Mahasiswa Universitas Jember Minati Usaha Di Bidang Kuliner

Jember, 17 Maret 2016

Usaha kuliner rupanya saat ini banyak diminati oleh kalangan mahasiswa Universitas Jember yang mencoba belajar memulai bisnis. Hal ini dibuktikan dari 33 usulan usaha yang lolos mendapatkan dana melalui Program Wirausaha Mahasiswa (PMW) Universitas Jember, 25 proposal usaha berupa bisnis kuliner. Tengok saja usaha seperti Seblak Abah Pasundan, P-Best (Pentol Berselimut), Roti Pasir, SITIK (Nasi Stik) dan deretan usaha dengan nama unik nan kreatif lainnya.

Menurut Dewi Prihatini, PhD, anggota Task Force PMW Universitas Jember 2015, pada tahap awal tercatat tigaratusan proposal usaha yang masuk. Proposal usaha ini kemudian wajib melalui dua tahapan seleksi. Seleksi tahap pertama meliputi kelayakan bussines plan, kelengkapan administrasi, dan keunikan usaha. Seleksi tahap pertama meloloskan 95 peserta. Mereka kemudian menjalani seleksi tahap kedua berupa psikotes dan wawancara. “Pada seleksi tahap kedua ini kami menganjurkan peserta yang memiliki proposal usaha yang sama untuk berkelompok. Akhirnya ada 33 usaha yang kita danai,” jelas Dewi di sela-sela kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) peserta PMW 2015 (17/3). Selain usaha kuliner, terdapat juga usaha layanan kost, peternakan, pertanian dan lainnya.

Selanjutnya Dewi menjelaskan, dalam PMW 2015 ini seluruh mahasiswa yang lolos seleksi telah mendapatkan bantuan modal sesuai dengan yang mereka ajukan. Saat ini mereka sudah dalam proses menjalankan usaha sesuai dengan proposal yang diajukan. “Nantinya tiap penerima bantuan modal, wajib melaporkan perkembangan usaha yang mereka jalankan secara berkala. Untung ataupun rugi mereka wajib melaporkan pada kami selaku tim Monev, dan jangan lupa mereka punya kewajiban melakukan pengembalian modal,” ujar dosen Fakultas Ekonomi ini.

Dewi juga mengamati, trend mahasiswa terjun dalam dunia usaha kuliner, karena dalam usaha kuliner relatif tidak diperlukan banyak modal yang harus diinvestasikan. “Mungkin cukup dengan modal lima ratus ribu mereka sudah bisa memulai usaha kuliner yang mereka inginkan, itu sudah termasuk peralatan dan bahannya, tentunya hal ini cukup ekonomis bagi kantong mahasiswa,” katanya. Dewi lantas menambahkan, usaha kuliner memang selalu banyak peminat. Bisnis makanan itu tidak ada matinya, karena semua orang butuh makanan, baik makanan utama atau camilan.

Pendapat Dewi ini dibenarkan oleh salah seorang penerima bantuan dana PMW 2015, Mika Novilianingtyas. Mika mengaku memilih bisnis bidang kuliner karena dipandang sebagai usaha yang menjanjikan. Menurutnya bisnis makanan adalah bisnis yang tidak akan ada matinya. Mika bersama dua orang kawannya sepakat memulai usaha kuliner Seblak Abah Pasundan dengan modal empat juta rupiah yang didapat dari PMW 2015. “Seblak ini kan di Jember belum banyak yang jual. Kebetulan ada kawan saya yang asli Pasundan yang paham betul mengenai masakan seblak, kami modifikasi baik dari rasa maupun topping-nya dan jadilah seblak yang enak, nikmat dan mantap,” papar mahasiswi Fakultas Sastra berpromosi. Pilihan membuka usaha seblak juga didorong ketersediaan bahan baku yang berlimpah, sehingga memudahkan dalam proses produksi.

Kini, Mika dan kawan-kawan dalam seharinya mampu memproduksi 30 sampai dengan 40 porsi seblak dengan omset rata-rata tiga ratus sampai empat ratus ribu rupiah. “Setiap porsi kami jual dangan harga enam ribu sampai sepuluh ribu rupiah, tergantung dengan topping dan ukuran porsi yang diinginkan. Alhamdulillah, selama ini tidak pernah kosong dari pesanan. Kami juga membuat perhitungan yang cermat, agar setiap kali produksi tidak ada sisa, apalagi seblak yang basi,” ujar gadis asal Purbalingga yang lebih memilih memasarkan seblaknya secara online.(mun/lid/iim).

Leave us a Comment