengganti plastik justeru sangat mudah terurai dan sekaligus bisa menjadi kompos sebagai tambahan zat Hara dalam tanah sehingga bibit cabai semakin tumbuh subur dan tahan penyakit,” imbuh mahasiswi Fakultas Pertanian ini.

Maghfiroh berharap, Kosmoly bisa digunakan oleh masyarakat Desa Sucopangepok untuk media pembibitan semua jenis tanaman. Karena nilai produksinya yang sangat ekonomis membuat Kosmoly layak untuk dijadikan sebagai pengganti plastik Polybag.

“Kedepannya kami harap semua pembibitan menggunakan Kosmoly. Tidak hanya pembibitan namun juga sebagai media tanam pengganti tanah dengan itu nantinya bisa dibuat usaha tanaman sayur organik. Siapa tau bisa dikembangkan menjadi wisata organik mengingat di Sucopangepok ada air terjun yang cukup bagus,” pungkasnya.