Mahasiswa Universitas Jember Kampus Lumajang Berlatih Praktek Klinik Berbasis OSCE

OSCE_UNEJ-3-768×432

Lumajang, 2 April 2019

Keterampilan merawat pasien dengan mengedepankan kecermatan, ketepatan dan kecepatan mutlak dimiliki oleh setiap perawat. Pasalnya hidup pasien bergantung pada perawat, terutama di saat-saat kritis. Oleh karena itu Program Studi Diploma Keperawatan Universitas Jember Kampus Lumajang terus berusaha membekali mahasiswanya keterampilan keperawatan yang sesuai dengan tuntutan perkembangan jaman. Salah satu yang dilakukan adalah melatih mahasiswa dalam kegiatan Objective Structured Clinical Examination (OSCE). OSCE adalah suatu metode untuk menguji kompetensi klinik mahasiswa secara obyektif dan terstruktur, dalam bentuk putaran station dengan waktu tertentu. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas mahasiswa dalam penerapan praktek keperawatan klinik.

Dalam kegiatan OSCE, mahasiswa ditantang melakukan delapan stasiun praktek klinik keperawatan dalam waktu tertentu. Pada stasiun pertama, mahasiswa memasang kateter (selang kemih), dilanjutkan pemasangan NGT (pemasangan selang melalui hidung) di stasiun kedua. “Lantas mahasiswa melakukan tindakan nebulizer atau memasukkan obat melalui uap di stasiun ketiga. Stasiun keempat merupakan stasiun perawatan bayi, stasiun lima adalah pemeriksaan untuk ibu hamil, stasiun keenam perawatan payudara. Sementara  stasiun ke tujuh merupakan stasiun perawatan relaksasi otot progresif, dan diakhiri dengan penyuluhan di stasiun terakhir,” jelas Musviroh, dosen penanggujawab kegiatan OSCE.

Kegiatan praktek klinik berbasis OSCE ini diikuti oleh 79 mahasiswa semester empat dan diselenggarakan sejak tanggal 29 Maret hingga 2 April 2019. Untuk diketahui delapan stasiun yang dilatihkan adalah merupakan perpaduan berbagai mata kuliah, dari keperawatan medikal bedah, keperawatan anak, keperawatan maternitas serta keperawatan jiwa. Praktek klinik berbasis OSCE sekaligus menjadi praktek dari beberapa mata kuliah yang sudah diberikan kepada mahasiswa, sebelum mereka praktek di rumah sakit.

‘’Praktek klinik berbasis OSCE ini penting untuk dilakukan, mengingat nantinya mahasiswa akan terjun langsung ke lapangan. Kegiatan ini dapat menguji kesiapan mahasiswa karena dalam OSCE mahasiswa dilatih berkomunikasi dengan pasien, dan bagaimana menjaga keamanan pasien. Mahasiswa juga dituntut memiliki kemampuan penampilan yang profesional ditunjukkan dengan cara menganalisa kondisi pasien, serta memiliki merencanakan tindakan asuhan keperawatan apa yang perlu dilakukan secara tepat dan terarah,” tutur Musviroh lagi.

Untuk melancarkan kegiatan praktek klinik berbasis OSCE ini, Program Studi Diploma Keperawatan Universitas Jember Kampus Lumajang sengaja menyiapkan ruangan semirip mungkin dengan kondisi di sebuah rumah sakit. “Diharapkan mahasiswa dapat berpraktek semirip mungkin dengan kondisi nyata, agar nantinya tidak gagap saat membantu pasien. Kuncinya perpaduan antara keterampilan dan kemampuan berkomunikasi yang baik dengan pasien, dengan kata lain bagaimana memanusiakan pasien. Mahasiswa yang sudah lolos gemblengan OSCE Insyaallah sudah siap terjun ke kondisi nyata,” imbuh Musviroh.

Kharisma, salah satu mahasiswa peserta OSCE bersyukur dapat melalui kegiatan OSCE. ‘’Kegiatan ini benar-benar menguji keterampilan kita, bayangkan delapan mata kuliah disatukan menjadi satu praktek klinik, sungguh memacu adrenalin. Mendebarkan, tapi dari sini saya dapat mengetahui sejauh mana skill yang saya miliki, bagaimana kemampuan berkomunikasi, serta penampilan saya sebagai seorang mahasiswa Diploma Keperawatan. Alhamdulillah penampilan saya tidak mengecewakan,” katanya. Untuk menghadapi OSCE, Kharisma belajar ekstra agar lulus.

Sedikit berbeda dengan Kharisma, M. Zaki Ismail menuturkan mengalami sedikit kesulitan di stasiun pertama. “Saya mengalami kesulitan saat pemasangan kateter, maklum harus dilakukan dengan ekstra hati-hati sebab salah memasang maka akan berakibat fatal. Menurut saya stasiun pertama adalah yang paling sulit dibandingkan stasiun lainnya. Penampilan saya di OSCE kali ini kurang memuaskan, namun nanti saya perbaiki lagi di OSCE mendatang,” pungkas M. Zaki Ismail. (tim Kampus Lumajang)